SAMO MENCARI CINTA HINGGA KE SURGA
(Terinspirasi puisi-puisi Amato Assagaf)
Oleh: Iverdixon Tinungki
PANGGUNG:
Di panggung imajinir itu, segalanya serba putih. Bangku putih, kursi putih, mejah putih, bebunga putih, pohon kering berwarna putih. Kain-kain putih bergelatungan.
BABAK I:
(Saat lampu menyala, Samo berdiri di tempat yang terlihat semacam mimbar. Tatapannya lurus ke depan menyambut kematian yang segera akan tiba. Tak jauh darinya nampak Judas dengan pestol yang di arahkan ke sisi kanan kepala Samo.)
Samo:
Andai aku bisa membujuk Tuhan untuk mencintaimu sekali lagi, betapa lapangnya kematianku, Ariana!
(Sesaat kemudian pestol itu menyalak. Bunyi tembakan itu membuat lampu mendadak padam. Saat lampu kembali menyala, Samo masih di tempatnya semula, dan Ariana duduk di sebuah kursi sambil bersenandung.)
Samo:
(Berkhotbah)
Hanya seni tak akan mati kendati aku telah dibunuh berkali-kali. Dan kalian pasti orang-orang yang haus akan kebenaran. Kalian datang ke pertunjukan ini, tentu karena alasan itu, selain menghibur diri. Kalian hendaknya tidak pesimis dengan mimbar-mimbar agama kendati di sana selalu ada sekelompok orang yang merancang kecurangan dan mengkhotbahkan kebencian. Karena kebenaran hanya akan ada pabila kalian hadir di sana memperjuangkannya. Kalian juga jangan pesimis dengan mimbar-mimbar politik, kendati kebaikan hanya berhenti pada slogan yang mereka teriakan dengan semangat palsu. Rebutlah mimbar-mimbar itu untuk kebenaran yang kalian yakini. Namun, karena kalian sudah di sini, mari kita mulai pertunjukan ini!
(Samo ganti bersenandung. Ariana memainkan monolog.)
Monolog Ariana:
Namaku Ariana, di masa pengganyangan PKI, aku diperkosa. Ayah dan ibuku terbunuh oleh stigma politik yang tak mereka pahami, karena mereka hanya petani. Usiaku baru tiga belas tahun ketika itu. Aku mengandung entah anak siapa. Aku digilir seperti binatang. Menangis? Menangis tak penting, karena air mata tak berharga di mata kekuasaan yang buta. Hari ini saat generasi kini tak lagi peka akan sejarah, bagaimana aku menceritakan kisah hidupku? Begitulah hidupku di dunia ini, begitu letih dan penuh kerinduan. Yang kupunya hanya putus asa. Hanya itu yang akan kubawa menuju surga untuk, Samo.
(Terdengar tembakan. Lampu mendadak padam.)
BABAK II:
(Arak-arakan teatrikal, orang-orang bergaun putih yang dipimpin Judas. Mereka bernyanyi di bawah langit yang bercahaya dan angin menerpa dari surga.)
Lagu Orang-orang:
Kulepaskan Jubahku.
Telanjang mencari wahyu tak bermula.
Tempat dari mana udara ketakutan
Mengisi paru-paru sejarah.
Bagaimana kau akan menafsirkan tembok
dengan tangan yang melupakan puisi?
Bagaimana kau akan menafsirkan tembok
dengan tangan yang melupakan dirimu sendiri?
(Beberapa orang masuk mendorong kereta kayu bermuatan Samo yang tersalib. )
Samo:
(Mengerang dan berteriak sekerasnya.)
Aku tak pernah mati! Aku hanya pergi meninggalkan hasrat daging, perayaan tubuh dan pertukaran nafsu. Aku meninggalkan segala yang tak suci dan patut dimaki. aku meninggalkan semua mimpi yang tak menemukan pagi. Semua warna-warni hidup yang kekurangan imajinasi. Hanya aku, Samo yang tak akan pernah mati. Aku seni sejati.
(Semua orang mengarahkan senjata ke arah Samo, mengelilinginya dalam putaran sambil bernyanyi.)
Lagu Orang-orang:
Aku melihatmu berduka
dan tembok itu masih kosong.
Aku tahu, Samo sudah mati.
Samo:
Ariana di mana engkau!
Ariana di mana engkau!
Andai aku bisa membujuk Tuhan untuk mencintaimu sekali lagi, betapa lapangnya kematianku, Ariana!
(Di satu sisi nampak Ariana sedang terisak sendiri.)
Ariana:
Aku di sini Samo. Aku di sini, perempuan yang tak patut kau cintai. Dengan puisi kau menghidupkanku. Dengan puisi pula kau membunuhku. Saat kau telah mencapai surga, ingatlah akan daku, Samo!
Lagu Judas:
Ia terus mencari cinta
Kendati itu hanya ada di surga
Aku Judas, dan Samo sudah mati.
Samo:
Sekujur puisi berisi udara cinta dan tanda tanya. Aku hidup sendiri dengan rindu yang membuat hidup. Aku pergi kepada bunda yang dicatat para nabi, namun dilupakan kaum samawi. Bahkan aku mencintai pelacur yang menangis di pagi hari. Ya Allah, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku.
Judas:
Tembak!
(Orang-orang menembak Samo, hingga terkulai di atas salib. Mereka kemudian membawa pergi Samo dari sana. Di panggung tersisa Ariana, seorang perempuan yang bersedih. Ariana menyeret sebuah kursi dan duduk di tengah-tengah ruang.)
Ariana:
(Monolog.)
Semua orang ingin membunuh Samo, ingin membunuh penyair. Saat ia menulis Tuhan, orang-orang membunuh Tuhan. Saat menulis kebenaran, kebenaran disingkirkan. Saat ia menulis cinta, cinta dihancurkan. Saat Tuhan mencintai Samo, Samo dibunuh.
Dalam sebuah puisinya, puitika Samo adalah bagian dari apa yang digambarkan Enrique Molina, seseorang yang melintas sendiri dalam gelombang El Bosco. Seperti menyelam ke Luka Tunggal Sang Pencinta, Alejandra Pizarnik. Ia adalah sesuatu yang halus. Begitu halus, sunyi dan sekarat namun tak memecah.
Imajinasinya melayang jauh meninggalkan postulat sistem logika formal masa kini. Dengan birahi yang menggeletar ia meninggalkan segala pengetahuan yang menjadi rutin sebagai pencatat kebenaran. Sesuatu yang dipandangnya telah menempatkan keabadian sebagai hal mencekam. Khotbah-khotbah yang disebutnya tanpa daun manakala embun mengkristal saat senafas ketakutan dihembuskan. Sekujur puisinya berisi udara cinta dan tanda tanya.
Namaku Ariana, dan Samo menuliskan puisi ini untukku:
(Ariana membaca lembaran-lembaran puisi itu.)
SIUL
di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana
ketika matahari terbit
gautama menjadi buddha
udara berubah tipis
di bawah pohon boddhi
burung-burung enggan berkicau
gautama bersiul
dunia memasuki abad dua satu
ariana hanya dongeng
yang aku ciptakan
di hari pemakamanmu
ketika matahari tenggelam
dan hari enggan jadi malam
ariana bersiul
aku tak pernah pulang
di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku Ariana
(Seusai puisi itu, Ariana mengeluarkan pestol dari saku bajunya lalu menembaki kepalanya. Lampu padam.)
BABAK III:
(Ariana mendorong Bunda di sebuah kursi roda ke ruangan itu hingga sampai ke salah satu sisi, lalu berhenti di sana. Suasana begitu indah dan tenang.)
Ariana:
Seperti kemarin dan hari-hari yang lain, matahari akan memendar di sini.
Bunda:
Kemarin dan hari-hari yang lain tak sama lagi meski matahari masih itu-itu saja, Ariana.
Ariana:
Iya, bunda benar, hanya perubahan yang abadi. Dulu bunda masih muda dan gesit. Kini bunda tengah menjalani hari tua. Tapi aku bahagia punya seorang bunda, saat semua orang tak mau menerimaku.
Bunda:
Ariana, dulu kau pernah bertanya padaku: pernahkah aku melihat malaikat? Sejujurnya aku ingin menjawab: di sini, di sepanjang hidupku, aku lebih banyak bertemu orang gila dari Edgar, orang-orang yang merasa dirinya sebagai benda. Ada yang merasa sebagai bunga, uang, peluru, sapi, bahkan layang-layang. Tak ada yang benar-benar dirinya sendiri. Hanya Samo yang tak kecut menantang kengerian yang mengintai tanah air ini.
Ariana:
Aku lebih beruntung Bunda, karena aku pernah melihat malaikat.
namun baiklah! aku harus mengaku:
aku termasuk orang gila yang berbahagia!
karena aku hidup di zaman ini
hidup di luar kekuasaan
dimana kesedihan diizinkan
aku berdiri di penghujung angkatan empat lima
dan awal angkatan enamenam
bau mesiu bertengger di ujung hidungku
namun kemerdekaan masih cerita piatu
tetapi, aku dibahagiakan Tuhan
dengan dua bola mata sebegitu gila
dan sebuah hati yang lembut,
merasakan hidup itu keajaiban
di usia tua ini, bayangkan!
aku bisa melihat burung layanglayang
burung layanglayang yang membawa pesan Tuhan
untuk puisiku. ya untuk puisiku
puisi yang mensyukuri setiap catatan tumbuh di bumi
seperti anak kecil yang percaya ada malaikat dalam mimpinya
dan mereka bahagia!
aku melihat burungburung gelatik meriangi hari
dari ranting ke ranting mereka bernyanyi
dan burungburung perantau mampir memperagakan
semangat hidup itu jangan sampai padam
karena kesedihan,
karena ketiadaan
aku melihat segala yang muram dari warna kehidupan
kaum pinggir yang percaya ada malaikat dan Tuhan
di sinilah aku dan puisiku tumbuh dalam perumpamaan
–lima ketul roti dan dua ikan
Bunda:
Kau adalah puisi yang merindukan cinta yang sebenarnya. Lalu Tuhan memberikan engkau tubuh, menitipkan nafas, dan menamakanmu, Ariana. Sayang… sayang sekali karena kau harus terpilih menjalani kehidupan yang hancur. Kita sama, Ariana. Kita adalah perempuan yang hancur karena keadaan, saat perempuan sekadar dipandang sebagai ranjang yang hangat. Pemuas lelaki, bahkan bonus bagi mereka yang ingin ke surga. Pandangan sempit ini menghacurkan perempuan. Sungguh sayang… sayang sekali…
Ariana:
Di usia 13 tahunku, di tengah gerakan politik paling durhaka, anak perempuan orang yang dituduh PKI seperti saya tidak berharga sama sekali. Bahkan agama sebagai benteng moral tak melihat kami. Pendoa-pendoa bersembunyi, penguasa-penguasa menutup mata. Orang-orang mengumpat dalam kebencian tanpa alasan atas nasibku yang koyak seusai digilir beberapa lelaki.
Bunda:
Kita sama. Aku hanya perempuan yang datang dari Eden yang diciptakan dalam pikiran patriarki. Makhluk yang dibentuk untuk alasan dosa. Distigma sebagai yang terkutuk dalam sejarah. Padahal, tanpa perempuan, sejarah tak akan pernah ada. Itu sebabnya, di dunia ini hanya ada dua orang yang mencintai kita pertama Samo dan kedua, Yesus. Karena hanya mereka yang mencintai kemanusiaan yang sebenarnya. Dan harus diingat, jangan sama sekali percaya pada penguasa, meski itu ditulis kitab suci dan diatur oleh undang-undang. Jangan percaya!
(Terdengar kebisingan dari suara- orang-orang saat mereka muncul di panggung berdoa, bernyanyi, penjual barang, pidato politik, ledakan senjata peperangan, raung tangis, mesin gergaji, angin ribut dan seterusnya. Lampu meredup kemudian padam.)
BABAK IV:
(Saat lampu menyala, di panggung semacam surga itu hanya ada Samo dan Judas.)
Lagu Judas:
(Bernyanyi)
Aku Judas, lelaki yang memikul nestapa,
lelaki yang harusnya tak dilahirkan.
Tapi dunia tak punya imajinasi tanpa aku, Samo.
Setiap hari kita dijerang ratusan desibel kebisingan
dan dunia terus menyempit.
Di mana-mana terdengar suara parau para pemanggil Tuhan,
seakan itu suvenir kehidupan di ujung jalan buntu.
Mau tak mau, kita dipaksa masuk perangkap itu.
(Berhenti sejenak,lalu monolog)
Aku jadi ingat Cesanne, ia melukis penculikan. Ia mencoba menyandingkan karyanya dengan karya Tuhan. Namun bagi Kafka itu hanya jalan lain di mulut kucing. Aku menjadi yakin, seyakin Algernon Blackwood saat menulis danau kesepian. Bahwa manusia mendapatkan bentuknya yang dina saat ia berdusta.
Samo:
Berapa kali engkau bertemu orang gila sepanjang hidupmu, Judas?
Judas:
Dalam hidup, siapa yang berani mengaku dirinya waras, Samo?
Samo:
Ketika aku jatuh cinta pada perempuan monet, perempuan berpayung di pinggir sebuah bukit, perempuan yang menatap jauh ke laut lepas, tiba-tiba aku merasa diriku sebuah kapal. Kapal tangguh dipenuhi lagu-lagu balini. Dan aku berusaha mendekati bukit itu, sedekat-dekatnya berlabuh. Apakah raut wajahnya pucat? Sumpah! hanya satu kubayangkan, yakni: kegembiraan berkeliaran di sana, seperti tanah timur gembur oleh cinta yang subur. Dan aku menunggu: menunggu saat-saat paling menggetarkan: akankah tangannya merangkulku? Merangkul semua yang kupercaya. Lupa kuceritakan, hari itu pulau-pulau bermandikan pendaran ultraviolet
dan mataku berkatarak, dan dada kiriku sesak! Dan sekali lagi aku bersumpah: itu perempuan monet! pasti dia! Perempuan seperti itu kurindukan! Namun saat usiaku lima puluh empat tahun aku menjadi yakin: perempuan itu sama sakali tak merindukanku! Tak merindukan segala yang kupercaya: tanah air dan sejarahnya! Hidup dan maknamaknanya! Tapi mengapa aku masih merasa bahwa aku ini sebuah kapal? Apakah kalian dengar yang dilakukan Edgar padaku? Aku ditangkapnya di suatu malam penuh permenungan, puisi-puisiku dibakarnya, tanah airku dikoyaknya! Dan aku dijebloskan ke sel terpencil rumah sakit jiwa Maison de Sante bersama seorang lelaki yang percaya bahwa dirinya sebuah gasing.
Judas:
(Terbahak)
Di dunia memang tidak ada yang waras. Dari ketidak warasan itu, orang-orang menciptakan surga dalam versi yang juga tidak waras. Mereka menciptakan aku Judas, sebagai sang antagonis dalam drama penyaliban Yesus. Lalu mereka membunuh Yesus dengan alasan menciderai agama dan kekuasaan. Betapa dramatiknya ketidakwarasan itu. Maka jangan heran Samo, saat engkau mencintai Ariana sang pelacur, orang-orang menganggapmu gila. Pernahkah engkau membaca kisah Judas Sang Pecinta? Aku menulisnya dalam The Dream Pablo Picasso. Begini ceritanya:
(masuk dalam Monolog)
barangkali ia hanya seekor kelelawar, ya kelelawar di udara malam mendesis. Kali pertama ia menyusup
aku tersihir nokturnal hamparan laut, kapal-kapal, sudut-sudut pulau, peta-peta dan impianku yang merantau. Ternyata ia gaduh yang memiliki tubuh! gaduh yang memiliki sumbu!
Maka, kurobek leher perempuan itu, kurobek dengan susah payah. Tetapi, ia terus saja menyebut namaku. Aku terpenjara oleh suaranya, oleh desisnya yang jelita.
Kami bercinta dengan amat jelita, saling menyentuhkan tubuh kata-kata. Aku kembali percaya, ia hanya kelelawar di udara malam yang mendesis dan cakar-cakar moleknya menggenitiku dengan solek.
Ada cermin segi empat di sebuah kamar hotel, ia bugil di depannya sekitar satu jam. kalian tahu apa yang terjadi? Cermin itu meleleh! Dan bulan tak berkedip.
Pukul empat sore, ia melangkah anggun di sebuah mall, busananya sederhana, bibirnya segores lipstik merah muda. Dan waktu berhenti mendetak. Semua mata mengikuti perlahan satu demi satu langkahnya. Kalian tahu karena apa? tak ada apa-apa sesungguhnya, tapi semua percaya ia jelmaan madona.
Maka, kurobek leher perempuan itu, kurobek dengan susah payah. Mengapa malam ini ia terus saja menyebut namaku. Kepalaku terkulai penuh ulat, penuh kutu, kutu dari suara jelmaan Madona itu.
Setiap pukul sembilan malam aku berdoa, tapi mengapa aku ikut mendoakan dia, mendoakan sayap-sayapnya yang anggun, mendoakan jangan sampai sayap bertiang rapuh itu patah, mendoakan perantauannya mengarungi gelap malam, mendoakan hatiku yang tak bisa lepas dari panggilannya.
Di sebuah sofa mendekati pagi, di jam yang sama saat Salvador Dali melukis The Persistence of Memory
aku seakan Gustav Klimt dari Vienna mencium pipi seorang gadis dikelilingi selimut emas, aku kembali jatuh cinta! Cinta yang luka!
(Judas menangis.)
Samo:
Manusia adalah individu yang bebas. Bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual. Manusia tidak lain adalah bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri.
Judas:
(Sedih)
Aku suka dengan pandangan kuno itu. Dan kau tahu, agama dan kekuasaan tak menyukai pandangan itu. Mereka menciptakan aku sebagai mitos bahkan alat untuk memaksa pandangan dan kehendak mereka.
Samo:
(Berkhotbah lagi)
Hanya seni tak akan mati kendati aku telah dibunuh berkali-kali. Dan kalian pasti orang-orang haus akan kebenaran. Kalian datang ke pertunjukan ini, tentu karena alasan itu, selain menghibur diri. Kalian hendaknya tidak pesimis dengan mimbar-mimbar agama kendati di sana selalu ada sekelompok orang yang merancang kecurangan dan mengkhotbahkan kebencian. Karena kebenaran hanya akan ada pabila kalian hadir di sana memperjuangkannya. Kalian juga jangan pesimis dengan mimbar-mimbar politik, kendati kebaikan hanya berhenti pada slogan yang mereka teriakan dengan semangat palsu. Rebutlah mimbar-mimbar itu untuk kebenaran yang kalian yakini. Namun, karena kalian sudah di sini, mari kita mulai pertunjukan ini!
Judas:
(Sambil menodongkan pestol ke Samo.)
Samo maafkan aku.
Samo:
Kau adalah seseorang yang sebaiknya tidak dilahirkan!
Judas:
Aku tak bisa mengubah sejarahmu yang akan berakhir di ujung pestolku. Maafkan aku, Samo!
(Saat Judas hendak menembak Samo, terdengar suara Bunda memanggil namanya.)
Suara Bunda:
Judas! Judas! Judas!
(Masuk Ariana mendorong kursi roda Bunda hingga suatu sisi panggung.)
Bunda:
Judas, dapatkah engkau mencintai udara dan belajar mencintai Samo. Dapatkah engkau belajar melihat hal-hal kecil yang tak terlihat oleh orang lain. Lihatlah Samo, dengan puisi-puisinya ia menantang kengerian yang mengitari negeri ini. Lihatlah Ariana yang mata hatinya dipenuhi ancaman horror dari kematian akan rasa cinta. Belajarlah melawan ajaran yang membuat engkau menjadi pribadi yang busuk. Saat aku melahirkanmu, aku berharap kau tak akan menjadi Judas.
Judas:
Bunda aku tak bisa memilih jalan sejarahku!
Bunda:
Kau harus bisa memilih.
Judas:
Tidak Bunda. Aku telah ditakdirkan untuk ini.
Buda:
Bisa! Kau yang menentukan arah sejarah hidupmu.
Judas:
Maafkan aku bunda!
(Judas menembak Samo. )
Samo:
(Dalam sekarat.)
Andai aku bisa membujuk Tuhan untuk mencintaimu sekali lagi, betapa lapangnya kematianku, Ariana!
(Samo terkulai jatuh. Ariana berlari mendekati Samo dan memeluknya dalam sedih.)
Ariana:
Di atas panggung, ia adalah mimpi tua
yang tak pernah bisa mati. Suaranya melengking
dari semangat yang getir. Geraknya sekelibat
duka dalam puisi-puisi Sapardi.
Dia selalu menolak untuk senantiasa ada
dengan membunuh dirinya di dalam lakonnya.
Lalu penonton terpanggang haru, waktu berjalan
mundur, dan setiap kata yang dia ucapkan berubah
menjadi burung-burung kecil yang meneteskan
cemas dari kepak sayapnya. Tapi dia akan lahir
kembali setelah itu. Setelah lakon usai dan
kesepiannya dimulai.
Di atas panggung, ia adalah tubuh yang mudah
untuk kita lupakan.
Keindahan yang membunuh nafsu
makan.
Kebenaran yang murung dan menjengkelkan
seperti cerita Tuhan yang terluka di bukit Golgotha.
Tapi dia bertahan.
Naif bagi kebebalan kita, sengak
bagi kecemburuan kita. Menyusuri Jakarta dengan
setangkai mawar patah, dia mencari panggung untuk
sebentar melupakan satu-satunya takdir yang selalu
mengganggu tidurnya; dirinya sendiri.
Di tempat itu,
di bawah cahaya, di luar dirinya, di depan berpasang-
pasang mata, dia akan menafsirkan ulang seluruh
pengetahuan kita tentang manusia.
Bunda:
Judas, karena kau telah memilih jalan sejarahmu. Tuntaskanlah. Biarkan bunda punya kesedihan sendiri. Punya air mata sendiri untuk lakon ini.
(Ariana bersenandung. Sementara Judas, dengan dihantui rasa bersalah akhirnya bunuh diri dengan pestolnya. Ia jatuh tersungkur.)
Bunda:
adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini
bukan menunggu
tidak menghitung
hanya mengabur
sebuah garis merah
pada hari ke dua belas
kabar itu tiba
kau bunuh diri dengan mata
yang masih menyanyi
apakah aku harus menangis
atau mengingat bau rambutmu?
adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini
hujan tidak turun
hari belum senja
(Terdengar kebisingan dari suara- orang-orang saat mereka muncul di panggung berdoa, bernyanyi, penjual barang, pidato politik, ledakan senjata peperangan, raung tangis, mesin gergaji, angin ribut dan seterusnya. Lampu meredup kemudian padam.)
Manado 15 Februari 2026.
Iverdixon Tinungki
Dilarang dipentaskan tanpa seizin pengarang.
Barta1.Com


Discussion about this post