Manado, Barta1.com – Manado Book Party hadir sebagai ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin menumbuhkan kecintaan terhadap literasi. Di komunitas ini, membaca bukan sekadar aktivitas sunyi, melainkan proses yang dilanjutkan dengan saling berbagi isi dan makna dari buku yang telah dituntaskan.

Gagasan ini berawal dari semangat tiga penggagasnya, yakni Sinta Kusumaningayu, Orchid Waskito, dan Rasmianti Halim. Berbekal pengalaman dan keresahan yang sama, mereka bersepakat membangun ruang literasi yang inklusif di Kota Manado.

Berlokasi di berbagai sudut kawasan Manado, beralaskan hamparan rumput, komunitas ini perlahan bertumbuh. Dari pertemuan awal yang hanya dihadiri tiga orang, kemudian lima, kini setiap agenda bisa diikuti hingga dua puluh lima peserta. Ruang-ruang yang dulu terasa kosong, kini terisi oleh semangat membaca dan diskusi.
Menurut Sinta, inspirasi membangun komunitas ini lahir dari pengalaman mereka menempuh pendidikan di Yogyakarta. Di kota tersebut, budaya membaca dan berdiskusi tumbuh kuat, sementara di Manado ruang serupa masih terasa minim.
“Membangun Manado Book Party ini tergerak dari apa yang kami lihat di Jogjakarta. Di sana, ruang membaca dan diskusi sangat kuat. Sementara di Manado terasa kosong, jadi kami mencoba mengisi ruang kosong itu,” ungkap Sinta saat diwawancarai, Minggu (15/02/2026).
Cikal bakalnya juga tak lepas dari gerakan Indonesia Book Party yang lebih dahulu hadir di Jakarta. Ketertarikan untuk bergabung sempat muncul, namun karena belum ada cabangnya di Manado, ketiganya memutuskan membangun komunitas sendiri dengan nama Manado Book Party. Kini, Sinta dipercaya menjadi ketua pada periode berjalan.
Sebelum mendirikan komunitas ini, Sinta pernah bergabung dalam sejumlah ruang literasi. Namun, ia merasa orientasinya berbeda karena diskusi lebih banyak terfokus pada pengantar politik dan topik tertentu saja.
Di Manado Book Party, setiap orang dibebaskan membaca buku apa pun, lalu membagikan hal-hal penting yang mereka tangkap.
“Membaca buku itu adalah proses, tentang bagaimana kita menangkap, memahami, lalu membagikannya. Dari situ terlihat sejauh mana seseorang memahami apa yang dibacanya,” tutur Sinta sambil tersenyum.
Ia menegaskan, membaca adalah perjalanan personal setiap individu. Ke depan, komunitas ini juga ingin menjangkau siswa-siswi sekolah, membangun pendekatan yang menyenangkan agar membaca tidak lagi dianggap membosankan.
“Kami ingin menjelaskan kepada mereka bahwa membaca buku itu tidak membosankan. Justru dari sana bisa tumbuh ketertarikan terhadap buku yang mereka pilih sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus teknologi. Kebiasaan menggulir layar ponsel kerap menghadirkan kesenangan sesaat yang membuat orang enggan membuka buku. Karena itu, pendekatan yang dilakukan adalah menyesuaikan bacaan dengan minat masing-masing individu.
Tak berhenti pada kegiatan membaca dan berbagi, Manado Book Party juga mulai mengembangkan diskusi tematik. Mereka pernah mengangkat isu feminisme, dan berencana membahas topik kesehatan mental melalui kolaborasi dengan komunitas cegah bunuh diri, mengingat meningkatnya jumlah penyintas belakangan ini.
Kini, setelah genap berusia dua tahun sejak dibentuk pada 18 Februari, Manado Book Party terus berbenah dan berharap dapat terus beregenerasi. Informasi kegiatan membaca dan berbagi yang digelar dua minggu sekali dapat dipantau melalui akun Instagram @ManadoBookParty. Kegiatan biasanya berlangsung di area kawasan Manado, dan akan berpindah ke kafe terdekat jika hujan turun.
“Jika ada yang ingin bergabung, silakan pantau Instagram kami di Manado Book Party,” pungkas Sinta. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post