Manado, Barta1.com – Putra daerah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sekaligus Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), Taufik Tumbelaka, angkat bicara terkait persoalan yang menimpa almarhumah E, mahasiswi tingkat akhir Universitas Negeri Manado (Unima), Rabu (31/12/2025).
Taufik menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kehilangan besar bagi daerah.
“Kita baru saja kehilangan satu aset atau sumber daya manusia (SDM) yang sangat berharga. Dampak dari persoalan ini sangat besar. Karena itu, Pemerintah Provinsi Sulut, baik Gubernur maupun Bupati/Wali Kota, harus benar-benar memberi perhatian serius terhadap persoalan ini,” tegasnya.
Sebagai pengamat politik, Taufik juga menyinggung bahwa kehancuran suatu negara atau daerah dapat terjadi ketika sejarah, pendidikan, dan budayanya dihancurkan.
“Jika sejarah dan budaya dihancurkan, maka suatu bangsa atau daerah akan kehilangan identitasnya. Namun ketika pendidikan dihancurkan, maka yang hilang adalah masa depan,” tuturnya.
Ia kemudian menyinggung jika dirinya seorang dosen. Menurutnya, setiap laporan terkait dugaan pelecehan seksual harus segera ditindaklanjuti tanpa penundaan.
“Ketika ada laporan, harus ditangani hari itu juga. Jangan ditunda-tunda. Ibarat orang masuk rumah sakit dan dibawa ke IGD, tentu harus segera ditolong, bukan menunggu besok,” imbuhnya.
Taufik juga menyoroti kejanggalan terkait kematian almarhumah. Ia mendesak pemerintah agar mewajibkan setiap rumah kos memasang kamera pengawas (CCTV) guna memantau dan merekam kejadian-kejadian penting.
“Saya mendengar kos-kosan tersebut dalam kondisi sepi. Seharusnya ada CCTV agar bisa diketahui apa yang sebenarnya terjadi, apakah benar dugaan bunuh diri atau ada motif lain, misalnya adanya ancaman yang membuat korban mengalami tekanan berat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Taufik menilai pernyataan Rektor Unima, Dr. Joseph Philip Kambey, dalam berbagai kesempatan masih terkesan tidak tegas.
“Pihak kampus harus menelusuri kasus ini sampai tuntas. Jika dugaan terhadap dosen tersebut sudah lama diketahui, seperti yang beredar di media sosial, namun sanksinya hanya sebatas pembicaraan, maka itu sangat keliru. Dosen-dosen lain yang mengetahui persoalan ini juga harus diberikan sanksi tegas,” pintanya.
Ia menambahkan, jika penanganan kasus seperti ini berjalan lambat, maka hal tersebut mencerminkan minimnya kepedulian sosial. “Kalau sudah seperti itu, maka keberadaan dunia pendidikan dan pengajaran menjadi tidak bermakna,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh pimpinan kampus, mulai dari Rektor, Wakil Rektor UNIMA, beserta Dekan, hingga Wakil Dekan, harus bersikap tegas dan proaktif.
“Jangan hanya menunggu. Mulai hari ini harus ada sikap yang jelas dan nyata, jangan ditunda-tunda. Sampai saat ini, saya melihat sikap Rektor Unima belum menunjukkan kejelasan,” tegasnya kembali.
Taufik menekankan bahwa kasus kematian mahasiswi bukan persoalan sepele dan harus diinvestigasi secara mendalam.
“Urusan bantuan dan pendampingan memang penting, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana pihak kampus menunjukkan penghormatan terhadap almarhumah. Misalnya, dengan mengabadikan namanya pada sebuah ruangan atau kelas sebagai bentuk penghormatan dan pengingat bagi seluruh civitas yang ada,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perasaan orang tua korban.
“Persoalan mahasiswa bukan hanya soal kelulusan. Saat wisuda, bukan hanya anak yang bahagia, tetapi orang tua jauh lebih bahagia karena mereka telah bekerja keras membiayai pendidikan anaknya. Karena itu, kasus ini tidak boleh dianggap remeh,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post