• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Mei 27, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Menakjubkan, Museum Sulut Pamerkan Artefak Nusa Utara Dari Masa 2 Juta Tahun Lalu

by Iverdixon Tinungki
27 Mei 2026
in Sejarah
0
Fosil Gajah Purba Stegodon di Museum Sulut. (Foto: Iverdixon Tinungki)

Fosil Gajah Purba Stegodon di Museum Sulut. (Foto: Iverdixon Tinungki)

0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Catatan: Iverdixon Tinungki
Siang itu, 26 Mei 2026, saya di sana. Pendingin ruangan di Museum Sulawesi Utara melemparkan sejuk ke balik gerah yang dibawa angin laut Manado.
Di dalam gedung yang baru saja bersolek pasca-pembangunan kembali, saya berdiri terpaku di depan sebuah etalase. Cahaya lampu sorot yang temaram jatuh di atas permukaan sebuah benda purba yang gagu, namun menyimpan riuh rendah masa lalu.
Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya sebongkah batu tua atau serpihan rapuh yang tak bernyawa. Namun bagi saya yang lahir dan tumbuh dengan asin laut Kepulauan Sangihe dan Talaud, benda itu adalah jawaban dari sebuah bisikan yang telah lama menggantung di udara: Dari manakah kita berasal? Dari manakah sejatinya kita datang?
Selama ini, menyisir sejarah negeri kepulauan seluas 2.290,76 kilometer persegi itu seolah-olah baru dimulai kemarin sore. Buku-buku sejarah formal gemar mematok garis awal pada abad ke-16, ditandai dengan berdirinya sembilan kerajaan samudera yang gagah. Kerajaan-kerajaan yang mengelola pemerintahan tradisional dengan corak yang sangat beragam.
Namun, waktu adalah pencuri yang kejam. Hampir tidak ada catatan yang berhasil mendeskripsikan bagaimana rupa batu yang masih tersusun di atas pondasi istana masa lalu kerajaan-kerajaan samudera itu. Sejarah fisik hancur, sengaja atau tidak, oleh ketidakpedulian.
Hingga pertengahan 1970-an, sejumlah artefak fisik dari era kerajaan Siau di Kota Ulu dibiarkan terlantar, membusuk dimakan cuaca, dan akhirnya runtuh menjadi debu.
Dua dekade kemudian, pada tahun 1990, nasib tragis yang sama menimpa jejak-jejak silam di Enemawira, Tabukan, dan Manganitu di Sangihe. Jejak itu benar-benar nyaris lenyap, menyisakan ruang kosong dalam memori kolektif.
Sejarah Nusa Utara kemudian mengungsi ke dalam ruang-ruang mistis: menjadi legenda yang dituturkan pengantar tidur, mitos yang ditakuti, sastra lisan, dan tradisi yang hidup lamat-lamat dalam ingatan massal masyarakat setempat.
Di luar itu, di bawah abad ke-15, adalah kegelapan. Sulit menemukan fakta yang masuk akal untuk menjelaskan eksistensi Nusa Utara—sebuah nama yang ironisnya baru disematkan pada tahun 1974 oleh A. Maluegha, sebagai terjemahan dari istilah kolonial Belanda, Noorder Eilanden.
Tetapi di dalam museum Sulut, tabir rahasia itu perlahan tersingkap. Sains, dengan ketelitiannya yang dingin namun jujur, memberikan berkas cahaya yang benderang. Melalui pernak-pernik kecil yang berhasil diselamatkan dan tersimpan di Museum Sulut, yang meretihkan kesadaran  bahwa wilayah ini bukan sekadar titik terluar di peta.
Ia adalah beranda depan peradaban, sebuah jembatan megah yang menghubungkan daratan Asia dengan luasnya Samudera Pasifik.
000
Di Museum itu, saya dihela membayangkan Nusa Utara di sebuah masa ketika bumi dicekam dingin yang luar biasa. Sekitar 2,5 juta tahun lalu, pada kala Plestosin, parameter astronomi bumi bergeser. Posisi planet kita terhadap matahari berubah, memicu penurunan suhu yang sangat drastis. Bumi memasuki zaman glasial—Zaman Es.
Air di bumi membeku, terkunci menjadi gunungan es raksasa di daerah kutub. Dampaknya terhadap kepulauan Nusa Utara sangat dramatis: permukaan air laut surut hebat. Laut Cina Selatan dan Laut Jawa yang semula bergelombang, berubah menjadi daratan kering yang luas. Jembatan daratan raksasa tercipta, menyatukan daratan Asia dengan pulau-pulau di Asia Tenggara.
Di sinilah kisah spektakuler Nusa Utara itu dimulai.
Melalui jembatan daratan yang melintasi Filipina menuju Sulawesi Utara inilah, kawanan gajah purba—Stegodon—melakukan migrasi akbar. Mereka berjalan melintasi apa yang kini kita sebut sebagai Kepulauan Sangihe Talaud, mencari vegetasi dan ruang baru untuk bertahan hidup seiring berubahnya lanskap bumi.
Begitulah hayatan saya terhadap artefak fosil gading dan geraham binatang tersebut yang ditemukan di Desa Pintareng, Tabukan Selatan, Sangihe, yang terpanjang di etalase Museum Sulut, saat ini.
Para pakar dari Museum Geologi Bandung dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta mengonfirmasi temuan itu sebagai fosil Stegodon yang hidup sekitar 2 juta tahun lalu.
Penemuan di Pintareng ini bukan sekadar tambahan koleksi museum; ia adalah bukti tak terbantahkan bahwa jutaan tahun lalu, Nusa Utara dan umumnya Sulawesi Utara adalah habitat subur bagi mamalia raksasa ini, sejajar dengan temuan serupa di Sangiran (Jawa Tengah), Lembah Cabenge (Sulawesi Selatan), dan Lembah Besoa (Sulawesi Tengah).
Mereka hidup berdampingan dengan badak purba (Rhinoceros) dan kerbau purba di bawah langit Plestosin yang keras.
Ketika Zaman Es berakhir dan es perlahan mencair, air laut kembali naik dengan serakah. Jembatan daratan itu tenggelam, menyisakan sebuah lanskap baru yang eksotis: jazirah Pulau Sulawesi dan gugusan kepulauan di utaranya yang terdiri lebih dari 150 pulau.
Lembah yang tenggelam meninggalkan karakter alam Nusa Utara yang khas dan dramatis hingga hari ini.
Sebuah wilayah di mana dataran tinggi lebih luas dari dataran rendah, dikepung oleh barisan gunung berapi aktif—termasuk yang bersembunyi di bawah permukaan laut.
Di bawah keindahan karang-karangnya, kerak bumi daerah ini berada tepat di zona subduksi, titik benturan dahsyat antara lempeng tektonik Pasifik, Filipina, Australia, Sangihe, dan Halmahera. Nusa Utara lahir dari api, es, dan benturan lempeng-lempeng dunia.
000
Lampu sorot museum bergeser dari fosil gajah purba ke sudut etalase yang memamerkan alat-alat batu dan serpihan tembikar.
Jika Stegodon menandai kehadiran fauna purba dua juta tahun lalu, kapankah manusia pertama kali menjejakkan kakinya di tanah bergolak ini?
Langkah saya terhenti di depan replika temuan dari Gua Liang Sarru. Di pulau kecil Salibabu, Talaud, arkeologi berhasil membongkar rahasia sunyi dari kegelapan gua.
Di sana, tanda-tanda kehidupan manusia Nusa Utara terdeteksi telah berlangsung sejak 30.000 tahun yang lalu.
Sebuah angka yang membuat bulu kuduk berdiri, menegaskan bahwa peradaban di tempat ini jauh lebih tua dari yang pernah kita bayangkan dalam buku-buku teks sekolah.
Seiring waktu berjalan, gelombang manusia terus berdatangan dan beradaptasi. Umumnya di Sulawesi Utara, di Situs Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas, jejak aktivitas manusia terekam dari masa 6.000 tahun lalu.
Sementara di utara, di dalam keheningan Gua Liang Tuo Mane’e di Arangkaa, Pulau Karakelang, Talaud, kehidupan berdenyut sejak 4.000 tahun lalu hingga awal Masehi.
Di Liang Tuo Mane’e inilah para imigran purba meninggalkan jejak kebudayaan Austronesia yang masif.
Mereka membawa teknologi baru pada masanya: alat-alat batu muda (neolitik) berupa beliung batu persegi yang halus. Mereka bukan lagi sekadar pemburu babi hutan atau pengumpul kerang; mereka adalah pelaut ulung yang berbicara dalam rumpun bahasa Austronesia, rumpun bahasa yang nantinya akan menyebar dan merajai lautan dunia.
Tak jauh dari sana, waktu bergerak ke masa logam tua (paleometalik). Di Liang Buiduane, Talaud, para arkeolog menemukan tempayan-tempayan kubur berukuran besar—sebuah situs pemakaman kuno yang menunjukkan bahwa manusia saat itu telah mengenal konsep spiritualitas, penghormatan terhadap leluhur, dan estetika yang tinggi dalam memperlakukan kematian.
Berdiri di dalam Museum Sulawesi Utara hari itu, saya menyadari satu hal besar yang disepakati oleh para pakar sejarah dunia.
Wilayah kepulauan Nusa Utara bahkan Sulawesi Utara ini bukan sekadar pinggiran. Wilayah ini adalah daerah kunci—sebuah laboratorium raksasa yang memegang jawaban atas teka-teki tanah asal (homeland) dari suku bangsa berbahasa Austronesia.
Dari kepulauan yang kini tampak sunyi di peta Indonesia ini, nenek moyang itu pernah berlayar menantang ombak, menyebar ke barat hingga mencapai Madagaskar di Afrika, bergerak ke utara menuju Pulau Formosa (Taiwan), dan menjelajah jauh ke timur menembus pulau-pulau sunyi di Pasifik hingga mendarat di Easter Island (Pulau Paskah).
Museum Sulut yang baru ini tidak sekadar memamerkan masa lalu yang mati. Bagi saya, ia memulangkan harga diri yang sempat hanyut, menegaskan bahwa dari sinilah, dari jembatan batu dan api Nusa Utara, sebagian peradaban dunia pernah diberangkatkan.
Akhirnya, saya berterima kasih kepada Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, SE, sosok yang sangat peka dan dekat dengan para budayawan Sulawesi Utara yang telah melakukan gerak cepat menyelamatkan Museum Sulut dari kerusakan akibat pembiaran masa lalu. (*)
Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Menakjubkan, Museum Sulut Pamerkan Artefak Nusa Utara Dari Masa 2 Juta Tahun Lalu 27 Mei 2026
  • Difasilitasi Plt Bupati Sitaro, Masjid Al Jihad Ulu Siau Terima Bantuan Hewan Kurban dari Gubernur 26 Mei 2026
  • Marvein Hontong Ditunjuk Plt Ketua DPRD Sangihe, Proses Pergantian Dimulai 26 Mei 2026
  • Jelang Idul Adha, Bupati Sangihe Serahkan Hewan Kurban Bantuan Presiden 26 Mei 2026
  • Mahasiswa Teknik Mesin Polimdo Raih Juara 2 Lomba Welding Nasional di Jakarta 26 Mei 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In