Manado, Barta1.com — Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menjaga komitmen dan langkah nyata dalam upaya pemajuan kebudayaan di Bumi Nyiur Melambai. Di lapangan kerja maratonnya meliputi serangkaian program strategis, mulai dari revitalisasi total Museum Provinsi Sulawesi Utara hingga pemberian jaminan sosial bagi para pelestari budaya dan pelaku seni.
Kepedulian tersebut bermula pada 2025, tepat setelah Gubernur Yulius Selvanus resmi dilantik memimpin daerah ini. Ia langsung memberikan atensi khusus terhadap kondisi museum daerah yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik karena dinilai minim perawatan dan kurang representatif.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, Yorry Lesawengan, membenarkan gerak cepat yang diambil oleh pimpinannya tersebut. Yorry menyebutkan bahwa instruksi untuk membenahi pusat pelestarian sejarah itu adalah inisiatif langsung dari Gubernur usai melakukan inspeksi ke lapangan.
“Jadi pada tahun 2025, begitu Bapak Gubernur kita dilantik, beliau secara langsung melihat kondisi museum. Karena sebelumnya sudah sempat ada pemberitaan bahwa museum kurang mendapat perhatian, sehingga setelah beliau meninjau langsung, beliau memutuskan untuk melakukan revitalisasi total,” ujar Yorry Lesawengan pada Barta1, Selasa (26/05/2026).
Revitalisasi tersebut mencakup perbaikan fisik bangunan, penataan halaman serta tata kelola keseluruhan yang langsung masuk dalam pos anggaran tahun yang sama. Kini, pada tahun 2026, museum tersebut telah rampung dan disiapkan sebagai sentra edukasi warisan leluhur sekaligus destinasi wisata budaya unggulan di Manado.
Wajah baru panggung sejarah ini bahkan telah diresmikan secara langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Jumat 22 Mei 2026. Menjawab tantangan zaman, ruang pamer kini dilengkapi dengan berbagai fasilitas digital yang modern guna merangkul minat generasi muda.
“Di dalam museum sendiri, selain koleksi fisik, kami juga memiliki ruang-ruang yang menampilkan digitalisasi. Ada ruang immersive, ruang musik dan ruang kuliner yang ditampilkan secara digital. Ini sangat memudahkan wisatawan untuk memahami kekayaan budaya kita,” jelas Yorry merinci transformasi fasilitas tersebut.
Terkait penataan tata pamer koleksi, Dinas Kebudayaan harus melakukan tahapan konservasi yang ketat dan terukur. Ribuan artefak bersejarah sempat dievakuasi ke ruang aula sebagai tempat konservasi sementara sebelum akhirnya dibersihkan dan diatur kembali ke ruang pamer yang baru.
“Saat ini, ruang pamer baru bisa menampung sekitar 200 hingga 300 koleksi. Padahal dari catatan kami, koleksi yang ada mencapai lebih dari 2.000-an, bahkan data terakhir mencatat ada 3.590 sekian koleksi,” tuturnya memaparkan data khazanah benda bersejarah milik provinsi.

Untuk memperkaya nilai kesejarahan di dalam etalase budaya tersebut, pemerintah daerah juga membuka ruang partisipasi yang seluas-luasnya. Para kolektor dan masyarakat umum diajak untuk ikut merawat ingatan kolektif dengan menitipkan atau menghibahkan benda-benda bernilai estetik tinggi dan merekam jejak bersejarah.
“Jadi kami sebenarnya sekarang membuka peluang bagi kolektor atau masyarakat yang memiliki koleksi-koleksi pribadi yang ingin ini ditampilkan kepada masyarakat umum. Mereka bisa menitip ke sini atau menghibahkan, kita berharap ini menjadi koleksi bersama,” ungkap Yorry.
Berbagai sumbangsih masyarakat yang kini mewarnai museum meliputi kain tenun wastra Bentenan yang sarat makna, kitab suci kuno Konghucu, piringan hitam lawas, hingga perlengkapan perang tentara era Portugis. Ke depannya, pelataran museum juga akan diintegrasikan dengan ruang ekonomi kreatif bagi para pelaku UMKM lokal.
Asuransi Hingga Revitalisasi Taman Budaya
Langkah afirmatif Gubernur Yulius Selvanus rupanya tidak terbatas pada pemeliharaan benda mati, tetapi juga menyentuh langsung denyut nadi para penjaga tradisi. Hal ini diwujudkan melalui program dukungan instrumen kesenian dan perlindungan asuransi jiwa bagi para seniman.
Tercatat, sebanyak 17 set alat musik tradisional Kolintang telah dihibahkan kepada sanggar-sanggar kesenian yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di wilayah Minahasa Raya. Langkah konkret ini diambil untuk menjamin keberlangsungan regenerasi seniman Kolintang di tengah gempuran arus kecerdasan artifisial.
Di sektor kesejahteraan, Pemerintah Provinsi Sulut memfasilitasi program perlindungan sosial dengan menggandeng BPJS Ketenagakerjaan bagi 1.000 pekerja seni dan budayawan. Program ini menjadi jaring pengaman sosial yang krusial untuk melindungi kelompok pekerja informal yang mendedikasikan hidupnya pada kesenian.
“Bahkan pada saat kita launching museum, selain launching BPJS Ketenagakerjaan, sudah langsung ada klaim. Karena ada salah seorang saudara kita seniman budayawan dari Kota Bitung yang meninggal, dan langsung diserahkan santunannya. Jadi ini program baru yang dilakukan oleh Pak Gubernur,” tegas Yorry mencontohkan kebermanfaatan program tersebut.
Sebagai langkah lanjutan dalam membangun panggung peradaban, Pemprov Sulut bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) kini tengah mematangkan draf revitalisasi Taman Budaya. Fasilitas ini diproyeksikan sebagai pusat ekspresi seni teater, tari dan cabang pertunjukan lainnya yang memadai bagi para kreator lokal.
Guna menyempurnakan seluruh visi besar pemajuan kebudayaan tersebut, Yorry menekankan pentingnya orkestrasi antara pemerintah provinsi dan daerah tingkat dua. Implementasi Peraturan Daerah (Perda) Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Utara diharapkan mendapat dukungan penuh dari bupati dan wali kota agar kebudayaan Sulut terus bernapas panjang. (*)
Peliput: Ady Putong, Agust Hari, Iverdixon Tinungki
Editor: Ady Putong


Discussion about this post