BARTA1.COM– Kota Manado tahun 2025 adalah rimba beton yang modern, namun jika kita bersedia melangkah mundur 45 tahun ke belakang, kita akan menemukan dunia yang sepenuhnya berbeda.
Di Manado Utara, aspal halua yang tak rata menjadi panggung bagi Bemo roda tiga dan bendi yang terhuyung-huyung. Jalanan yang kini kita pijak sebenarnya berdiri tiga hingga lima meter di atas sisa-sisa memori masa lalu yang kini terbenam.
Di sanalah, tiang listrik besi berongga dengan lubang-lubang lonjong berdiri angkuh, menjadi wahana panjat anak-anak pesisir yang tangkas.
Malam di pengujung era 70-an bukanlah milik cahaya lampu LED, melainkan milik kegelapan yang sesekali dipecahkan oleh lampu gas Petromax.
Di kawasan Sindulang hingga Tumumpa, kehidupan seolah “padam” pada pukul sembilan malam, menyisakan nyala redup lampu minyak padamara dari kaleng susu bekas.
Sahabat saya, Didi Koleangan, seorang pemerhati seni, sering berkelakar getir tentang pemukiman kami saat itu.
“Ini tempat jin buang anak!” serunya sambil tertawa, menyindir minimnya penerangan jalan yang sering jadi sasaran lemparan batu pemuda mabuk.
Namun, di tengah keterbatasan itu, sebuah kemewahan batin lahir dari panggung-panggung kayu. Tahun 1977, sebuah aula SD di atas bukit Karangria menjadi saksi ledakan emosi saat grup Tonil SMP Siti Fatima mementaskan La Belle au Bois Dormant alias Putri Tidur.
Penonton meluap hingga ke jendela, bahkan ada yang nekat memanjat pohon ketapang dan tiang listrik demi mengintip keajaiban dari balik kaca.
Di atas panggung, Jemmy Kakunsi, sang idola remaja kala itu, tampil memukau sebagai Pangeran. Dengan gaya ala musisi Fariz RM, Jemmy memberikan nyawa pada naskah klasik Charles Perrault tersebut.
Puncaknya adalah adegan ciuman yang sublim—sebuah keberanian akting yang membuat seisi aula gemuruh oleh teriakan histeris.
“Menonton pertunjukan teater sesungguhnya adalah sesuatu yang mewah ketika itu,” kenang seorang saksi sejarah tentang momen tersebut.
Istilah ‘Tonil‘ sendiri merupakan warisan Belanda, toneel, yang berakar kuat di lingkungan gereja dan sekolah Kristen di Manado. Sejak awal 1900-an, tonil telah menjadi napas perayaan Natal dan Paskah.
Cici Hanibe, perupa sekaligus aktor asal Singkil, mengenang betapa aktifnya mereka di awal 70-an. “Kami sudah aktif menggelar pertunjukan tonil di gereja. Lakon Pontius Pilatus Tragedi bahkan dipentaskan di sana tahun 1970,” ungkapnya mengenang masa-masa keemasan sandiwara gerejawi.
Antusiasme warga saat itu melampaui sulitnya akses transportasi. Warga dari desa Pandu atau Wori rela berjalan kaki puluhan kilometer atau menumpang gerobak sapi yang rodanya berbunyi gluduk di dini hari.
Mereka yang tinggal di pesisir seperti Molas dan Meras harus bertarung dengan gelombang, mendayung perahu londe atau mengandalkan mesin tempel Johnson 25 PK demi menyaksikan kisah-kisah Alkitab atau lakon klasik Eropa dipentaskan.
Geliat seni ini tak lepas dari peran para misionaris Eropa yang membawa naskah-naskah adaptasi. Sekolah Pembantu Penginjilan yang berdiri tahun 1868 di Tomohon menjadi rahim bagi lahirnya para pemain tonil andal.
Di Manado Utara, nama-nama seperti Om Samuri, Roindra Kairupan, hingga Richard Rhemrev menjadi legenda. Sementara di Selatan, tokoh seperti Hengky Sumuan dan Benny Matindas menjadi motor penggerak teater modern yang tetap eksis hingga dekade berikutnya.
Jejak tonil juga terekam kuat di Sangihe Talaud. J.E. Tatengkeng dan para guru Injil menjadi pionir sastra dan sandiwara di sana.
Bahkan, sejarah mencatat bahwa grup sandiwara Stambul Dardanella pernah mementaskan roman Rahasia Utara karya E.G. Dauhan asal Siau di Bandung pada tahun 1927.
Ini membuktikan bahwa talenta panggung dari utara Sulawesi telah mewarnai kanvas seni nasional sejak zaman kolonial.
Pembedaan istilah pun sempat menjadi identitas sosial. ‘Tonil‘ lekat dengan lingkungan gerejawi dan lakon Alkitabiah, sementara ‘Sandiwara‘—dari bahasa Jawa sandi (rahasia) dan wara (ajaran)—lebih sering digunakan untuk pertunjukan umum atau non-alkitabiah.
Namun bagi masyarakat Manado saat itu, apa pun namanya, panggung adalah ruang untuk bermimpi dan melupakan sejenak wajah kota yang masih tertinggal.
Kini, tiang listrik besi pipih itu telah tiada, berganti tiang beton dengan kabel-kabel serat optik yang rapi. Manado telah bersolek menjadi kota global yang modern.
Namun, bagi mereka yang pernah merasakan sensasi menonton Putri Tidur di bawah remang Petromax, kenangan tentang “ciuman cinta” sang pangeran dan gemuruh aula SD RK IX Karangria akan selalu menjadi bagian dari identitas yang tak akan pernah terhapus oleh zaman (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post