• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Juni 10, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Sejarah Dan Budaya Minahasa Dalam Sepilihan Puisi Karya Iverdixon Tinungki

by Iverdixon Tinungki
10 Desember 2025
in Sastra
0
Jejak tradisi sejak masa lalu. (Gambar: Ilustrasi AI)

Jejak tradisi sejak masa lalu. (Gambar: Ilustrasi AI)

0
SHARES
39
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

WATU PINATIK

bagi anak moyang yang mencari pesan abadi buat takdirnya
yang bertanyatanya makna gemersik sungai
dan kesepian hatinya
mari upacarai hieroglif watu pinatik
yang merahimkan petapeta cahaya penuntun jalan
ke mana kau menyusuri musim
ketika ia datang dalam wujud gigigigi menerkam

karena sejak bontayan menjadi mahkluk danau
lobster hitam mendekam di liangliang
para walian telah penafsir pesan Tuhan

dan burungburung bersuara di hutanhutan malam
di telagatelaga di mana bungabunga memecah
tertambat bilangan abad yang terus disusunnya
disusun tetua pertama dalam maeres
disenandungkan gununggunung saat padipadi menguning
tapi barangkali kita keliru membajak ladang sejak kisah kopi
tersuruk di sejarah yang hilang

o onoaanoa liar
o satwasatwa di cagar
damarkanlah hikayat lembahlembah pakasa’an
watu pertama dan ribuan mimpi ini ingin kubancak
ke dada orangorang yang tahu letak pucatnya senja

2014

WANUA MAIJESU

aku mau ke watu mengupacarai keringat
mengeras batu
walian…
sudah zumigi, sudah rumages
segerombolan pisok berselancar di gunung Tuhan
menyongsongku di gerbang kinilow
memperagakan lakon tetua
tu’ur in tana

o bau padi. o ladangladang sedih
kemenyan tua menyigi perjalanan cahaya
melintasi lembahlembah
menyambutku o

rumahrumah kayu, arsitektur cerita
petakpetak pemandangan perdu
bunyi kumbang di tebing bambu sahut menyahut
merunut wanua maijesu dalam dongeng ritual batu

beratusratus tahun moyangmoyang pakasa’an
memantrai kayu
punah di sulur waktu
bertubuh ke mimpiku

2014
*) Wanua Maijesu: kampung purba Kinilow, Minahasa.

ANTARA TORAGET TUMARATAS

antara toraget tumaratas
apa harus kutulis padamu junio
di masa lalu walian bertanya pada burung
apa dikabarkan empung di perlintasan itu
aku masih menyimpan geriap hulu sungai
menampung pecahan kabut matamu
di suatu hari yang sendu

lima abad kemudian di palamba
kupandang hamparan kebun terung
dan kemistri burungburung mengabari letak jejakmu
begitu jauh
sejauh kabarkabar hilang di bandarbandar asing
dan kapal karam meninggalkan keturunan para pelaut
di rimba tinggi temboan
kayu hitam dan sisa rumah bagan dengan katukatu sejuk
masih mengisahkan nyanyian lelurik para tumani
terus hidup bercocok tanam

di sini hidup selalu seperti matahari junio
terus bersinar, dan bajakbajak terus dibancak
akarakar mendapati gembur tanah
dan tumani yang bernyanyi itu
mempestakan iringiringan tarian
di mata gadisgadis gunung yang mempesona

antara toraget tumaratas
hausku yang kering itu tersedu junio
meski tak ada lagi bunyi pasoringan
buat ku bertanya pada moyang; kapan kau pulang
barangkali sebuah dongeng harus kuulang padamu junio
sejauh mana kau berlari, waktu selalu punya cara menepati janji

dan di perlintasan antara toraget tumaratas
di perduperdu yang berdiri bagai pergola
bayangbayang Karema yang agung meneguhkan sepiku
saat menelusup ke lumut batubatu
selalu menanti
menanti ziarahmu suatu ketika nanti

2014

SITUS TOMBULU

situs batu, air keramat
dewadewa menanam jimat
jegger merah sudah kau pahat dalam mata api
kabasaran menarilah. menarilah

mari…
ke padang lokon gunung empung
moyang pertama datang dengan perahu
sudah melabuh dalam jejak burungburung
menumbuhkan sayap ke mimpi turun temurun

di amfiteater kupandang derai malesung
menjulangkan gununggunung, api berkobar
menetaskan manguni ke bumi
dan pisokpisok menyusup irama ladang
derap kuda para petarung menyosong abad
remuk dan lebam

anakanak moyang
walakwalak dengan jejak sawah
kelak tak lagi mempertempurkan amarah
dari dongeng ambilingan
ia akan mendupa wangi ke alir sungai sejarah
situs tua kau jaga itu
mendetak dalam darah
dalam darah!

2014

KOPERO
–suatu hari kopero menghunus pedang
peta kuno digurat ke altar batu
beriburibu pasiyowan telu sejak itu melanjutkan hidup—

dan tonaas kopero tiba di bandar. orangorang tak mengenalinya
kecuali burungburung rimba, iris matanya memendam nyala
hutanhutan nantu, lembahlembah bambu
tak mampu melepas getarnya

seperti sediakala semua tak mau bersuara
juga gununggunung tibatiba diam itu
tak ada yang terbang atau berani menggerisik
mereka menanti apa akan diujar seorang moyang

tapi apa lebih diam
selain sejarah tak kau tuliskan

“bau tembakau
kapur
siri pinang
mengering di masa yang hilang”

tujuh abad kemudian bandar muara kali mas keruh
jejak perang moyang terkubur lumpur
orangorang kehilangan arah, kehilangan penghibur

kita dan masa kini
membincangkan mesinmesin dengan kecemerlangannya
mentahayulkan sihirsihir kuasa membentuk takdirtakdirnya
kehadiran, kehilangan samasama menyelip geram

kopero menundukkan kepala
ada bau tuba tumpah dalam sejarah
ia enggan menegak seperti biasa
seperti saat menebah apaapa diwahyukan langit kepadannya

hutanhutan ganih menyerup tawanya. jadi batangbatang cemas
barisan tugutugu kota kian ramai keisengannya
tapi camarcamar letih hinggap di bahunya
terus menanti moyang tua itu bersuara

namun apa lebih diam
selain sejarah tak kau hiraukan

hari ini sebuah kota dihuni orangorang tanpa tanah air
arcaarca masa lalu terkelupas di bawah musim gagu
tamantaman soka, suplier merambat di tirus selokan
tradisi paling cerca tibatiba dicendawankan

kotakota berdiri dalam perniagaan masa kini itu temboktembok
bercat strawberry. gadisgadis wangi menjajani malam
dalam bayangan mata seekor kelinci
lugu, nakal, lembut dan manis
menggoda dengan seringainya paling bisa dan birahi

lalu apa lebih diam
selain sejarah kau sembunyikan

seorang buruh pagipagi tiba di bandar yang sama
memandang bulan pucat tenggelam
entah apa disedihkannya. tak ada yang bertanya

tak jauh dari kali, seorang hulubalang menyusun sejarah paderi
orangorang kastela. bentengbenteng mereka telah punah
“di sini orangorang kalah selalu tersingkir”
orangorang menang pun tak memiliki hilir
hanya ada para petualang, para penyihir
mahir memberi pujian sekaligus tikaman tergetir

di abad kita lupa
sebuah bendera spanyol terkulai di bonggol kayu
bendera lain tiba di tepi hutan pinus
sama seperti sediakala saat sungai menghunus arus

–tapi arus mana memberi kita haus–

kopero memandang batang sungai
ia mencium bau darah di alir air
menghanyutkan bayang jasad tak bernyawa
minawanua masih saja terbakar kisah lalu
dan kini di tangannya

di tompakewa, para pencari damar menemukan
jejak pertempuran di atas rumput jukut merimbuni tanah
tinggal tanah tak membagi dusta
kendati para pemburu mengambil semua yang dihidupkannya

pohonpohon, kerik jangkrik membawa suara ukung itu
ia menanak pedangnya buat diacungkan lagi
gemerincing tumbak para waraney
masih saja menyerukan pertempuran sungguh belum usai

di sana
di reruntuk masa lalu bertalu bedil bau mesiu
kabutkabut abadi mengabadikan kisahkisah tak lagi dimengerti
tak lagi memicu syahwat masa kini
kecuali arcaarca mati
memberi kopero sebuah kenduri
saat para lelaki tak lagi punya niat berdiri
dan meletakan keberaniannya ke peti mati

2014
*) Kopero: Seorang Tonaas suku bangsa Minahasa dan ahli pinatik. *) Kastela: sebutan untuk orang Portugis. *)Waraney: prajurit Minahasa.

ZIARAH PINABETENGAN

Katakan; siapa akan kembali mengobar peperangan
ketika batu menyodorkan engkau seluruh peta
rohroh santi, rohroh wengkouw di ujung belati

di zaman orangorang kastela
ukung, teterusan menegak nira di tuwungtuwung bambu
jangankan tanah dicela, sebutir padi menyulutkan amarah

apakah engkau tahu perang ditahun 1651
bunga kanokano terpacak di pucuk kepala
waraney pergi menggetarkan minahasa
dengan tradisi beraninya tumbuh di hulu dada

di batasbatas desa sepuluh kabasaran berjaga
ukungukung mahir menerjemahkan suara burung
menolak membawa upeti pada perompak kolonial

panglima lucas de vergara membangun koloni sejarah para pederi
sebuah benteng, moncong meriam di tahun 1517 itu tak bisa mengecoh
tak bisa memaksa minahasa taklik di bawah benderanya
bartolomeo de soisa dengan sebuah armada mengarungi laut
mendapati dirinya hanya sejengkal dari hidup dan maut

katakan; siapa akan kembali mengobar peperangan
dalam minahasa kini remuk oleh koloni para penambang
akal sehat tersumpal di mimbarmimbar kuasa
di pinabetengan, di tengah malam beraroma cempaka
dotu pantuur datang padaku memberi selembar tawaan
sebilah keris dari suatu masa harusnya ditancapkan
ke dada masa kini yang lupa

2014

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Rencana Pembukaan S2 Pariwisata Magister Terapan di Polimdo: Harapan dan Tantangan

Rencana Pembukaan S2 Pariwisata Magister Terapan di Polimdo: Harapan dan Tantangan

Discussion about this post

Berita Terkini

  • DPRD dan Pemprov Sulut Tuntaskan Penyempurnaan RTRW 10 Juni 2026
  • Polres Bitung Sidak Antrian BBM Subsidi di Girian dan Manembo-Nembo 9 Juni 2026
  • Wali Kota Bitung Panen Jagung Bersama Kelompok Tani Sehati di Tanjung Merah 9 Juni 2026
  • Pemkab Sangihe Tetapkan Status Tanggap Darurat 14 Hari Pasca Gempa M 7,7  9 Juni 2026
  • Bupati Sangihe Bertolak ke Marore Rabu Malam, Prioritaskan Sembako untuk Korban Gempa M 7,7 9 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In