• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Sabtu, Agustus 1, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya

Mengurai Jejak Spiritual Kuno di Sangihe Talaud

by Iverdixon Tinungki
9 Desember 2025
in Budaya
0
Pohon sebagai symbol kehidupan. (Foto: Ilustrasi AI)

Pohon sebagai symbol kehidupan. (Foto: Ilustrasi AI)

0
SHARES
101
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Barta1.com– Di gugusan kepulauan Sangihe Talaud, di mana garis pantai bertemu birunya Pasifik, tersimpan sebuah rahasia spiritual kuno yang jauh melampaui gemilang sejarah astronomi mereka. Ini adalah kisah tentang alam pemikiran esoteris nabati, sebuah pandangan dunia yang meyakini bahwa manusia berasal dari pohon.

Meskipun arus zaman, terutama pasca-persentuhan dengan pemikiran Semitik Barat pada abad ke-15, perlahan menyurutkan gelombang tradisi ini, kilauan frasa-frasa purba masih bertahan di sana. Dari relung sastra kuno, muncul sebuah pernyataan yang menggetarkan: “Manusia berasal dari pohon.”

Legenda leluhur Sangihe Talaud menyebutkan dengan gamblang: manusia pertama di kepulauan ini berevolusi dari pohon pisang Abakka. Pandangan yang menohok nalar modern ini sejatinya bukanlah anomali dalam sejarah spiritualitas kuno. Ia dapat disandingkan dengan keyakinan orang-orang Mandrake, yang dicatat oleh sejarawan Yunani Herodotus pada abad ke-5 SM, yang juga percaya manusia berevolusi dari tumbuhan.

Diskursus tentang ‘kesadaran nabati’ ini ternyata adalah benang merah filosofis yang merentang jauh, dibahas luas oleh sarjana kontemporer seperti Jonathan Black dalam bukunya, yang mengulas pemikiran esoteris Barat tentang asal-usul manusia dari pohon.

Inti dari pandangan dunia esoteris Sangihe Talaud ini terletak pada metafora penciptaan dan reproduksi. Manusia dimetaforkan sebagai pohon yang berkembang secara hermafrodit, sebuah konsep yang beriringan dengan kisah Hawa yang dibentuk dari tulang Adam. Ada pula konsep reproduksi yang disebut parthenogenesis, di mana bagian dari tumbuhan jatuh dan tumbuh menjadi individu baru, menjadikannya ‘tidak mati’ melainkan berlanjut.

Meskipun artefak fisik proto-manusia berbentuk tumbuhan mungkin langka di dunia Barat, benang kehidupan melalui ide parthenogenesis ini menjadi cikal bakal yang menarik untuk diurai di tengah kompleksitas peradaban saat ini.

Namun, sebagaimana nasib banyak kearifan lokal lainnya, alam pemikiran kuno ini menghadapi tantangan besar. Di era para misionaris, keyakinan nabati ini dicap pagan dan kafir, memaksanya untuk bersembunyi.

Mereka menyimpan ajarannya dalam sebuah tradisi yang disebut “Wawunian”, yang secara harfiah berarti “disembunyikan”. Beruntung, desakan dunia Semitik tidak sepenuhnya mampu memadamkan api pemikiran lama ini. Generasi kini masih dapat mencium aromanya melalui sisa-sisa khazanah sastra yang tersimpan rapi.

Keberlangsungan pemikiran nabati ini terukir dalam frasa-frasa sastra lisan yang digunakan sehari-hari. Larik-larik syair seperti “katuwokatamang” (tumbuh dan hiduplah) dan “sombo ndai sombo, Tuwo ndai tuwo” (hidup dan hiduplah, tumbuh dan tumbuhlah) adalah manifestasi nyata dari konsep besar asal-usul manusia yang terikat pada kehidupan tumbuhan.

Bahkan tradisi ucapan selamat ulang tahun “Pakalaluhe, pakaumbure” (tumbuhlah tinggi, panjanglah umur) adalah penjelmaan dari doa filosofis agar seseorang tumbuh subur dan kekal seperti pohon.

Lebih jauh, mitologi pulau dan pengajaran rahasia memperkuat pandangan ini. Di Pulau Kakorotan, Nanusa, masyarakat percaya adanya “Pohon Lawa” sebagai pohon kehidupan. Di Bannada, Pulau Karekelang, pohon Lungkang diyakini sebagai penjelmaan Nahangging, ibu mitologis dari suku bangsa Porodisa.

Dalam pengajaran rahasia “Sasasa”, manusia secara eksplisit dimetaforkan sebagai pohon. Konsep kematian pun digambarkan dengan “kalunairi” (cabang yang patah) dalam puisi purba Sasambo, menegaskan identitas spiritual manusia yang tak terpisahkan dari botani.

Ikonografi purba Sangihe Talaud pun tak luput dari simbolisme ini. Manusia disimbolkan sebagai “kalutamata” (pohon hidup), sebuah isyarat kuat tentang asal-usul kehidupan.

Sementara itu, kegelapan atau setan dilambangkan sebagai “kaluhegu” (kayu kering). Bahkan topografi alam di sekitar mereka diwujudkan dalam analogi tubuh pohon: semak di gunung adalah “Utae” (rambutnya), hutan di bukit adalah “wembange” (pundak), dan kebun di lembah gunung adalah “Sulaede” (kaki).

Eksistensi pepohonan ini merupakan bagian integral dari tradisi besar “Sasahara dan Sasalili” (Budaya Laut dan Budaya Pulau). Bagi masyarakat tradisi Sangihe Talaud, setiap pohon memiliki kehidupan, bahkan memiliki dewanya sendiri.

Pandangan esoteris ini secara holistik menempatkan pepohonan sebagai poros kosmis, di mana aspek seperti delusi, khayalan, dan kemauan dilihat sebagai kekuatan besar yang berada di antara energi-energi alam semesta.

Ini adalah warisan tak ternilai, sebuah pohon kehidupan filosofis yang akarnya masih menancap kuat di tanah Sangihe Talaud. (*)

Penulis/ Editor:
Iverdixon Tinungki

 

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Dirjen PSKP saat Pengarahan Umum Rakernas Kementerian ATR/BPN: Kolaborasi Kunci Berantas Mafia Tanah

Dirjen PSKP saat Pengarahan Umum Rakernas Kementerian ATR/BPN: Kolaborasi Kunci Berantas Mafia Tanah

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Plt Bupati Sitaro Heronimus Makainas Ingatkan Penjabat Sekda Tanggungjawab dan Integritas 31 Juli 2026
  • Dari Forum Temu Rakyat Sulut: 25 Komunitas Deklarasikan ‘Perang’ Lawan Perampasan Ruang Hidup 31 Juli 2026
  • Polimdo Terus Panen Medali di PORSENI XV 2026, Koleksi Empat Emas Kian Mengilap 31 Juli 2026
  • Praktik Kerja Lapangan, 120 Mahasiswa Teknik Mesin Polimdo Siap Terjun ke Dunia Industri  31 Juli 2026
  • Belajar Mesin hingga Panel Surya, Christyvena Rau Siap Buktikan Kemampuan di Dunia Industri 31 Juli 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In