SANGIHE, BARTA1.COM — Tuduhan bahwa Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Enemawira, Chandra Sudarto, memaksa warga binaan memakan daging anjing dibantah sejumlah saksi yang berada langsung di lokasi. Dua pegawai Lapas, SE dan EM, menegaskan bahwa peristiwa yang mencuat ke publik itu terjadi dalam suasana bercanda dan tanpa unsur paksaan.
Menurut SE, kejadian berlangsung pada Sabtu (22/11/2025), saat Kalapas mengadakan acara memasak di rumahnya untuk merayakan ulang tahun seorang pegawai. Beberapa warga binaan yang sedang menjalani masa asimilasi turut diundang setelah menyelesaikan kegiatan pengecatan di sebuah sekolah. Dua di antaranya merupakan warga binaan beragama Islam.
SE membenarkan bahwa Kalapas sempat menyodorkan piring berisi makanan kepada seorang warga binaan bernama Anca, yang dikenal sebagai warga binaan paling dekat dengan Kalapas. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan itu berlangsung dalam suasana bersenda-gurau. “Tidak ada paksaan dan tidak ada ancaman. Kami menyaksikan langsung, dan tidak ada nada memaksa ataupun perintah untuk makan,” kata SE. Ia menambahkan bahwa warga binaan tersebut tidak memakan daging anjing sebagaimana tuduhan yang berkembang.
EM, yang juga berada di lokasi, memberi kesaksian serupa. Ia menyebut informasi soal adanya pemaksaan berkembang tanpa dasar. “Kami bersama-sama melihat kejadian itu. Tidak benar ada perintah untuk makan daging anjing,” ujar EM. Keduanya menyatakan siap memberikan keterangan resmi jika dibutuhkan.
Untuk meredakan polemik, pertemuan antara tokoh agama, pemerintah, dan aparat digelar di Kantor Kecamatan Tabukan Utara pada Kamis (27/11/2025). Dalam forum itu, Kalapas Chandra Sudarto menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang muncul, meski tetap menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memaksa ataupun memberikan daging anjing kepada warga binaan. Ia mengakui bahwa penyodoran piring itu terjadi dalam konteks bercanda.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kepulauan Sangihe, Wahidin Mandahari, mengimbau masyarakat agar tetap tenang. “Saya berharap umat Islam di Kabupaten Kepulauan Sangihe menjaga ketertiban dan tidak terpancing oleh isu. Persoalan ini sudah diselesaikan dengan baik dan akan ditangani lebih lanjut oleh pihak Lapas,” ujarnya.
Sementara itu, Abiduna Bakari, anggota keluarga warga binaan yang disebut dalam peristiwa tersebut, menyatakan menerima permintaan maaf dari Kalapas. “Kami sudah memaafkan dan berharap kejadian seperti ini tidak terulang,” katanya usai pertemuan.
Chandra sendiri sebelumnya telah memberikan klarifikasi atas tuduhan tersebut. “Saya benar-benar memohon maaf. Tidak ada unsur menjebak atau memaksa. Itu murni candaan untuk mencairkan suasana setelah selesai bekerja,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa selama masa asimilasi, warga binaan tersebut diperlakukan dengan baik. “Kami sering memasak di rumah. Saya memasak sendiri lalu memanggil mereka untuk makan. Namanya manusia bisa khilaf, tapi saya tidak pernah memaksa atau menjebak,” tutur Chandra.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post