Jakarta, Barta1.com – PT PLN (Persero) mengumumkan kebutuhan investasi jumbo mencapai Rp 3.000 triliun untuk merealisasikan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025–2034. Angka fantastis ini dibutuhkan untuk mengejar target penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,6 gigawatt (GW), melonjak signifikan dibandingkan target 2021–2030 yang hanya mematok 40,6 GW.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan investasi ini tidak hanya sekadar membangun infrastruktur, melainkan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi nasional. Dalam forum Kompas CEO, Darmawan menegaskan pentingnya kolaborasi untuk menopang beban investasi tersebut.
“Kami membutuhkan investasi sekitar Rp3.000 triliun selama 10 tahun dan untuk itu kita perlu membangun suatu ekosistem yang kondusif untuk berinvestasi, ekosistem yang kondusif untuk berkolaborasi,” ujar Darmawan, dikutip Senin (01/12/2025).
Poin krusial dalam RUPTL terbaru ini adalah dominasi energi hijau. Data teknis menunjukkan bahwa 76% dari total tambahan kapasitas atau setara dengan 52,9 GW akan berbasis pada energi ramah lingkungan.
Rinciannya meliputi 42,6 GW (61%) Energi Baru Terbarukan (EBT) murni dan 10,3 GW (15%) dialokasikan untuk sistem penyimpanan energi (energy storage) guna menjaga keandalan pasokan intermiten.
Sementara itu, porsi pembangkit fosil ditekan menjadi hanya 16 GW, yang terdiri dari 10,3 GW pembangkit gas dan 6,3 GW batu bara. Komposisi ini diklaim selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.
PLN berharap dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dapat memperkuat struktur permodalan proyek raksasa ini.
Strategi eksekusi akan dibagi menjadi dua tahap akselerasi. Pada lima tahun pertama, PLN menargetkan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan sebesar 27,9 GW, disusul dengan 41,6 GW pada lima tahun berikutnya.
Skema bertahap ini dirancang untuk mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada tahun 2029 mendatang.
Darmawan optimistis target ini tercapai meski tantangan finansial cukup besar.
“Investasi ini sepadan dengan potensi pembukaan lapangan kerja luas dan peningkatan produktivitas industri,” tambah dia.
Dukungan Danantara diharapkan menjadi katalisator yang memberikan kepastian bagi ekosistem investasi ketenagalistrikan di tanah air.
Dengan peta jalan baru ini, PLN tidak hanya berfokus pada ketersediaan listrik, tetapi juga transformasi energi. Pergeseran dari target lama yang hanya memuat 20,9 GW EBT menjadi 42,6 GW EBT di RUPTL baru menunjukkan komitmen serius Indonesia dalam mengejar target Net Zero Emission sembari menjaga keandalan pasokan listrik nasional. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post