Manado, Barta1.com–Menjelang atmosfer Desember yang penuh sukacita, khususnya bagi umat Kristiani, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sekali lagi menjadi cermin nyata dari harmonisasi sosial yang kukuh.
Di tengah keberagaman yang membentang luas, seruan untuk memperkuat ketahanan sosial dan menjaga pluralisme wilayah kembali mengemuka.
Pdt. Hanny Pantouw STh, yang merupakan Ketua Laskar Manguni Indonesia (LMI) sekaligus Ketua Sinode GBI Sulut dan Gorontalo, tampil sebagai inisiator utama, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mengawal keamanan dan ketertiban umum menjelang rangkaian perayaan Natal 2025.
“Saya mengimbau masyarakat Sulawesi Utara untuk menjaga keamanan dan ketertiban menjelang perayaan Natal,” ujar Pantouw, menggarisbawahi urgensi tindakan kolektif sebelum memasuki rangkaian ibadah yang dimulai dari 1 hingga 25 Desember 2025.
Seruan ini, yang disampaikan pada Kamis (27/11/2025), bukan sekadar imbauan rutin, melainkan penegasan akan tanggung jawab bersama dalam merawat keragaman yang telah menjadi DNA masyarakat Bumi Nyiur Melambai.
Ini juga pengingat bahwa Hari Kelahiran Sang Juru Selamat akan segera tiba, membawa serangkaian ibadah dan tradisi yang puncaknya adalah perayaan Natal pada 25 Desember.
Upaya menjaga kekondusifan ini, menurut Pdt Hanny, adalah pertanggungjawaban kolektif yang harus diemban tanpa memandang suku, agama, maupun ras.
Pdt Hanny secara khusus menekankan peran vital para pemangku kepentingan dalam menjamin iklim yang damai. Ia mengimbau agar tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat mengambil peran terdepan dalam merawat Sulut agar tetap aman dan kondusif.
“Saya juga mengimbau tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, turut menjaga Sulawesi Utara tetap aman dan kondusif,” cetus Tonaas Hanny.
Sebagai wilayah yang menjadi barometer kerukunan, Sulut memang memiliki struktur demografi yang menunjukkan betapa kayanya mozaik keyakinan di sana. Data tahun 2021 memperlihatkan mayoritas penduduk Sulut memeluk keyakinan Protestan (63,60%). Namun disandingkan dengan umat Islam yang signifikan (30,90%), Katolik (4,40%), serta penganut Hindu dan Buddha.
Khusus di Manado, kota metropolitan yang menjadi jantung kerukunan, komposisi Kristen dan Islam juga terjalin rapat di mana jemaat Kristen 68,27% dan umat Islam 30,84% pada 2021, menjadikannya ladang subur bagi praktik toleransi interaktif.
Lebih lanjut, dalam konteks multikulturalisme yang kental, Pantouw mewanti-wanti masyarakat agar selalu waspada dan tidak mudah terhasut oleh provokasi dari oknum-oknum yang berniat memecah belah keharmonisan yang telah lama terbina. Kerukunan antarumat beragama, tegasnya, haruslah didasari oleh prinsip dasar universal: cinta dan kasih sayang.
Fondasi emosional inilah yang menjadi benteng tak terlihat, memastikan terciptanya situasi yang stabil dan aman bagi seluruh warga.
Dalam konteks implementasi nilai-nilai kebangsaan, Pantouw mengaitkan upaya ini dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Wujud dari menjaga Bhineka Tunggal adalah toleransi antar Suku, Agama dan Ras yang berbeda dengan semangat membangun kebersamaan dan persatuan,” paparnya.
Ia secara eksplisit menyebut keberagaman sebagai kekuatan.
“Terus pelihara suasana harmonis dan toleransi yang menjadi ciri khas ‘Bumi Nyiur Melambai’. Keberagaman adalah kekuatan kita,” kata Pdt Hanny.
Ia mengajak generasi muda, sebagai pewaris spirit persatuan ini, untuk berperan aktif. Kontribusi nyata dari pemuda, sesuai dengan potensi dan profesi masing-masing, sangat dinantikan dalam memajukan sektor ekonomi, sosial, budaya, dan infrastruktur daerah yang berlandaskan pada prinsip keadilan sosial.
Seluruh imbauan ini bermuara pada satu cita-cita luhur: menjadikan Manado dan seluruh Sulawesi Utara sebagai “rumah bersama”. Sebuah tempat di mana setiap individu, terlepas dari perbedaan latar belakangnya, memiliki peran penting dan diakui eksistensinya.
“Mari kita jadikan Manado sebagai rumah bersama, di mana setiap individu memiliki peran penting, dalam mewujudkan Sulawesi Utara yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing,” tutup Pantouw. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post