Manado, Barta1.com – Di tengah arus modernisasi yang kian kuat memengaruhi generasi muda, masih ada sosok remaja yang setia mencintai dan melestarikan budaya daerah. Salah satunya adalah Bramicho Russel Querfo Makauntung, seorang remaja yang telah menaruh kecintaan terhadap seni Masamper sejak usia dini.

Masamper merupakan tradisi vokal dan tari berkelompok yang menjadi identitas budaya masyarakat Nusa Utara, meliputi wilayah Sangihe, Talaud, serta Siau Tagulandang Biaro.
Di usianya yang masih muda, Bramicho dinilai sebagai salah satu peserta termuda yang tetap konsisten menekuni dan menghidupkan tradisi tersebut.
Kecintaannya terlihat melalui keterlibatannya dalam berbagai perlombaan maupun kegiatan budaya, mulai dari ajang Masamper tingkat PPA, tingkat SMA, Dies Natalis GAMKI, hingga HAPSA PKB GMIM 2026.
Bramicho merupakan anak pertama dari dua bersaudara, buah hati pasangan Risal Lirman Makauntung dan Brenda Olivya Kansil. Ia mengaku ketertarikannya terhadap seni Masamper bermula dari lingkungan keluarga, khususnya sang ayah yang kerap memperdengarkan lagu-lagu Masamper di rumah sejak dirinya masih kecil.
“Saya tertarik dengan tari Masamper ini sejak kecil, karena ayah saya sering memutar lagu-lagu Masamper di rumah,” ungkap Bramicho kepada Barta1.com, Rabu (17/06/2026).
Dari ketertarikan sederhana itulah tumbuh rasa cinta yang mendalam terhadap budaya warisan leluhur. Hingga kini, Bramicho mengaku bersyukur dapat terlibat aktif dalam seni yang sangat ia cintai.
“Saya merasa bahagia dan bersyukur karena bisa terlibat dalam budaya yang saya cintai sejak kecil. Terlebih lagi, melalui Masamper saya bisa memuliakan nama Tuhan,” tuturnya.
Meski baru tiga kali mengikuti ajang Masamper, yakni di tingkat PPA, SMA, dan HAPSA PKB GMIM 2026, semangatnya untuk terus belajar dan berkarya tidak pernah surut. Baginya, setiap penampilan bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
“Saya baru tiga kali mengikuti ajang Masamper, baik di tingkat PPA, SMA, maupun HAPSA PKB GMIM 2026. Semua kemuliaan saya berikan untuk Tuhan,” jelasnya.
Bagi Bramicho, Masamper bukan hanya sebuah kesenian, melainkan bagian yang telah menyatu dengan identitas dirinya. Tradisi ini menjadi warisan berharga yang menghubungkan generasi keluarganya, mulai dari almarhum kakeknya hingga sang ayah.
“Masamper sudah menjadi bagian dari hidup saya. Tradisi ini diwariskan dari kakek saya kepada ayah saya, dan saya berharap suatu saat nanti dapat mewariskannya kepada anak-anak saya,” ungkapnya.
Saat ini, Bramicho tercatat sebagai salah satu peserta Masamper termuda yang tergabung dalam Grup Masamper Simpony Inobonto II. Melalui semangat dan kecintaannya terhadap budaya daerah, ia menjadi bukti bahwa warisan leluhur akan tetap hidup ketika ada generasi muda yang bersedia menjaga dan meneruskannya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post