Sidoarjo, Barta1.com —Di tengah derasnya arus digitalisasi, sebuah gerakan revolusioner yang unik dan penting tengah terjadi di Sidoarjo: kembali ke akar budaya untuk membentuk karakter generasi muda.
Melalui program PLN Peduli, PT PLN (Persero) bersama Kampung Lali Gadget (KLG) Sidoarjo sukses menggelar Festival Tanah Air 2025 di akhir pekan, Sabtu 22 November 2025. Acara ini bukan sekadar festival biasa; ia adalah deklarasi komitmen untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kecintaan pada profesi, yang secara sengaja menjauhkan 250 siswa dari perangkat gawai untuk sementara waktu.
Festival ini secara spesifik dirancang untuk membangun pondasi karakter yang kuat dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Dengan melibatkan siswa dari Pendidikan Usia Dini hingga Sekolah Menengah, serta komunitas lintas agama dan budaya, KLG—yang merupakan mitra binaan TJSL PLN sejak 2024—menjadi melting pot keberagaman.
Kegiatan ini secara efektif menunjukkan edukasi karakter yang inklusif dapat disampaikan melalui medium bermain yang interaktif.
Pembukaan Festival Tanah Air di Kebon Gayam KLG dimulai dengan permainan dan tembang dolanan tradisional, yang langsung mempertemukan anak-anak dengan berbagai perwakilan profesi: dari dokter, petani, pemadam kebakaran, polisi, TNI AL, pembudidaya ikan, hingga perwakilan PLN sendiri.
Interaksi langsung ini berfungsi sebagai pintu gerbang untuk mengenalkan keragaman profesi di Indonesia, menumbuhkan rasa kebersamaan, dan menginspirasi cita-cita masa depan.
Inti dari kegiatan ini adalah sesi Kelas Inspirasi, di mana setiap profesi membuka pos edukasi masing-masing. Di pos PLN, fokus utamanya adalah edukasi kritis mengenai bahaya listrik, pentingnya penggunaan listrik yang aman, dan proses kompleks penyaluran energi dari pembangkit hingga ke rumah tangga.
Sementara pos profesi lain mengajarkan mitigasi bahaya (seperti Damkar), pos PLN memastikan anak-anak memahami energi yang menjadi tulang punggung kehidupan modern mereka.
Kedekatan dengan Identitas BangsaBagian paling simbolis dari festival ini adalah sesi “main tanah dan air”. Aktivitas seperti seret gedebog, tarik tambang, hingga menangkap ikan di lumpur, sengaja dihidupkan kembali.
Kegiatan ini bukan hanya tentang bersenang-senang, tetapi merupakan simbol filosofis kedekatan anak-anak dengan tanah dan air sebagai identitas fundamental bangsa Indonesia, jauh dari distraksi layar digital.
Ketua Yayasan KLG, Achmad Irfandi, menegaskan festival ini merupakan media yang sangat efektif untuk memperkuat toleransi dan persatuan melalui kegiatan bermain. Dukungan penuh dari PLN diakui sebagai kunci keberhasilan. Hal ini sejalan dengan komitmen PLN yang tidak hanya berfokus pada kVA atau MWh , tetapi juga pada soft power melalui pengembangan masyarakat binaan yang sejalan dengan nilai-nilai budaya dan sosial.
Komitmen PLN terhadap KLG bukan hanya sekadar dukungan finansial, tetapi juga membawa pengakuan nasional. Pada 2 Juli 2025, program TJSL KLG oleh PLN UID Jawa Timur berhasil meraih Nusantara CSR Awards 2025 untuk kategori Pendidikan Berkualitas.
Tak lama berselang, program ini juga mendapatkan TJSL Award 2025 di kategori yang sama. Penghargaan ini menjadi bukti konkret bahwa kinerja PLN dalam menjaga keandalan listrik (yang menjadi enabler kemajuan) diimbangi dengan tanggung jawab sosial yang implementasinya sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangun konservasi budaya dan karakter anak.
PLN Peduli secara aktif mendampingi KLG, bahkan mendukung penyelenggaraan sertifikasi instruktur dan revitalisasi branding. Komitmen ini menunjukkan bahwa perusahaan listrik negara ini melihat dirinya sebagai agen pembangun karakter bangsa, bukan sekadar penyedia daya.
Dukungan PLN mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Heni Kristiani, secara khusus berterima kasih atas konsistensi PLN dalam menyediakan ruang-ruang bermain yang tidak hanya sekali diadakan. Ia menyoroti bahwa aktivitas tradisional ini memberikan anak-anak momen kegembiraan dan kebahagiaan, memampukan mereka sejenak melepaskan diri dari keterikatan gawai.
Menjelang penutupan, anak-anak secara simbolis menuliskan harapan mereka untuk Indonesia di atas kertas merah dan putih, yang kemudian disatukan menjadi kolase bendera Merah Putih berukuran raksasa.
Momen ini menegaskan tujuan akhir: membangun karakter, menanamkan nilai kebangsaan, dan memperkuat keberagaman melalui sinergi antara PLN, KLG, Pemerintah Daerah, dan komunitas. Festival Tanah Air 2025 sekali lagi membuktikan bahwa ruang bermain tradisional adalah sarana paling efektif untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter, sadar energi, dan cinta tanah air. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post