Musi Banyuasin, Barta1.com — Di tengah gelombang transformasi energi nasional, Pemerintah Indonesia melalui PT PLN (Persero) tengah menggeber pemerataan akses listrik ke seluruh pelosok negeri.
Program Listrik Desa (Lisdes) menjadi senjata utama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk membangun infrastruktur kelistrikan di 1.285 desa hingga akhir 2025.
Langkah ini bukan hanya soal menyambung kabel, tapi tentang menyalurkan energi keadilan sosial, memastikan setiap watt listrik membawa harapan baru bagi masyarakat terpencil.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, saat meninjau kemajuan Program Listrik Desa sekaligus penyalaan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Desa Bandar Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin pada 16 Oktober, menekankan bahwa akses listrik adalah hak dasar setiap warga.
Dengan komitmen bersama PLN, pemerintah menargetkan pemerataan energi hingga 2030, sejalan dengan visi nasional untuk mencapai rasio elektrifikasi 100%—yang kini sudah menyentuh 99.83% pada akhir 2024.
Bahlil menyatakan bahwa target Presiden Prabowo ini diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret, yakni penyelesaian pemerataan listrik di seluruh Indonesia pada 2029–2030.
Ini melibatkan pembangunan jaringan tegangan tinggi dan rendah yang masif, memastikan aliran energi stabil mencapai wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), di mana blackout masih menjadi momok harian.
Presiden Prabowo sendiri menargetkan 5.758 desa dan 4.310 dusun bebas dari kegelapan total. Program ini dipercepat untuk memungkinkan masyarakat memanfaatkan listrik sebagai katalisator peningkatan kualitas hidup, dari pendidikan hingga ekonomi lokal, selaras dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 yang menambahkan 69.5 GW kapasitas pembangkit baru.
Menurut Bahlil, membangun infrastruktur di daerah terpencil sering kali tidak menguntungkan secara bisnis bagi PLN karena biaya tinggi untuk instalasi gardu dan jaringan.
Namun, negara wajib hadir untuk menjamin akses energi setara, mengalirkan kilovolt-ampere keadilan bagi seluruh rakyat.
Target Nasional
Bahlil menyatakan bahwa Presiden Prabowo sangat concern pada layanan listrik sebagai bentuk keadilan sosial, meski investasi mencapai triliunan rupiah. Ini sejalan dengan target nasional mencapai 23% campuran energi terbarukan pada 2025, di mana program Lisdes turut mengintegrasikan PLTS untuk desa off-grid.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan komitmen PLN menuntaskan agenda pemerataan, mengikuti arahan Presiden dan Menteri ESDM. Fokus pada wilayah 3T, PLN siap menyalurkan energi yang membawa perubahan besar, dari peningkatan taraf hidup hingga pertumbuhan ekonomi desa.
Darmawan menjelaskan bahwa listrik bukan sekadar penerangan, tapi pembuka lapangan kerja baru melalui usaha kecil berbasis energi. PLN berjanji menerangi seluruh negeri tanpa terkecuali, memanfaatkan teknologi distribusi modern untuk efisiensi tegangan.
Untuk 1.285 desa tahun ini, PLN akan membangun 4.770 kilometer sirkuit jaringan tegangan menengah, 3.265 kms jaringan tegangan rendah, dan 94.040 kVA gardu distribusi. Upaya ini diharapkan menyambung lebih dari 77 ribu keluarga ke grid nasional, meningkatkan kapasitas energi secara signifikan.
“Ini bukan angka semata, tapi transformasi kehidupan: anak-anak belajar di bawah lampu LED malam hari, usaha rumahan berkembang dengan mesin listrik, dan desa menjadi pusat energi kemakmuran,” ujar Darmawan, menekankan dampak sosial dari aliran listrik.
Di Sumatera Selatan, 11 desa termasuk dalam Program Lisdes Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2025, dengan 7 di antaranya di Musi Banyuasin: Desa Bandar Jaya, Epil Barat, Kepayang, Mangsang, Muara Merang, Pangkalan Bulian, dan Sako Suban. Ini bagian dari upaya regional untuk capai 100% rasio elektrifikasi desa, yang sudah mendekati target nasional.
Rosidin, Kepala Desa Bandar Jaya, menyampaikan syukur atas akhir penantian 10 tahun warganya. Dusun 4 Sungai Putih segera teraliri listrik melalui program ini, mendukung perekonomian dan pendidikan anak-anak, berkat kerja keras Presiden Prabowo dan Menteri ESDM.
Rohiya, warga Dusun 4 Sungai Putih, berbagi cerita bergantung genset dengan biaya Rp25 ribu per malam selama jam 6-9 malam. Tanpa uang, rumah gelap gulita; ia berharap proses instalasi lancar, membawa keselamatan dan aliran energi stabil untuk kehidupan lebih cerah. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post