Manado, Barta1.com – Sekelompok petani menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), menyuarakan berbagai persoalan mulai dari dugaan perampasan lahan hingga kelangkaan bibit dan pupuk yang mereka alami.

Menanggapi keluhan tersebut, Anggota DPRD Sulut dari Fraksi PDI Perjuangan, Pricylia Elviera Rondo, turut memberikan pernyataan. Dalam pembahasan dengar pendapat lintas komisi, ia menyoroti keluhan seorang ibu petani yang bersuara lantang mengenai sulitnya mendapatkan pupuk.
“Saat aksi tadi, ada seorang ibu yang berteriak soal kesulitan pupuk. Untuk menjawab keluhan itu, saya menyampaikan, izinkan kami mewakili teman-teman untuk memberikan bantuan pupuk, atau mencarikan solusi lain agar ini bisa berkelanjutan,” ungkap Pricylia.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Sulut ini juga mengusulkan sebuah inisiatif, yakni membangun rumah produksi pupuk di lokasi yang dikoordinasi oleh Bapak Aling. Tujuannya adalah agar kegiatan pertanian dapat terus berjalan secara mandiri dan berkesinambungan.
“Mungkin bantuan bibit yang kami berikan tidak banyak, tapi ini adalah wujud kepedulian kami terhadap para ibu-ibu yang datang ke DPRD untuk menyuarakan keresahan mereka demi kemajuan pertanian dan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pricylia menyampaikan bahwa kepeduliannya terhadap petani bukanlah hal baru. Bersama suaminya, Ir. Mindo Sianipar, ia telah membangun Rumah produksi POC (Pupuk Organik Cair) sederhana, yang tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
“Sudah 25 tahun kami berbagi bantuan POC dan bibit kepada masyarakat. Di Sulut sendiri kegiatan ini sudah berjalan selama 12 tahun, dan itu perpanjangan tangan dari sekolah lapang pertanian di luar Sulut, yakni di Bogor Timur, yang kami miliki” tambahnya.
Tidak hanya memberi bantuan, Pricylia juga menekankan pentingnya pelatihan agar masyarakat bisa mandiri, tidak hanya bergantung pada bantuan.
“Saya juga telah berbicara dengan koordinator KPA. Jika beliau bersedia, kami siap bekerja sama, mengingat sejak 2023 ia pernah membantu menyalurkan pupuk dari kami ke masyarakat,” imbuhnya.
Meski aksi petani kali ini lebih banyak membahas soal lahan, Pricylia menegaskan bahwa ujung dari semua persoalan tetaplah berkaitan dengan kebutuhan dasar pertanian.
“Masyarakat ingin menanam, tapi tidak ada bibit, tidak ada pupuk. Maka saya memilih untuk membahas ke substansi akhirnya, yakni kebutuhan paling mendasar yang harus segera dipenuhi,” pungkasnya. (*)
Peliput: Mekel Pontolondo


Discussion about this post