Christien A. Karambut
Abstrak
Work-life balance (WLB) menjadi isu krusial dalam manajemen sumber daya manusia seiring meningkatnya tuntutan kerja dan kompleksitas peran karyawan di era modern. Artikel ini bertujuan mengkaji penting work-life balance serta dampaknya terhadap kepuasan kerja dan komitmen organisasional karyawan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur terhadap berbagai penelitian empiris yang relevan, baik pada konteks nasional maupun internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa work-life balance memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kepuasan kerja. Karyawan yang mampu menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaannya. Selain itu, work-life balance juga berpengaruh positif terhadap komitmen organisasional, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kepuasan kerja sebagai variabel mediasi. Kepuasan kerja terbukti memperkuat loyalitas, keterikatan, dan keinginan karyawan untuk tetap berada dalam organisasi.
Temuan ini menegaskan bahwa kebijakan dan praktik organisasi yang mendukung work-life balance, seperti jam kerja fleksibel, dukungan supervisor, serta program kesejahteraan karyawan, berperan penting dalam meningkatkan sikap dan perilaku kerja yang positif. Artikel ini menyimpulkan bahwa work-life balance merupakan faktor strategis yang perlu dikelola secara sistematis oleh organisasi guna meningkatkan kepuasan kerja dan komitmen organisasional, serta mendukung keberlanjutan kinerja organisasi.
Kata kunci: work-life balance; kepuasan kerja; komitmen organisasional; manajemen sumber daya manusia; kesejahteraan karyawan
PENDAHULUAN
Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, tuntutan pekerjaan semakin meningkat dan kompleks. Kondisi ini menyebabkan banyak karyawan mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadinya (1).
Work-life balance telah menjadi salah satu isu paling penting yang harus diperhatikan oleh manajemen sumber daya manusia dalam organisasi (2). Terlepas dari ukuran organisasi, perusahaan harus memastikan bahwa karyawan memiliki waktu yang cukup untuk memenuhi komitmen keluarga dan pekerjaan mereka. Work-life balance mengacu pada keseimbangan antara pekerjaan profesional, tanggung jawab keluarga, dan aktivitas personal lainnya (3). Konsep ini menggambarkan bagaimana individu menilai seberapa baik berbagai peran kehidupannya seimbang. Penelitian menunjukkan bahwa work-life balance memiliki dampak signifikan terhadap berbagai outcome organisasi, termasuk kepuasan kerja, komitmen organisasional, dan kinerja karyawan (4). Perubahan pola kerja dan tekanan yang semakin besar dari tuntutan pekerjaan telah memberikan dampak buruk pada kehidupan kerja, sosial, dan keluarga seseorang (5). Oleh karena itu, para peneliti menyarankan agar manajemen sumber daya manusia suatu organisasi mengembangkan kebijakan yang efektif seperti mentoring yang memadai, dukungan, jam kerja yang fleksibel, dan pengurangan beban kerja yang dapat mengurangi konflik kehidupan kerja karyawan dan secara positif mempengaruhi kepuasan serta kinerja mereka.
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya work-life balance dan dampaknya terhadap kepuasan kerja serta komitmen organisasional berdasarkan kajian literatur dari berbagai penelitian empiris yang telah dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir.
TINJAUAN PUSTAKA
Work-Life Balance
Work-life balance didefinisikan sebagai penilaian individu tentang seberapa baik berbagai peran kehidupannya seimbang (3). Work-life balance selama ini lebih banyak berfokus pada domain pekerjaan dan keluarga, padahal tenaga kerja saat ini sangat heterogen dan pekerja mungkin juga menghargai domain non-kerja lainnya selain keluarga, termasuk kesehatan (6). Studi mereka menunjukkan bahwa kesehatan sama pentingnya dengan keluarga dalam work-life balance.
Thilagavathy dan Geetha melakukan kajian sistematis tentang work-life balance dan menemukan bahwa konsep ini memiliki hubungan dengan berbagai bentuk perilaku kerja (7). Mereka menyimpulkan bahwa work-life balance layak diimplementasikan oleh pembuat kebijakan karena manfaatnya yang luas bagi karyawan dan organisasi. Beauregard dan Lesley juga meneliti bagaimana praktik work-life balance berkaitan dengan kinerja organisasi dan menyimpulkan bahwa penggunaan praktik ini akan menarik individu ke organisasi dan secara signifikan meningkatkan sikap karyawan (8).
Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja mengacu pada sikap positif yang dirasakan oleh karyawan terhadap perusahaan tempat mereka bekerja (2). Konsep ini menggabungkan respons kognitif dan afektif terhadap kesenjangan antara apa yang diinginkan karyawan dan apa yang mereka dapatkan. Penelitian sebelumnya sering menghubungkan kepuasan kerja seseorang dengan perilakunya di tempat kerja. Dapat diargumentasikan bahwa karyawan akan lebih berkomitmen pada pekerjaan mereka jika mereka menemukan pekerjaan tersebut memuaskan dan menyenangkan.
Kepuasan kerja
merupakan pendorong untuk penyelesaian tugas dan niat karyawan untuk tetap bekerja di organisasi (7). Persepsi positif karyawan terhadap pekerjaannya meningkatkan kepuasan kerja. Jackson dan Fransman menemukan bahwa work-life balance dan kepuasan kerja berkorelasi positif (7). Dalam penelitian lintas budaya mereka menemukan bahwa work-life balance secara positif terkait dengan kepuasan kerja dan kepuasan hidup di tujuh budaya yang berbeda (3).
Komitmen Organisasional
Komitmen organisasional digambarkan sebagai pertukaran sosial yang saling menguntungkan dan adil (7). Work-life balance secara positif memprediksi komitmen organisasional (9). Kebijakan work-life yang ditawarkan oleh organisasi mengarah pada peningkatan loyalitas dan komitmen karyawan. Work-life balance memediasi sebagian hubungan antara waktu perjalanan kerja, komitmen, dan kesejahteraan karyawan (9). Ahmad dan Raja meneliti hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja bisnis dengan peran mediasi komitmen organisasional dan menemukan hubungan yang signifikan (10). Studi mereka menunjukkan bahwa kepuasan kerja meningkatkan komitmen organisasional yang pada gilirannya meningkatkan kinerja karyawan dan organisasi secara keseluruhan.
PEMBAHASAN
Hubungan Work-Life Balance dengan Kepuasan Kerja
Berbagai penelitian empiris telah menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara work-life balance dengan kepuasan kerja. Susanto dan rekan-rekannya meneliti pengaruh work-life balance terhadap kinerja karyawan UKM dengan peran mediasi kepuasan kerja dan peran moderasi perilaku supervisor yang mendukung keluarga (5). Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa work-life balance memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan kerja dan kinerja, serta kepuasan kerja memiliki pengaruh mediasi parsial pada hubungan antara work-life balance dan kinerja.
Haar dan rekan-rekannya melakukan penelitian lintas budaya dengan sampel 1.416 karyawan dari tujuh populasi berbeda yaitu Malaysia, Cina, Maori Selandia Baru, Eropa Selandia Baru, Spanyol, Prancis, dan Italia (3). Analisis SEM menunjukkan bahwa work-life balance secara positif terkait dengan kepuasan kerja dan kepuasan hidup serta secara negatif terkait dengan kecemasan dan depresi di ketujuh budaya tersebut. Individualisme/kolektivisme dan egalitarianisme gender memoderasi hubungan-hubungan ini.
Gragnano dkk mengkaji pentingnya domain non-kerja lainnya dalam work-life balance dengan fokus khusus pada kesehatan (6). Penelitian mereka yang melibatkan 318 pekerja menunjukkan bahwa pengaruh work-family balance dan work-health balance terhadap kepuasan kerja bervariasi sesuai dengan karakteristik pekerja seperti usia, jenis kelamin, status orang tua, dan kemampuan kerja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan aspek kesehatan dalam konsep work-life balance.
Hubungan Work-Life Balance dengan Komitmen Organisasional
Emre dan De Spiegeleare menggunakan teori konservasi sumber daya dan pendekatan job demands-resources untuk meneliti implikasi waktu perjalanan kerja terhadap komitmen dan kesejahteraan karyawan (9). Dengan menggunakan data dari European Working Conditions Survey, mereka menemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara waktu perjalanan kerja, komitmen, dan kesejahteraan. Hasil juga menunjukkan bahwa work-life balance memediasi sebagian hubungan ini dan otonomi dapat bertindak sebagai penyangga terhadap pengaruh waktu perjalanan kerja pada komitmen dan kesejahteraan.
Abdirahman dkk meneliti hubungan antara kepuasan kerja, work-life balance, dan komitmen organisasional terhadap kinerja karyawan (2). Hasil regresi menunjukkan bahwa semua variabel independen yaitu work-life balance, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional berkorelasi positif dengan variabel dependen yaitu kinerja karyawan. Studi ini menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan kinerja karyawan yang efektif, tingkat motivasi perlu ditingkatkan.
Hasan dkk meneliti pengaruh person-job fit, work-life balance, dan kondisi kerja terhadap komitmen organisasional dengan menyelidiki mediasi kepuasan kerja di sektor swasta Pakistan (11). Penelitian mereka mengungkapkan bahwa work-life balance, person-job fit, dan kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap komitmen organisasional. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik manajemen sumber daya manusia yang mendukung work-life balance dapat meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi.
Peran Mediasi Kepuasan Kerja
Beberapa penelitian telah menguji peran mediasi kepuasan kerja dalam hubungan antara work-life balance dan komitmen organisasional. Work-life balance memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasional dan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (4). Kepuasan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasional, dan kepuasan kerja secara parsial memediasi pengaruh work-life balance terhadap komitmen organisasional.
Implikasi teoritis dari temuan-temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa ketika karyawan merasa diperlakukan dengan baik oleh perusahaan, mereka cenderung merasa puas dengan pekerjaan mereka dan menjadi lebih berkomitmen terhadap organisasi (4). Secara praktis, penelitian ini dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan komitmen organisasional karyawan dengan menerapkan jam kerja yang sesuai sehingga karyawan puas dengan pekerjaannya.
Implikasi untuk Manajemen Sumber Daya Manusia
Temuan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa organisasi perlu memberikan perhatian serius terhadap praktik work-life balance. Organisasi dapat mengambil langkah proaktif untuk mendorong work-life balance dengan memperkenalkan jadwal kerja yang fleksibel, memungkinkan karyawan bekerja dari jarak jauh, atau menawarkan minggu kerja yang terkompresi. Jam kerja yang fleksibel memungkinkan karyawan untuk mengelola komitmen pribadi seperti merawat anak atau menjaga kesehatan pribadi tanpa mengorbankan tanggung jawab pekerjaan mereka (12).
Selain itu, menawarkan program kesejahteraan yang mencakup keanggotaan gym, sumber daya kesehatan mental, dan lokakarya manajemen stres dapat membantu karyawan untuk mengurangi tekanan dan memulihkan energi. Menyediakan cuti berbayar dan mendorong penggunaan waktu liburan juga memainkan peran penting dalam memastikan karyawan memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari pekerjaan dan fokus pada perawatan diri (12).
KESIMPULAN
Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa work-life balance memiliki peran penting dalam meningkatkan kepuasan kerja dan komitmen organisasional karyawan. Penelitian dari berbagai negara dan konteks organisasi secara konsisten menunjukkan hubungan positif antara work-life balance dengan outcome kerja yang positif.
Work-life balance secara positif mempengaruhi kepuasan kerja, yang pada gilirannya meningkatkan komitmen organisasional. Kepuasan kerja juga memediasi hubungan antara work-life balance dan komitmen organisasional. Temuan ini konsisten dengan teori pertukaran sosial yang menyatakan bahwa ketika karyawan merasa didukung oleh organisasi dalam mencapai keseimbangan kehidupan kerja, mereka akan membalas dengan sikap dan perilaku positif terhadap organisasi.
Implikasi praktis dari kajian ini adalah bahwa organisasi perlu mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan yang mendukung work-life balance karyawan. Praktik-praktik seperti jam kerja fleksibel, opsi kerja jarak jauh, program kesejahteraan karyawan, dan dukungan supervisor yang mendukung keluarga dapat membantu karyawan mencapai keseimbangan yang lebih baik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dengan demikian, investasi dalam praktik work-life balance bukan hanya bermanfaat bagi karyawan tetapi juga berkontribusi pada kesuksesan organisasi secara keseluruhan.
Acknowledgement
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Politeknik Negeri Manado sebagai institusi tempat penulis mengabdi atas dukungan yang telah diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Greenhaus JH, Collins KM, Shaw JD. The Relation Between Work-Family Balance And Quality Of Life. Journal of Vocational Behavior. 2003;63(3):510-531. Doi:10.1016/S0001-8791(02)00042-8
2. Abdirahman HIH, Najeemdeen IS, Abidemi BT, Ahmad RB. The Relationship Between Job Satisfaction, Work-Life Balance and Organizational Commitment on Employee Performance. Advances in Business Research International Journal. 2018;20(5):76-81. DOI:10.9790/487X-2005077681
3. Haar JM, Russo M, Suñe A, Ollier-Malaterre A. Outcomes of work-life balance on job satisfaction, life satisfaction and mental health: A study across seven cultures. Journal of Vocational Behavior. 2014;85(3):361-373. doi: 10.1016/j.jvb.2014.08.010
4. Hutagalung I, Soelton M, Octaviani A. The Role of Work Life Balance for Organizational Commitment. Management Science Letters 10. 2020;1(1):1-8. doi: 10.5267/j.msl.2020.6.024
5. Susanto P, Hoque ME, Jannat T, Emely B, Zona MA, Islam MA. Work-Life Balance, Job Satisfaction, and Job Performance of SMES Employees: The Moderating Role of Family-Supportive Supervisor Behaviors. Frontiers in Psychology. 2022; 13:906876. doi:10.3389/fpsyg.2022.906876
6. Gragnano A, Simbula S, Miglioretti M. Work-life balance: Weighing the Importance of Work-Family and Work-Health Balance. International Journal of Environmental Research and Public Health. 2020;17(3):907. doi:10.3390/ijerph17030907
7. Thilagavathy S, Geetha SN. Work-life balance: A systematic review. Vilakshan – XIMB Journal of Management. 2023;20(2):258-276. doi:10.1108/XJM-10-2020-0186
8. Beauregard TA, Henry LC. Making the Link Between Work-Life Balance Practices and Organizational Performance. Human Resource Management Review. 2009;19(1):9-22. doi: 10.1016/j.hrmr.2008.09.001
9. Emre O, De Spiegeleare S. The Role of Work-Life Balance And Autonomy in the Relationship Between Commuting, Employee Commitment and Well-Being. The International Journal of Human Resource Management. 2019;32(1):1-25. doi:10.1080/09585192.2019.1583270
10. Ahmad MR, Raja R. Employee Job Satisfaction and Business Performance: The Mediating Role of Organizational Commitment. Vision: The Journal of Business Perspective. 2021;25(3):168-179. doi:10.1177/0972262920985949
11. Hasan T, Jawaad M, Butt I. The Influence of Person-Job Fit, Work-Life Balance, and Work Conditions on Organizational Commitment: Investigating the Mediation of Job Satisfaction in the Private Sector of the Emerging Market. Sustainability. 2021;13(12):6622. doi:10.3390/su13126622
12. Hofmann V, Stokburger-Sauer NE. The Impact of Emotional Labor on Employees’ Work-Life Balance Perception and Commitment: A study in the Hospitality Industry. International Journal of Hospitality Management. 2017; 65:47-58. doi:10.1016/j.ijhm.2017.06.003


Discussion about this post