Manado, Barta1.com – Di tengah kemajuan Politeknik Negeri Manado (Polimdo) yang hari ini makin dilirik oleh banyak pihak, baik itu industri lokal, nasional, mancanegara, pemerintah hingga masyarakat itu sendiri. Begitulah bahasa pentahelix untuk menjawab akar persoalan yang ada di lapangan, melalui kajian, kebijakan hingga pada tindakannya.

Hal itu pun yang kian dilakukan oleh Polimdo dalam menerapkan pendidikan vokasi, yang berorientasi pada keterampilan praktis, baik itu ditempatkan di dunia industri maupun menerapkan pengabdiannya kepada masyarakat. Peran itu, tidak lepas dari para pendidik Polimdo.

Kecemerlangan Polimdo di bawah kepemimpinan, Dra Mareyke Alelo MBA, hari ini kian menunjukkan keseriusannya untuk semakin dikenal di kancah Internasional, apalagi hari ini ketambahan lagi guru besar yakni Prof. Dr. Hedy Rumambi, SE.AK., MM.

Pada agenda pengukuhan guru besar bagi akademisi dari Jurusan Akuntansi Polimdo itu, Alelo, mengungkapkan profesor bukan gelar akademik seperti master atau doktor, tapi profesor adalah jabatan fungsional tertinggi seorang akademisi, yang memulai perjalanannya dari seorang asisten, seorang lektor, lektor kepala, dan profesor.”
“Di pasal 32 di Undang – Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki gelar profesor itu menggunakannya secara aktif selama dia melakukan tugasnya, selamat buat profesor Hedy dan juga buat seluruh keluarga besar,” ungkap perempuan berdarah Nusa Utara itu pada sambutannya.
Dia mencoba mengungkapkan sebuah quote. “Seorang profesor tidak hanya mengubah nilai seorang mahasiswa, tapi mendorong mahasiswa untuk mencapai kemampuan tertinggi, misalnya dari C diubah B, kemudian B menjadi A.”
“Seorang profesor merubah cerita hidup seorang mahasiswa. Di kampus kita menganut zero waste, bukan hanya untuk sampah, tapi tidak juga mahasiswa berakhir menjadi sampah. Tidak ada mahasiswa sebisa mungkin, ketika datang ke kampus ini dia menjadi drop out, tidak berpengharapan, sikap untuk bunuh diri. Ini adalah tanggung jawab kita semua, termasuk profesor yang kita banggakan,” imbuhnya.
Teruntuk itu, lanjut Alelo, semua diwajibkan termasuk profesor Hedy untuk merangkul mahasiswa dengan seluruh latar belakang agama, ras bahkan pemikiran dan harapan.
Sebelumnya juga, ada Walikota Manado, Andrei Angouw, telah memberikan sambutannya. “Saya mewakili Pemerintah Kota Manado mengucapkan banyak selamat atas pengukuhan guru besar di sidang senat Polimdo ini, khususnya kepada sahabat saya Hedy Rumambi.”
“Ini kiranya bukan akhir dari karya Ibu Hedy, tapi awal untuk terus mencapai yang lebih besar dari ini. Untuk berbuat bagi kemanusiaan, untuk diri sendiri saya rasa sudah selesai yah, tapi bagaimana berbuat untuk kemanusiaan,” jelas mantan Ketua DPRD Provinsi Sulut itu sambil bercanda gurau menceritakan memori sekolah bersama Prof Hedy.
Ia menambahkan, kirannya dengan gelar dan pengetahuan yang ada bisa berbuat di Kota Manado, Sulawesi Utara, khususnya juga untuk Indonesia. “Bagaimana kita memperbaiki kualitas hidup manusia, tentunya untuk anak dan cucu kita ke depannya, para generasi mendatang.”
“Saya berharap guru besar akan menjadi aset bagi Kota Manado, kita bisa membandingkan lagi posisi kita di mana, diawal – awal masa kita (saya) melihat para intelektual dari Manado sangat berperan di nasional,” pungkasnya.
Terpantau dalam pengukuhan guru besar ini dihadiri oleh para pimpinan, akademis, staf dan mahasiswa Polimdo. (*)Editor: Meikel Pontolondo


Discussion about this post