Manado, Barta1.com – Pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara (Sulut) menunjukkan kinerja yang baik pada triwulan 1 – 2025. Di mana pertumbuhan itu, mencapai 5,62 persen secara tahunan dengan pertumbuhan tertinggi pada lapangan pekerjaan usaha transportasi dan pergudangan.
Di tengah pertumbuhan ekonomi, bukan menjamin menurunnya angka pengangguran di Sulut, nyatanya data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut jumlah pengangguran di 15 Kabupaten dan Kota telah mencapai 83,13 ribu atau 3.20 ribu orang per-Februari 2025 atau 6,0 persen.
Meningkatnya angka pengangguran di 15 Kabupaten dan Kota di Sulut membuat, James Tuuk, salah satu tim ahli penyusun program Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Johannes Victor Mailangkay, angkat bicara.
“Ketika angka Pengangguran tinggi, seharusnya perguruan tinggi di Sulut harus dievaluasi, misalnya Unsrat, Unklab, De La Salle dan lain – lainnya,” ungkap James di depan pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Sulut, belum lama ini.
Sedangkan akademisi dari Kampus Polimdo, Arief P Kumaat, SE., MM hari ini, Jumat (23/05/2025), ketika diwawancarai mengatakan Provinsi Sulut saat ini mengalami fenomena yang cukup paradoksal, di mana pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif namun angka pengangguran justru meningkat.
” Kondisi ini mencerminkan adanya ketimpangan antara peningkatan output ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja lokal, yang salah satunya disebabkan oleh ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri,” ungkap Arief, selaku dosen di Jurusan Administrasi Bisnis Polimdo.
Oleh karena itu, kata Arief, peran pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi sangat krusial sebagai strategi untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Pemerintah daerah bersama institusi pendidikan vokasi, perlu memperkuat sinergi dengan pelaku industri lokal melalui penyusunan kurikulum pembelajaran yang terintegrasi dengan industri, program magang sesuai kebutuhan dunia kerja, serta pelatihan berbasis kompetensi yang relevan dengan sektor unggulan daerah, seperti pertanian, pariwisata, perikanan, dan ekonomi kreatif.
“Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal, tetapi juga mendorong terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Sulut,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post