Manado, Barta1.com – Masihkah kita berpihak kepada rakyat ? sebuah pertanyaan yang dihubungkan pada diskusi publik yang bertemakan “Refleksi Gerakan 27 Tahun Reformasi” digelar oleh Dema IAIN Manado bersama PMII Cabang Metro Manado, tepatnya di Gedung Terpadu IAIN Manado, Kamis (22/5/2025).

Agenda ini menjadi ruang renungan sekaligus kritik di hadapan ratusan peserta dari berbagai elemen mahasiswa dan organisasi pemuda, Arif Hariadi, aktivis 98 juga sebagai fasilitator mengawali diskusi dengan menggugah ingatan kolektif.

“Apakah mahasiswa satu-satunya aktor perubahan di 1998? bukankah rakyat juga berdarah-darah?” tanya dia, sembari mengajak hadirin keluar dari romantisme sejarah.
Diskusi yang dipandu oleh Aldi Sinatriya ini menghadirkan enam ketua organisasi mahasiswa lintas kampus. Mereka datang bukan sekadar memberi tanggapan, tapi membawa kegelisahan zamannya.
Ketua GMNI Manado, Hizkia Rantung, menyuarakan kekecewaannya: “Gerakan kritis tak lagi lahir dari kampus, tapi dari luar.”
Begitupun dengan Ketua PMII Metro Manado, Fadal Monoarfa, menambahkan. “TNI kembali masuk ke kampus dan itu membunuh keberanian berpikir.”
Sementara itu, Agnes Laratmase dari PMKRI Manado mengangkat luka lama: pelecehan seksual terhadap perempuan Tionghoa saat reformasi yang kini seakan dilupakan.
Ketua IMM Manado menyoroti lemahnya supremasi hukum, sekaligus LMND mengingatkan bahwa reformasi adalah hasil jerih payah mahasiswa dan rakyat, bukan satu kelompok semata.
Perwakilan GMKI, Axel Lasut, mengajak peserta merenungi ulang: apa yang telah kita capai sejak 1998? Dan ke mana arah gerakan hari ini ?.
Dalam penutupnya, Arif Hariadi mengutip pemikir Frankfurt School dan Soedjatmoko: “Sikap kritis adalah nafas masa depan. Jika pendidikan menutup ruang untuk bertanya, maka itu bukan lagi pendidikan.”
Suasana menjadi haru ketika para ketua organisasi menyuarakan satu suara: berbeda ideologi tak menjadi penghalang, selama berpihak pada yang tertindas.“Musuh kita bersama adalah penindasan,” tegas Ketua PMII Metro.
Diskusi ditutup dengan video dukungan untuk masyarakat Mamuju, Ternate, dan Manado Utara sebagai pengingat bahwa gerakan bukan hanya soal ruang kelas atau podium, tapi tentang keberpihakan yang nyata. (*)
Editor : Meikel Pontolondo


Discussion about this post