Manado, Barta1.com – Sebagai bagian dari penelitian berjudul “Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Produksi Gula Semut Berkelanjutan dengan Integrasi Photovoltaic System Sebagai Solusi Industri Pertanian Ramah Lingkungan”, telah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Identifikasi Strategi dan Model Bisnis untuk Usaha Pembuatan Gula Semut di Sulawesi Utara” di Hotel Sentra Manado, kamis (30/01/2025).
FGD ini bertujuan untuk mencari pola dan strategi bisnis yang sesuai bagi pelaku usaha dan petani penghasil gula semut di Sulawesi Utara. Tim peneliti berasal dari Politeknik Negeri Manado (Polimdo) dengan lintas keilmuan. Program riset ini merupakan bagian dari Program Katalisator Kemitraan Berdikari, yang didukung penuh oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Utara, akademisi, konsultan bisnis, serta pelaku usaha gula semut, serta tim peneliti katalisator kemitraan berdikari Polimdo.
Ketua tim peneliti, Melky Paendong, SE.,MBA mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk menggali informasi terkait potensi dan keadaan produksi gula semut, mengingat komoditas ini merupakan salah satu komoditas potensial khas Sulawesi Utara yang diharapkan dapat memberi daya saing dalam industry olahan pertanian.
Narasumber pada FGD ini , antara lain Ir. Victory Palar, M.Si (Dinas Koperasi UMKM Provinsi Sulut), Maikel Kawengian, S.E., M.M (Praktisi, Akademisi dan Konsultan Bisnis), dan Ferry Eldridge Pomantow (Ketua Kelompok Tani “Tala-Ut Jaya”) yang juga merupakan mitra dari penelitian katalisator kemitraan berdikari ini.
Dalam diskusi itu, Ir. Victory Palar menyatakan bahwa Dinas Koperasi dan UMKM telah memfasilitasi petani aren di Minahasa Selatan melalui program LPDB dengan bunga 4% dan menyarankan pemanfaatan KUR. Beliau juga merekomendasikan, terkait pengemasan gula semut dan kesiapan Dinas Koperasi Sulawesi Utara untuk membantu kerja sama dengan perusahaan pengemasan di Surabaya.
“Pentingnya peningkatan kelompok tani menjadi koperasi atau BUMDES untuk mempermudah pendanaan, standarisasi produk, dan pendampingan pengurusan Merk Usaha,” ungkap Victory.
Maikel Kawengian juga menyoroti pentingnya pendampingan pemasaran digital bagi petani aren, perlunya penambahan bibit, SDM, dan alat produksi modern, serta dukungan pemerintah untuk memfasilitasi pembeli. Ia juga menekankan perlunya kerja sama kelompok tani dengan pemerintah dan kampus untuk mengikuti Expo UMKM, memperluas kemitraan, standarisasi produk (Grade A), branding produk, serta program bundling dan insentif untuk petani.
Begitupun Ferry Eldridge Pomantow mengungkapkan bahwa Kelompok Tani Tala-Ut Jaya kesulitan memenuhi permintaan pasar karena panen aren yang musiman, terutama pada bulan September-Desember. Ia juga menjelaskan bahwa mayoritas penduduk Desa Talaitad Utara berprofesi sebagai petani aren (80% dari 245 KK) dengan produk utama gula semut dan cap tikus.
Kendala lain yang dihadapi, kata Ferry, adalah cuaca, sehingga fokus penjualan ke satu pembeli yang menyebabkan monopoli harga, kualitas produksi yang kurang higienis, perubahan warna gula semut, kebutuhan ruang penyimpanan yang lebih baik, minimnya lahan, serta kebutuhan alat pengecekan kadar asam.
FGD ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam penelitian yang lebih luas mengenai penerapan teknologi tepat guna dan keberlanjutan dalam produksi gula semut, serta merumuskan strategi bisnis yang tepat sasaran untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mengembangkan industri gula semut di Sulawesi Utara.
Diketahui susunan tim peneliti Polimdo :
Ketua: Melky Paendong, SE, MBA
Anggota:
Arief Kumaat, SE, MM
Stieven Rumokoy, ST, MT
I Gede Para Atmaja, ST, MT
Adelaida Joroh, SE, MM
Dominikus A. Maryadi, M.Ak


Discussion about this post