Talaud, Barta1.com — Irwan Hasan, SE, MTh adalah Bakal Calon Bupati Talaud yang menggagas gerakan membangun politik yang bermatabat di Talaud lewat organisasi Poros Baru Porodisa.
Bukan saja jelang Pilkada Talaud November 2024, namun jauh sebelumnya, putra Talaud asal pulau Karakelang ini lewat gerakan Poros Baru Porodisa yang dipimpinnya secara ajek mulai menggelar sejumlah diskusi terkait pendidikan politik bagi masyarakat Talaud.
Menurut dia, pada dasarnya, setiap warga negara membutuhkan dan wajib memiliki kecerdasan politik dan ikut serta berpastisipasi dalam melahirkan keputusan politik.
Irwan Hasan, dikenal sebagai pribadi yang serius dalam segala urusan. Ia sukses di dunia usaha karena keseriusan menggelutinya. Ia dipandang sebagai seorang pengusaha skala nasional yang terpercaya.
Di rana pelayanan gerejani, ia jalani dengan sungguh sebagai seorang pendeta. Bahkan untuk tugas pelayanan ia terus menempu pendidikan theologi hingga baru-baru ini diwisuda sebagai Master Theologi (M.Th.) dari sebuah perguruan tinggi Theologi.
Lantas apa yang menggerakan Irwan Hasan hingga terjun ke dunia politik?
Dalam wawancara dengan Barta1.com belum lama, ia mengatakan ada panggilan moral dalam sanubarinya sebagai putra Talaud untuk membangun daerah tercinta Talaud lewat rana politik.
“Di sebuah daerah bahkan negara, segala sesuatu bergantung pada keputusan politik. Kita tak mungkin berharap harga pangan untuk rakyat yang terjangkau bila kita berada di luar pengambilan keputusan politik,” ujar Irwan Hasan.
Di ruang-ruang politiklah, lapangan kerja, gaji buruh, kebebasan berserikat, hak-hak sipil dan hak-hak politik serta semua yang menyangkut hajat hidup rakyat diputuskan, kata Irwan Hasan mengutip Bertolt Brecht, seorang pemikir kebudayaan dan penulis drama realis revolusioner kelahiran Augsburg, Jerman, 1898.
Karena selain dipandang sebagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara, politik kata Irwan Hasan, dalam pengertian dasarnya merupakan suatu fenomena yang sangat berhubungan dengan kehidupan manusia yang merupakan makhluk sosial.
“Karena itulah di negara-negara demokrasi, kultur politik bangsanya dibangun di atas pemahaman pemerintahan yang tunduk pada semangat dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, “ ujarnya.
Lebih jauh dijelaskannya, dalam mencapai kenyataan di tingkat kerja-kerja politik di Talaud bahkan di Indonesia, sebagaimana cita-cita reformasi, kultur politik bangsa harusnya tumbuh di atas pondasi keadaban, yaitu kemanusiaan, komunalitas, persaudaraan, kesetiakawanan dan keadilan.
“Real politik harus menjadi kesungguhan dalam berpolitik, bukan pembenaran bagi praktek dagang sapi atau politik transaksional.”
Politik diharapkan menjadi jalan raya gerakan perubahan, menjadi cita-cita yang realistis, bukan asesoris. Politik harus menjadi booster utama terbangunya jalan berkat untuk rakyat itu.
“Di Talaud, politik harus jadi instrumen pendorong, penyokong bahkan penggerak bagi terwujudnya kesejahteraan rakyat. Ini sejatinya yang diharapkan tingkat kerja-kerja politik di Kabupaten Kepulauan Talaud,” ungkap Irwan Hasan.
Itu sebabnya ia terpanggil ikut partisipatif dalam dunia politik, kata dia, sebagai bagian dari upaya membangun keadaban politik yang bermartabat.
Sebab apa yang nampak saat ini, sebut dia, secara umum di Indonesia kultur politik lebih banyak memancarkan energi animalitas yang melahirkan kecenderungan yang digambarkan Aristoteles, sebagai kekuasaan yang hanya menjadi milik segerombolan orang, hingga demokrasi menjadi sebuah sistem yang bobrok.
Tak pelak, drama terbesar yang tersuguh dalam pergulatan politik itu tak lebih ekses demokrasi yang menyebakan cita-cita reformasi berupa demokratisasi tak berjalan sesuai harapan.
Sesuatu yang mahal yaitu fondasi keadabannya seakan sirna, dan berganti pemandangan miris kekerasan, intoleransi, kesenjangan, ketidakadilan, dan degradasi moral. Bahkan merebaknya politik dinasti akibat struktur pemerintahan yang oligarkis yang jelas memberangus nilai-nilai demokrasi.
“Ketika birokrasi negara dihuni dan dikuasai oleh mereka yang memilki relasi kekeluargaan maupun kekerabatan, maka tersumbatlah hak dan kebebasan setiap kelompok maupun individu dalam mengakses kekuasan,”ungkap figur politisi yang dikenal visioner itu. (*)
Penulis:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post