• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Jumat, Juni 26, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya

Sisi Menarik Bacabup Talaud Irwan Hasan Bicara Tradisi Leluhurnya

by Ady Putong
26 Juni 2024
in Budaya, Politik
0
Pendukung riuh menyambut kehadiran bakal calon bupati Talaud Irwan Hasan. (foto: poros baru porodisa)

Pendukung riuh menyambut kehadiran bakal calon bupati Talaud Irwan Hasan. (foto: poros baru porodisa)

0
SHARES
244
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bakal Calon Bupati (Bacabup) Irwan Hasan SE, M.Th., mengunjungi 103 kampung di kepulauan Talaud pada Juni 2024 dan disambut semarak warga daerah perbatasan itu.

Di hadapan ratusan warga yang berkumpul di sejumlah titik pertemuan, Bacabup Irwan Hasan, dengan fasih bicara dalam bahasa Talaud terkait visi dia di seputar pemajuan Talaud dan akar tradisi budaya masyarakat Talaud dengan cara yang menarik.

Kedekatan dan kecintaannya pada daerah Talaud, kata Irwan Hasan saat diwawancarai barta1.com belum lama, karena ia memang putra Talaud yang lahir dan besar di Talaud.

“Saya bangga menjadi orang Talaud dan hidup dalam tradisi budaya Talaud yang luhur. Ini sebuah gugus kepulauan yang benar-benar memiliki akar sejarah panjang kehidupan yang adiluhung,” kata Irwan Hasan.

Dijelaskannya, Profesor Bellwood, peneliti dari Inggris berkebangsaan Swiss yang berdomisili di Australia dan juga dosen terbang dari Universitas Chambera, pada 1974 pernah meneliti wilayah kepulauan Talaud.

Hasil penelitiannya mengungkap perjalanan panjang masyarakat yang mendiami gugus kepulauan tersebut dengan ditemukannya peninggalan keramik dari cina di kuburan-kuburan tua, di gua-gua.

Di arsip pusat arkeologi Nasional, Bellwood menyatakan benda-benda berupa keramik, kapak batu dan barang-barang peninggalan lainnya yang ditemukannya di Talaud itu diperkirakan berusia 6000 tahun SM.

Sementara skspedisi Ferdinand Magelhaens (1511-1521) yang pernah tiba di kepulauan ini dengan seorang kepala armada perahu layar bernama Santos menemukan ketika itu pulau Karakelang masih bernama Maleon, Sinduane untuk Salibabu, Tamarongge untuk Kabaruan, Batunampato untuk kepulauan Nanusa, dan Tinonda untuk Miangas.

Merespons jejak sejarah tersebut, calon Bupati Talaud dari koalisi Partai Golkar, Gerindra dan Perindo Irwan Hasan mengatakan upaya masyarakat perbatasan ini menjaga identitas tradisi dan budaya mereka sangat menarik dikaji dan diaktualisasikan kembali.

Sebab, kata Irwan Hasan, di waktu yang panjang praktik kebudayaan dalam aras lokal telah merupakan penjamin terjaganya sebuah komunitas yang lebih besar.

“Secara empiris, kepatuhan warga masyarakat Talaud kepada adat dan pemuka-pemuka adat atau tokoh masyarakat lainnya masih sangat kuat. Hal itu terlihat pada keberadaan lembaga adat seperti “Ratumbanua” dan “Inangngu wanua” serta “timmadde ŗuanga” yang mengatur pelaksanaan tradisi dalam kampung seperti pelaksanaan budaya “eha” atau pantang berkala, yang diberlakukan pada tanaman kelapa pada setiap periode kuartal,” ungkapnya.

Eha, dan tradisi menangkap ikan “Manami dan Mane’e” menurutnya adalah bagian dari cermin terbening dalam eksistensi budaya orang Talaud yang masih terpelihara hingga kini, yang mengatur masyarakat itu dalam mengelola hidup dan sumber penghidupan mereka.

Belakangan ini, pulau Kakorotan sangat dikenal karena penduduknya masih hidup dalam tradisi tua mereka, Mane’e. Tradisi menangkap ikan dengan menggunakan janur (daun) kelapa. Sistem nilai kearifan lokal ini juga tercermin pada karya-karya kesusasteraan masa lampau negeri itu, semisal syair di bawah ini:

“Upung-upung waroa, anggile u wae
Wae ipaura, ipandamu ghati
Sio rotewe, tuarinu adoiwe”

Syair lagu rakyat Talaud di atas dapat diterjemakan secara bebas: Wahai para leluhur burung bangau// berikanlah aku air//untuk apa air itu?// untuk membasuh wajahku// ya pergilah ambil// tapi ingat sisakan untuk adikmu.

Meresepsi syair lagu bernuansa fabel di atas, kita langsung dipertemukan dengan dunia makna yang luhur. Tampak relasi manusia dan alam berlangsung dalam suatu tatanan hormonis, saling menghormati, saling menghargai.

Ada nilai regenerasi, ada tata krama dan etika, dan beragam nilai luhur sumber kehidupan yang dapat diinterpretasikan pada simbol air untuk membasuh wajah. Bahkan dalam tafsir sosiologis, fabel ini mewariskan perilaku etis dari kehidupan komunal masyarakat Talaud.

Ketika orang-orang di selatan (Sangihe dan Sitaro) memetaforkan praktik kekuasaan tirani sebagaimana perangai raksasa, orang Talaud justru memfabelkannya sebagai babi.

Hal tersebut dapat ditelusuri lebih dalam pada cerita rakyat masyarakat pulau Karakelang yang sangat popular, tentang seekor babi bernama “Yologe”.

Kekuasaan tirani digambarkan sangat merusak tatanan hidup masyarakat. Sifat rakus yang memangsa apa saja milik masyarakat di kebun kehidupannya. Ini barangkali sebabnya, seorang pelaku kejahatan disebut secara leceh “Wawi” (Babi) dalam tradisi setempat.

Menjelajahi beragam kisah masa lampau yang hidup dalam ingatan massal orang-orang Talaud, mengingatkan kita pada ungkapan Yuval Noah Harari, sejarawan Israel dalam, Sapiens; A Brief History of Humankind (2014). “Bahwa dari semua spesies yang hidup di bumi, hanya manusia yang mampu mengembangkan cerita dan mencipta fiksi, dan sekaligus mempercayainya, serta hidup di dalamnya.”

Dan ketertarikan manusia terhadap cerita-cerita fiksi ini adalah anugerah evolusi yang tidak bisa dihindari serta sudah terjadi sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Di masa itu, fiksi-fiksi—seperti legenda, mitos, dewa-dewa dan agama—muncul untuk pertama kalinya yang membuat manusia mampu berhimpun dan membentuk kelompok dalam jumlah yang sangat besar yang tidak bisa dilakukan oleh spesies yang lain.

“Dan di Talaud, lembaga-lembaga tradisi semisal “Inanguwanua” dan “Ratumbanua” bagi mereka adalah benteng terakhir penjaga nilai keskralan dunia susastra lama itu. Semacam bibliografi besar yang menampung segala informasi tradisi budaya bahkan jejak-jejak kehidupan dari masa paling jauh,” ungkap Irwan Hasan.

Sebagai putra Talaud yang hidup dan besar di Talaud, Irwan Hasan mengatakan, orang-orang tua di negerinya itu hingga kini masih mengisahkan dongeng-dongeng heroik suku bangsa Talaud dengan tujuan menyalakan api semangat dan daya hidup masyarakat.

Pada kisah-kisah perampokan, para penjarah tersebut dipersonifikasikan dalam beragam karakter binatang. Sementara asal-usul manusia muncul dalam berbagai versi, baik tentang para pendatang dari Cina seperti dikisahkan dalam cerita rakyat masyarakat Pulutan “Atoanna”. bahkan yang datang dari Eropa yang dikisahkan dalam cerita rakyat masyarakat Lirung dalam legenda “Airung”.

Tak luput juga keasalan dari dunia khayangan seperti dalam legenda Manongga dari masyarakat yang mendiami pulau Kakorotan, atau “Pohon Putri Lungkang” dari masyarakat yang mendiami Pulau Karakelang.

Talaud juga diperkaya fiksi-fiksi dari dunia esoteris nabati, fabel dan puisi-puisi atavisme kakumbaeda. Di pulau-pulau Talaud, kisah-kisah fiksi dan sastra semacam itu terwaris dengan indah pada ingatan kami sejak masa kanak-kanak.

Dalam catatan sejarah Talaud yang dihimpun tim gerakan Poros Baru Porodisa yang dibentuk Irwan Hasan, disebutkan, sebelum dan sesudah abad 16, harta dan tanaman-tanaman orang-orang Talauda selalu dirampok oleh para perompak Mangindano dari kepulauan Sulu, Filipina.

Pada masa penjajahan Belanda, orang-orang Talaud hampir-hampir kehilangan hak mereka atas tanah dan harta-harta mereka yang lain. Di masa pendudukan Jepang, mereka menjadi para pekerja paksa dan banyak yang terbunuh.

“Peristiwa demi peristiwa itu menginspirasikan penciptaan berbagai hikayat yang dikisahkan terus menerus antar generasi. Dan setiap bentuk, jenis seni budaya dan tradisi mengandung nilai luhur dan budi pekerti yang patut diketahui, diajarkan, dan dilestarikan sebagai kekayaan peradaban suku bangsa Talaud,” tulis dokumen itu.

Ada ratusan dan mungkin ribuan cerita rakyat suku bangsa Talaud, juga syair-syair indah dalam bentuk sastra lisan atau sastra tutur sudah tidak diketahui masyarakat umum pada masa kini.

Khazanah sastra lama ini adalah kekayaan budaya yang harusnya menjadi cermin refleksi untuk meraih masa depan. Karena budaya dan tradisi adalah identitas sebuah bangsa.

Dalam catatan reflektis Poros Baru Porodisa dikatakan, identitas itu adalah akar dan pondasi untuk tumbuh di tengah kemajuan zaman sebagai manusia yang berkarakter.

Cerita rakyat adalah karya kesusastraan masa lampau dan diciptakan oleh para sastrawan masa lampau. Kendati karya-karya ini datang dari suatu masa yang telah jauh, dari tengah peradaban yang telah lalu, bukan berarti ia menjadi lalu dan basi atau bahkan tak berguna untuk masa kini.

Sebagaimana karya sastra masa kini, cerita rakyat mengandung nilai luhur, nilai universal yang abadi, yang tetap hidup sepanjang zaman. Sebagai karya sastra, cerita rakyat juga memberi kemungkinan lahirnya sebuah tafsir baru, sebuah interpretasi yang canggih, yang melampaui zamannya.

Sebagaimana antropolog, Clifford Geertz, memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang melingkupi seluruh hidup dan bahkan merasuki seluruh kehidupan manusia. Dalam “The Interpretation of Culture”, ia menawarkan konsep kebudayaan yang sifatnya interpretatif, di mana kebudayaan dilihat sebagai suatu teks yang perlu diinterpretasikan maknanya, perlu dilakukan penafsiran untuk menangkap makna yang terkandung dalam kebudayaan tersebut.

“Hal tersebutlah yang dilakukan orang-orang Talaud dalam gerakan Poros Baru Porodisa,” kata Irwan Hasan.

Gerakan Poros Baru Porodisa, sebut dia, menempat kebudayaannya sebagai jaringan makna yang kemudian ditafsirkan dan dirumuskan kembali menjadi sebuah falsafah bersama.

“Falsafah tersebut merupakan petunjuk-petunjuk moral etik yang diyakini merupakan petuah para leluhur untuk semangat hidup bersama, bersatu pada sebuah rumah budaya Talaud, sebagai suku bangsa Talaud,” imbuh Irwan Hasan, yang dikenal sebagai salah seorang tokoh Talaud yang saat ini tengah mempersiapkan diri menuju Pilkada Bupati Talaud 2024. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: bacabup talaudirwan hasan
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Dosen dan mahasiswa Jurusan Akuntansi Polimdo, setelah mengikuti edukasi tentang kekerasan seksual. (foto: istimewa)

Cegah Kekerasan Seksual, Jurusan Akuntansi Polimdo Sosialisasi PERMENDIKBUD 30/2021

Discussion about this post

Berita Terkini

  • AMDATARA Resmi Hadir di Sulut, Berikut Susunan Pengurusnya 25 Juni 2026
  • Plt Bupati dan Ketua TP-PKK Membaur di HUT ke-168 GMIST Imanuel Kelling Balehumara 25 Juni 2026
  • Bupati Michael Thungari Promosikan Potensi Sangihe di Penutupan PENAS XVII 25 Juni 2026
  • Listrik Tanpa Kedip Kawal Kunjungan Presiden di PENAS XVII Gorontalo 25 Juni 2026
  • Mengapa Sulawesi Utara Harus Berani Bersuara Stop Perkawinan Anak? 24 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In