Manado,Barta1.com – Tidak semua perempuan mau menjalani pekerjaannya, sebagai seorang driver. Baik itu roda dua maupun empat, namun berbeda dengan Afiifah Putri Fadhillah.
Perempuan kelahiran 30 Agustus 1999 itu, memulai pekerjaannya itu sejak dirinya mahasiswa. “Saya memulainya dari grab pada tahun 2017, kemudian tahun 2020 berpindah ke indrive,” ungkap Aflifah kepada Barta1.com, Sabtu (25/05/2024).
“Saya bahagia dengan pekerjaan ini. Ini kan bukan soal pekerjaan lelaki saja, melainkan perempuan juga bisa,” ujarnya.
Anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Julita Jaya dan Abdul Rauf menambahkan, yang terpenting pekerjaan itu halal dan tidak selalu bergantung dengan orang tua, anak muda itu harus mandiri.
“Apapun pekerjaanmu lakukanlah itu dengan baik dan jauhi yang namanya gengsi,” singkat Alumni Politenik Negeri Manado ini.
Bahkan sesuatu yang ingin dia beli, dicapai Afiifah, dengan hasil jerih payahnya sendiri, sebagai seorang driver. “Saya tidak mau menjadi anak yang manja, apalagi mengharapkan kepunyaan atau penghasilan dari orang tua. Sebagai anak, kita harus menjadi perintis dan bukan sekedar pewaris,” terangnya.
“Alhamdulillah dengan pekerjaan ini pendapatan saya berkecukupan, tidak lebih dan kurang. Dengan penghasilan bersih setiap harinya itu Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000, jika ramai mencapai 250.000. Hasilnya ini, bisa ditabung, membeli apa yang diinginkan, membayaran cicilan rumah sendiri dan dipakai untuk touring,” tuturnya.
Menjadi seorang driver, tentunya memiliki suka dan dukanya, tersendiri. Bahkan perempuan berparas cantik itu menyebut, sukanya itu ketika mendapatkan penumpang yang bisa diajak ngobrol.
“Banyak penumpang yang suka menceritakan tentang kehidupannya. Dan cerita mereka, itu menjadi pembelajaran hidup bagi saya pribadi. Bahkan ada yang menawarkan, snack dan kopi, saat di perjalanan” jelasnya.
Bukan itu saja, tambah Afiifah, terkadang ada penumpang yang memberinya uang lebih dari yang diharapkan, sehingga membuatnya tidak enakan.
“Pernah mendapatkan penumpang, yang merupakan pemilik angel collection. Dia dijemput di angel collection menuju rumahnya di Citraland. Dalam perjalanan dia bertanya, sudah dapat berapa hari ini. Saat itu, saya menjawab sedikit, karena sunyi” katanya sembari menyebut begitulah resiko sebagai seorang driver.
Setiba di rumahnya, pemilik angel collection itu turun lebih dahulu, kemudian yang membayar biaya indrivenya itu adalah pekerjanya. Afiifah melihat uang yang diberikan kepadanya, langsung berseruh uangnya kelebihan. Pekerja itu menjawab, ambil saja.
“Dengan kejadian itu, saya merasa sangat bersyukur. Rasa lelah itu terbayarkan, dengan adanya orang baik. Itu kejadian yang paling berkesan. Maka dari itu, melalui tulisan ini saya mau mengucapkan banyak terima kasih,” ucapnya.
Sedangkan cerita dukanya, ketika menemukan penumpang yang nakal, yang menganggap Afiifah itu sebagai perempuan panggilan. “Ada penumpang yang mau mencoba mengajak saya ke hal-hal yang tidak baik, tapi saat itu, tetap bersikeras menjawab bahwa saya bekerja dari pagi sampai malam untuk mencari uang halal, bukan yang tidak halal,” tegasnya.
“Sepanjang perjalanan saya terus digoda, sebenarnya kepikiran untuk menurunkan penumpang tersebut di jalan, tapi saya berpikir lagi. Bahwa dia adalah penumpang yang harus dianggap raja, sekalipun saat itu sudah sakit hati. Bersyukur, sampai tujuan dengan tidak terjadi apa-apa,” imbuhnya.
Duka selanjutnya, ketika berusaha cepat untuk menjemput penumpang, karena diminta cepat. Saat tiba dititik, ternyata orderannya fiktif. “Ketika terjadi seperti itu, mau marah kesiapa ? mungkin ini sudah menjadi resiko,” cetusnya.
“Setiap pekerjaan pasti ada resikonya, tergantung bagaimana kita menerimannya, tapi seorang pejuang pasti akan terus berusaha, sekalipun gagal. Ia akan terus, mencobannya sampai berhasil,” tandasnya.
Selain menjadi seorang driver, Afiifah juga pernah bekerja di salah satu toko di Kota Manado. Untuk membagikan waktunya, ia bekerja pagi sampai sore hari, kemudian melanjutkan pekerjaannya, yakni indriver.
“Sebagai perempuan harus berani mencoba dan harus menjadi pekerja keras. Apapun pekerjaan kita, lakukan itu dengan segenap hati. Dan terakhir jangan pernah gengsi,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post