• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Mei 27, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Pendakian Gunung Kerinci, Begini Pengalaman Wendy Romario

by Meikel Eki Pontolondo
30 April 2024
in Edukasi
0
Wendy Romario saat berada di puncak Gunung Kerinci. (Foto; istimewa)

Wendy Romario saat berada di puncak Gunung Kerinci. (Foto; istimewa)

0
SHARES
468
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado,Barta1.com – Gunung Kerinci dikenal sebagai atap Sumatera. Dengan ketinggian 3.805 MDPL, yang keberadaannya di Pulau Sumatera, Provinsi Jambi, Indonesia.

Gunung berapi ini juga dikenal sebagai Gunung tertinggi di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Dikelilingi hutan lebat, serta ditempati oleh beberapa habitat, seperti Harimau dan Badak Sumatra. Begitulah cerita, Wendy Romario kepada Barta1.com, Minggu (26/04/2024).

Wendy Romario saat berada di jalur pendakian bersama 2 pendaki dari mancanegara. (Foto: istimewa)

Wendy, merupakan salah satu pendaki asal Sulawesi Utara mencoba menceritakan pengalamannya saat melakukan pendakian di Gunung Kerinci. “Kerinci memiliki medan yang lebih banyak menanjak, seperti kebanyakan Gunung lainnya.”

“Menanjak disertai dengan lorong-lorong yang sempit dan ditutupi oleh berbagai tumbuhan, atau sering dikenal dengan lorong tikus. Akan ditemui oleh setiap pendaki, ketika melakukan pendakian ke Gunung Kerinci” ungkap Wendy.

Wendy Romario saat berada Pintu Rimba Gunung Kerinci. (Foto: istimewa).

Pemuda kelahiran Sonder, 19 Juli 1997 ini menambahkan, bahkan tumit bertemu dengkul sudah tidak bisa dihitung lagi, akibat medannya yang terbilang ekstrem. Selain medan yang menanjak, sesekali juga setiap pendaki harus memanjat untuk melewati akar pohon.

“Jalur pendakian yang kami ikuti itu di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi. Jalur pendakian ini juga dikenal dengan Tugu Macan, karena ada monumen Tugu Macan sebelum mengarah ke Pintu Rimba,” ujarnya.

Jalur Tikus Gunung Kerinci. (Foto: istimewa)

Lanjut anak tunggal dari pasangan Ronny dan Lili ini menyebut, ada sebanyak 3 pos dan 3 shelter di Gunung Kerinci. Pos 1 menuju pos 3, medannya tergolong mudah. Kemudian ketika memasuki shelter 1, 2 dan 3, semuanya menanjak dan melewati berbagai akar pohon dengan ketinggian rata-rata di atas 2 sampai 3 meter.

“Melihat dari medan yang ada ini, tentunya teman-teman pendaki akan mendapatkan kesulitan ketika membawa carrier dengan ukuran yang besar. Kemudian, kesulitan lainnya juga adalah saat berada di puncak yang kemiringan lereng sampai 80 derajat dengan potensi tergelincir, yang dikarenakan bebatuan vulkanik berwarna merah yang licin dan berpasir halus,” ucapnya.

Wendy Romario saat berada di shelter 2. (Foto: istimewa).

Setiap kesulitan, kata Wendy, pasti ada jalan keluarnya. Jalan keluar yang selalu dilakukan, seperti beristirahat ketika mengalami kelelahan saat perjalanan. Berikutnya, harus fokus mengikuti jalur yang sudah ada, karena Gunung Kerinci hutannya sangat lebat, salah melangkah bisa tersesat. Kemudian, berhati – hati saat berada di puncak, karena ada beberapa jalurnya yang begitu licin. Selanjutnya,
navigasi darat sangat diperlukan, apabila dalam keadaan darurat di Gunung Kerinci.

“Dari setiap medan yang saya ceritakan tadi, ketika semua bisa dilewati, maka teman-teman akan mencapai puncak Gunung Kerinci, yaitu puncak Indrapura. Dari puncaknya itu, setiap pendaki akan melihat pemandangan yang menakjubkan, seperti keindahan Kota Jambi, Padang dan Bengkulu, hingga bisa melihat samudra hindia yang membentang,” terang pemuda yang memiliki bisnis Outdoor dengan nama toko Klabat Outdoor Jakarta.

Tambah Wendy, menuju puncak Indrapura dari Pintu Rimba tergolong cepat hanya memakan waktu 3 hari 2 malam. “Hari pertama pos 1 sampai shelter 1, hari kedua shelter 1 ke shelter 3, hari ketiga sampai puncak Indrapura, kemudian siangnya langsung turun lagi ke Pintu Rimba. Akan tetapi, kebiasaan para pendaki di hari ketiga itu masih melakukan camping di shelter 3 untuk menikmati pemandangan, dan besoknya baru turun.”

“Selain medan dan keindahan dari Gunung Kerinci yang bisa diceritakan, ada pula hal – hal yang perlu dilakukan oleh setiap pendaki,  seperti pada umumnya bersikap sopan santun dan menjaga kebersihan (sampahnya harus di bawah kembali turun). Untuk pengalaman mistisnya tidak ada, tetapi dilarang untuk melakukan camping di pos 2 dikarenakan jalur Harimau melintas” kata Alumni Politeknik Negeri Manado ini.

Jika setiap pendaki memiliki pembawaan yang baik, kemana saja ia berkelana akan disambut baik oleh penduduk setempat. Sama halnya dengan masyarakat yang keberadaannya di kaki Gunung Kerinci. “Masyarakatnya di sana sangat ramah, mereka selalu menyambut baik setiap pendaki yang akan berdatangan. Di sisi lain juga, masyarakat ini mampu memperlihatkan keindahan alam dari kaki Gunung Kerinci dengan berbagai tumbuhan teh, yang membawah kesejukan,” kata Wendy.

“Melakukan pendakian, sebenarnya ada banyak manfaat yang bisa didapatkan, salah satunya adalah pembelajaran hidup. Secara pribadi saya mendapatkan pembelajaran, bagaimana mengambil sebuah keputusan jangan terlalu terburu-buru, apabila kita terburu-buru, kita tidak akan menikmati sebuah proses atau dinamika hidup,” imbuhnya sambil tersenyum.

Saat ditanya persoalan kendaraan dan besarnya materi (uang) untuk bisa mencapai puncak Gunung Kerinci ?. Wendy menjawab, dirinya dan teman-temannya memilih patungan untuk bisa menggunakan kendaraan ELF. Starnya, mulai dari Jakarta dengan mengambil jalur darat untuk sampai ke Provinsi Jambi. Biaya yang dikeluarkan kurang lebih 3 sampai 5 jutaan.

“Semakin banyak rombongan, semakin sedikit pula biaya yang dikeluarkan. Tetapi semakin ramai di Gunung, maka suasana syahdu semakin berkurang. Pilihan ada di tangan anda, jika mau melakukan perjalanan ke Gunung Kerinci. Kalau mau sepi harus private (Pribadi) dengan didampingi guide, dengan begitu ritme perjalanan bisa diatur sendiri, tetapi biaya yang dikeluarkan akan lebih besar,” tambah Wendy sembari menyampaikan sudah 10 Gunung yang didaki, semuanya di luar Sulawesi Utara. 3 di antaranya, termasuk 7 Summits Of Indonesia, yaitu Gunung Rinjani Nusata Tenggara Barat, Kerinci di Jambi, dan Gunung Binaiya di Maluku.

Intinya, tambah Wendy, banyak hal yang bisa didapatkan ketika melakukan pendakian, apalagi di Gunung Kerinci. Banyak kesan dan cerita yang bisa didapatkan, dan akan menjadi pengalaman hidup yang berharga.

Diketahui juga, Wendy Romario adalah Duta Promosi Pariwisata Jawa Barat 2023. Untuk melihat perjalannya, bisa dilihat di akun ig @wendyromario dan bisa melihat usahannya di tokopedia Klabat Outdoor Jakarta. (*)

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Gunung Kerinci JambiPendaki SulutPuncak IndraputraWendy Romario
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Penyerahan bantuan langsung ke Mayarakat terdampak Gunung Ruang. (Foto: istimewa)

Oi dan Pecinta Alam Manado Serahkan Langsung Bantuan ke Masyarakat Tagulandang

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Museum Sulut Setelah Batal ‘Dijual’ 27 Mei 2026
  • Gubernur Yulius Selvanus Kebut Pemajuan Kebudayaan, Dari Museum Digital Hingga Perlindungan BPJS 1.000 Seniman 27 Mei 2026
  • Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum, Satreskrim Polres Kepualaun Talaud Bersosialisasi dan Diskusi Bersama PPNS 27 Mei 2026
  • Menakjubkan, Museum Sulut Pamerkan Artefak Nusa Utara Dari Masa 2 Juta Tahun Lalu 27 Mei 2026
  • Difasilitasi Plt Bupati Sitaro, Masjid Al Jihad Ulu Siau Terima Bantuan Hewan Kurban dari Gubernur 26 Mei 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In