Manado, Barta1.com – Dalam Renungan Kristen pada Minggu 17 Maret 2024 diberi judul: Pengkhianat dan Gerombolan Penjahat dengan bacaan Alkitab Lukas 22:47.
Yesus mengajar tak kenal lelah. Juga tak kenal waktu dan tempat. Di mana saja Dia berada dan ke manapun Dia pergi dan dalam situasi yang bagaimanapun, Dia tak pernah berhenti mengajar, memberi contoh dan teladan, serta tetap melakukan mujizat. Kepada orang yang memusuhi Diapun Yesus tetap menyatakan kasih-Nya baik dalam bentuk pengajaran, keteladanan maupun mujizat. Ketika Yesus melakukan pengajaran kepada orang banyak, kemudian melakukan perjamuan bersama murid-murid-Nya, Dia bersama beberapa murid-Nya pergi berdoa semalaman di Taman Getsemani, dalam kondisi melelahkan itu, para murid-Nya beberapa kali tertidur. Karena Yesus berdoa sampai 3 kali.
Setelah itu, sambil mereka bercakap-cakap, tiba-tiba datanglah serombongan orang bersenjata perang dan penting, bersama sang murid kepercayaan Yesus, yakni Yudas. Si pengkhianat ini telah membawa mereka untuk bertemu Yesus. Karena hanya Yudas yang tahu di mana Yesus berada saat itu. Sebab sebagai murid sekaligus bendahara Yesus, Yudas tahu tempat di mana saja Yesus berkumpul bersama para murid-Nya. Maka dia menawarkan kepada para imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua Yahudi untuk mencari dan menemukan Yesus, untuk diserahkan kepada mereka, dihukum mati. Maka bersama para gerombolan penjahat yang lengkap dengan pedang dan pentung itulah, Yesus mengepung untuk menangkap Yesus.
Sungguh tontonan yang mengerikan. Untuk menangkap Yesus saja, mereka harus mengerahkan pasukan atau gerombolan dengan senjata tajam. Padahal Yesus hanya seorang diri yang mereka kenal dan tahu karena banyak mengajar termasuk di Bait Allah bahkan di mana saja, terutama melakukan banyak mujizat. Apa yang Dia lakukan itu memang viral di seluruh penjuru negeri, sehingga mereka sesungguhnya semuanya tahu bahwa Yesus Orang Baik. Dia Tuhan Yang ajaib. Tetapi karena iri hati, dengki dan ketakutan, mereka berusaha menyingkirkan Yesus. Maka mereka, yakni para imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi, menghasut orang banyak untuk membunuh Yesus. Yesus yang sebelumnya dielu-elukan, kini dimusuhi dan diseret untuk dibunuh.
Suara orang banyak yang seharusnya merupakan suara kebenaran atau “Vox Populi Vox Dei, (suara rakyat suara Tuhan), justeru terbalik. Suara rakyat dihasut dan dirubah menjadi suara melawan bahkan membunuh Tuhannya sendiri. Memang otaknya adalah para imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua Yahudi. Tetapi yang sangat menyedihkan ialah, Yudas, si murid kepercayaan Yesus itu, justeru ikut berkonspirasi dengan mereka untuk menangkap dan membunuh Yesus. Si pengkhianat itu turut bersama dengan gerombolan penjahat itu mendatangi Yesus. Karena dia tahu di mana Yesus berada, maka dia mengajak mereka ke sana untuk menangkap dan membunuh Yesus yang tiada bersalah, tiada noda dan cela. Tak ada kejahatan sama sekali dalam hidup-Nya, baik di pikiran, perkataan apalagi perbuatan-Nya.
Semuanya adalah Keteladanan. Karena Dia mengajar dan melakukan. Dia mengajar apa yang Dia lakukan dan melakukan apa yang Dia ajarkan.
Suara rakyat dipelintir menjadi suara melawan Tuhan. Bahkan menghukum dan membunuh Tuhan. Sungguh sangat Keji. Si Ordal (orang dalam) yakni Yudas yang tidak lain adalah pengkhianat itu, dia telah menjadi musuh dalam selimut bahkan “brutus” di antara para murid Yesus, terhadap Sang Guru Maha Agung. Sungguh keterlaluan, orang yang sangat dipercaya menjadi pengkhianat, yang rela menghancurkan Guru dan Tuhannya sendiri.
Yudas licik. Dia jahat. Orang yang selalu duduk di samping Yesus bersama para murid lainnya, ternyata telah menggunting dalam lipatan. Dia pura-pura baik. Ternyata kasih dan kebaikannya adalah siasat jahat yang penuh kemunafikan. Pura-pura baik padahal penuh tipu muslihat. Dia berbuat khianat dan berkonspirasi jahat dengan gerombolan penjahat yang keji tiada berprikemanusiaan. Mereka tega membunuh orang benar yang telah menolong dan menyelamatkan mereka.
Demikian firman Tuhan hari ini: Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya, (ay 47).
Jangan menjadi Yudas masa kini. Janganlah berkumpul bersama untuk suatu rencana jahat menyengsarakan Yesus lagi. Tapi bersekutu dan beribadahlah bersama untuk memuliakan Tuhan, sehingga kita menikmati kasih karunia-Nya.
Kita telah ditebus oleh pengorbanan Kristus melalui pengorbanan-Nya di Kayu Salib, di Bukti Golgota, dengan darah-Nya yang sangat mahal. Maka bertobatlah dan jangan berbuat dosa lagi, agar kita mendapat belas kasihan-Nya dalam segala keberadaan kehidupan kita. Karena Dia sangat mengasihi kita dan keluarga, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post