Manado, Barta1.com – Sahabat Kristus, dalam Renungan Kristen hari ini Rabu, 31 Januari 2024 dengan judul: Nazar Dusta dan Ibadah Palsu sesuai dengan bacaan Alkitab 2 Samuel 15:7-8.
Taktik pencitraan dirinya sambil memfitnah dan mendiskreditkan raja Daud, dilakukan oleh Absalom selama 4 tahun. Tanpa lelah dia berdiri dan menyalami serta mencium semua orang yang datang menghadap raja untuk menyelesaikan masalahnya. Selama itu pula dia menyebarkan hoax bahwa raja Daud ayahnya berlaku tidak adil, dan dialah yang paling pantas jadi raja karena dia pasti bertindak adil dan memenangkan mereka dalam setiap perkaranya.
Siasat licik ini dianggapnya jitu. Maka setelah 4 tahun dia di sana melakukan manuver jahatnya itu, Absalom merasa sudah cukup waktu baginya untuk melanjutkan langkah atau strategi kudetanya. Maka agar tidak dicurigai oleh ayahnya, dia pergi menghadap Daud untuk memohon diri untuk pergi ke Hebron, tempat di mana Daud mulanya menjadi raja di sana.
Kepada ayahnya yang lugu dan polos itu, Absalom kembali mengibulinya. Dia mengatakan bahwa dia akan ke Hebron, karena ketika dia dalam pelarian dan tinggal di Gesur, negeri ayah dari ibunya Maakha, dia telah bernazar kepada Tuhan. Bahwa jika Daud memaafkannya dan dia diizinkan pulang kembali bersama sang ayah dan keluarganya di Yerusalem, dia akan mempersembahkan korban kepada Allah dan beribadah kepada Tuhan di Hebron.
Bagi orang Israel, nazar kepada Allah itu wajib dan harus ditepati. Tidak boleh ditunda-tunda. “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya” (Peng 5:4-5).
Maka Daud langsung mengiyahkan Absalom. Sebab pasti pikirnya itu sangat baik bagi anaknya untuk beribadah kepada Allah di Hebron, di mana Daud sendiri memulai karir atau tugasnya yang pertama di sana. Sebab di sanalah dia mendapat pengakuan sebagai raja ketika Saul masih menganggap dirinya sebagai raja dan menolak Daud sebagai raja dan dia (Saul) masih saja merasa dirinya raja atas Israel secara utuh. Maka dia mengejar untuk membunuh Daud. Itulah sebabnya Daud lari dan tinggal di Hebron. Maka ketika Absalom meminta dia pergi beribadah ke Hebron, Daud tidak keberatan sekaligus tidak curiga kalau anaknya itu ke sana sebenarnya hanya menjadikan ibadah dan membawa nazar kepada Tuhan sebagai alasan. Sebab ada rancangan kudeta yang dia lakukan dari sana, setelah sudah berhasil mempengaruhi banyak orang mengikuti dirinya.
Jadi, membayar nazar dan beribadah di Hebron itu hanya modus atau alasan agar raja mengizinkan dia pergi ke Hebron. Padahal, Absalom berpikir bahwa sebagaimana Daud mengawali kepemimpinannya sebagai raja di Hebron, demikian juga dia. Sebab, setelah sekitar 9 tahun menjadi raja di Hebron, baru selanjutnya Daud menjadi raja penuh atas Yerusalem. Absalom juga berharap demikian. Bahwa dia dapat mengikuti jejak sang ayah, menjadi raja mulai dari Hebron, selanjutnya mendeklarasikan dirinya sekaligus melakukan kudeta kepada raja Daud secara penuh.
Itulah ide gila, gagasan jahat dan siasat keji yang dilakukan oleh Absalom. Dia membuat skenario kudeta karena haus akan kekuasaan dan merancangkan penggulingan terhadap pemerintahan yang sah, yang adalah ayah kandungnya sendiri rajanya. Daud sang ayah, dengan bangganya mengizinkan anaknya pergi Hebron, karena dia yakin anaknya itu sudah berubah dan bertobat dari prilakunya yang jahat sebelumnya, dan dia akan menjadi anak yang baik dan mengabdi kepada raja sekaligus orangtuanya dan terutama memuliakan Tuhan, karena alasannya adalah membayar nazar dan beribadah kepada Tuhan.
Demikian firman Tuhan hari ini: Sesudah lewat empat tahun bertanyalah Absalom kepada raja: “Izinkanlah aku pergi, supaya di Hebron aku bayar nazarku, yang telah kuikrarkan kepada TUHAN. Sebab hambamu ini, ketika masih tinggal di Gesur, di Aram, telah bernazar, demikian: Jika TUHAN sungguh-sungguh memulangkan aku ke Yerusalem, maka aku akan beribadah kepada TUHAN.” Lalu berkatalah raja kepadanya: “Pergilah dengan selamat.” Maka berkemaslah Absalom dan pergi ke Hebron, (ay 7-9).
Absalom, menjadikan nazar hanya sebuah dusta dan ibadah sebuah kepalsuan untuk melindungi rencana jahatnya. Ini sungguh suatu kekejian, karena nazar itu adalah janji bahkan sumpah kepada Tuhan dan ibadah adalah hal hubungan dengan Tuhan. Absalom memang melakukan penyembahan kepada Tuhan, tetapi itu hanya strateginya untuk meloloskan rencana jahatnya.
Jangan jadikan ibadah dan penyembahan kita sebagai modus dan pencitraan untuk melindungi rencana dan perbuatan jahat kita. Jangan memanfaatkan gereja dan pelayanan untuk ambisi pribadi, jabatan dan keserakahan. Beribadahlah dengan tulus. Sembah dan muliakan Tuhan dengan dengan hati yang bersih. Tuhan menyertai dan memberkati kita, amin.
Peliput : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post