Manado, Barta1.com – Setiap orang pasti memiliki cerita tentang hidupnya, apalagi menjalaninya dengan kemandirian. Begitupun yang dirasakan oleh Meify Liud. Perempuan kelahiran Tumaluntung, 02 Februari 1990 ini, mencoba menceritakan kisahnya semasa kuliah di Politeknik Negeri Manado dengan berjualan makanan hingga pakaian.
“Saya sadar akan diri saya saat menjalani perkuliahan. Saya bukan orang yang berkecukupan, atau bagian dari keluarga yang memiliki pendapatan yang tinggi perbulannya. Saya memilih berjualan di kampus karena keadaan, agar bisa bertahan hidup, terutama membiayai perkuliahan dan kos,” ungkap Meify kepada Barta1.com, Selasa (14/11/2023).
Meify menambahkan, sampai dirinya menyelesaikan studi di Politeknik Negeri Manado. Ia masih setia berjualan pudding, nasi kuning bahkan pakaian. “Jaman perkuliahan tentunya sangat menguras waktu, maka dari itu, bagi saya 1 menit sangatlah berharga. Di malam hari ketika teman-teman kos sedang tidur enak, saat itulah saya mulai memproduksi jualan yang akan dijual di kampus pada keesokan harinya. Saya hanya butuh 5 jam untuk tidur di malam hari, kemudian bangun jam 4 subuh saat teduh. Jam 5 pagi olahraga selama 30 menit, selanjutnya mempersiapkan Jualan dan pergi ke kampus. Saat jam istirahat baru saya berjualan dengan cara masuk keluar kelas,” ujarnya.
“Bersyukur keuntungan dari apa yang saya jual di kampus mencukupkan kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi kebutuhan di kampus dan tempat tinggal,” jelas anak pertama dari dua bersaudara. Dari pasangan suami istri, Meidy Liud, seorang petani dan Joclin Rontos, sebagai ibu rumah tangga.
Istri dari Jufry Pasiowan ini, menceritakan setiap usaha yang dijalani tentunya tidak selalu berjalan mulus, terkadang ada kesulitan yang harus dihadapi. Meify mengakui bahwa dirinya pernah diusir di kelas saat menjual pudding. Bahkan dirinya pernah diremehkan oleh teman-temannya. “Ada satu titik dimana saya jatuh dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, usaha habis, pernah kena tipu, kemudian mental down. Sempat ada di titik nol dan hampir berhenti kuliah. Namun saya tidak putus asa, mencoba bangkit dan memulainya lagi dari awal” jelasnya.
“Setelah diwisuda saya masi menjalani usaha, berupa Dessert. Usaha Dessert ini saya beri label MIMI DESSERT. Produk saya ini sudah dijual di marketplace, kemudian juga dititipkan di Cafe kampus Politeknik Negeri Manado, dan ada di beberapa Rumah makan seputaran kota manado. Saya juga sempat membuka store tapi karena pandemi ditutup, sekarang ada rencana untuk membuka lagi store Dessert, mohon doanya saja,” singkatnya.
Berkaitan dengan keuntungan yang didapatkan dari usahanya, Meify menyebut, tidak bisa menyebutkan secara angka, namun dirinya sudah bisa membeli mobil,motor dan tanah. sekarang lagi prepare membangun Rumah.
“Dengan usaha ini saya juga sudah mempekerjakan orang lain, intinya sudah membuka lapangan pekerjaan. Semoga mereka juga bisa menjadi berkat bagi orang lain. Menjadi berhasil dengan usaha sendiri kuncinya adalah temukan tujuan hidup bersama Tuhan, komitmen, jangan berada dengan orang – orang toxic, mental yang sehat dan bangun Kepercayaan,” tuturnya.
Ia juga berpesan ketika setiap orang masih diberikan kesempatan untuk menimbah ilmu, jalani kesempatan itu dengan rasa tanggungjawab. Banyak anak-anak diluar sana merindukan posisi itu, tetapi tidak bisa karena keterbatasan.
“ Jangan gengsi, gunakan skill yang ada untuk bisa menghasilkan, jangan putus asa jika diperhadapkan dengan keadaan yang tidak baik, ingat selama masih ada Tuhan di hatimu semua pasti akan baik-baik saja,” pungkasnya.
Diketahui selama perkuliahan, Meify juga mampu menyempatkan waktunya untuk mengikuti berbagai organisasi intra kampus.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post