Manado, Barta1.com – Seminar sekaligus sharing pengalaman kepada ratusan mahasiswa aktif oleh Alumni Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menghiasi Dies Natalis ke 36 Tahun, Lantai 6 Gedung Terpadu Polimdo, Kamis (09/11/2023).
Dimana dua pemateri yang terundang sebagai pembicara, yakni Dr. Ir Franky Edwin P. Lapian, ST.,M.Si., MT dan James Tulangow, SE. Bahkan dilanjutkan sesi sharing oleh anggota DPRD Kota Manado, Jurani Rurubua, SST., MM dan Yopi Saraung, ST. Keempatnya bagian dari Alumni Polimdo.
Keempat Alumni ini disambut baik oleh Direktur Polimdo Dra Mareyke Alelo MBA, ketua Ikatan Alumni (IKA) Polimdo, Justman Entjaurau beserta jajarannya, dan ketua Dies Natalis Polimdo, Ibu Dr. Jeanelly Rangkang, ST, M.EngSc beserta jajarannya.
Franky menyampaikan bahwa setiap orang sudah dirancang Tuhan sejak dari kandungan ibunya. Selama kuliah di Polimdo besarnya adalah kebersamaan, bagaimana teman-teman seangkatan bersama kakak-kakak tingkat saling kenal, karena kebersamaan itu saling membantu satu sama lain dalam hal mengerjakan tugas.
“Jaman saya kuliah dosen-dosennya memang killer. Saat itu kami kebanyakan mendapatkan nilai C. Saya lulus tahun 1993 IP-nya 2,3 kalo nda salah. Jadi, menjadi kesulitan bagi saya untuk melanjutkan studi ke D3. Saat itu mendapatkan IP 3.00 menjadi suatu yang langkah,” ungkap Franky yang saat itu dipandu oleh Hervido Kayely, selaku moderator.
Ia berpesan kepada dosen-dosen yang hadir jangan pelit-pelit nilai, ketika ada mahasiswa yang akan melanjutkan studi akan mendapatkan persoalan di lapangan nantinya, apalagi berkaitan dengan nilai.
“Namun, ketika saya merenung ternyata disitulah karakter dibentuk. Jadi, karakter saya dibentuk saat kuliah di Politeknik. Di sini kita diajarkan untuk sabar. Dengan apa yang kita dapatkan, sedianya kita harus bersyukur dan mendorong diri kita untuk tidak memanjakan orang lain,” ujarnya salah satu dosen di Universitas Yapis Papua ini.
Menurutnya, Politeknik memiliki keunggulan tersendiri karena terbentuk dengan prakteknya, apalagi yang biasanya di lab.
“Papa saya dahulu bertugas di Jayapura bagian pertanahan dan dia memiliki teman itu the feloper, kemudian menitipkan saya di situ. Saya sehari digaji hanya Rp. 5.000, bahkan tidak ada gajinya. Terlihat itu sengaja supaya saya tidak nyaman, artinya saya harus lanjut jangan hanya D2. Saya melanjutkan dari D2 ke D3 di Politeknik Brawijaya, kemudian lanjut ke S1. Sengaja saya masuk ke perguruan tinggi negeri karena sebuah penghematan biaya, dibandingkan dengan anak saya saat ini diterima di Universitas Kalifornia uang pertiga bulan saja sebesar 17 ribu dolar, cukup mahal. Apalagi sudah menyampaikan lagi, akan menambah 5 mata kuliah, berarti saya harus menyiapkan 15 ribu (15 juta) lagi untuk biayanya,” terangnya.
Apalagi pembiayaan di bidang Vokasi, seperti yang selalu disampaikan oleh ibu Direktur Mareyke Alelo. Untuk itu, buat adik-adik utamakan kesempatan yang ada ini. Jangan sia-siakan kesempatan saat kuliah di Polimdo.
Sementara itu, James, menyebut bahwa kunci sukses itu dilihat dari kedisiplinan, ketekunan, attitude yang dibentuk dari kerja.
“Setiap orang ada yang sukses karena faktor orang tua, melihat itu tentunya kita bersyukur. Apalagi yang sukses dimulai dari telapak kakinya sendiri atau dimulai dari bawah. Buat adik-adik teruslah berusaha untuk mencapai apa yang akan direncanakan, bergaul dengan orang-orang yang mampu mengembangkan kepribadian kita menjadi lebih baik,” jelasnya.
Apalagi saat ini, kata James, salah pergaulan banyak hal yang dilakukan yang bisa membahayakan kehidupan anak-anak muda dan bisa merusaknya. Buat adik-adik tetap semangat dan tekun dalam meraih cita-cita.
Dikesempatan yang sama Jurani mengungkapkan, dirinya lulus dari jurusan Administrasi Bisnis tahun 2008 dan September 2012 diterima di Bank Sulut sebagai pimpinan marketing selama 6 tahun, kemudian resain secara baik-baik karena mengikuti suami tugas di Mabes Polri.
“Kemudian saya direkrut oleh perusahaan Saling Group, setelah satu tahun resain karena anak saya sakit. Saya direkrut lagi oleh Saling Group perusahaannya Indomaret, berikutnya di perusahaan asuransi CAR dan akhirnya saya menjadi pimpinan. Dan sampai saat ini, saya menjadi pimpinan di asuransi CAR dan saling group,” terangnya.
Jurani juga menceritakan tahun 2018 ia direkrut untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Direkrut hanya untuk menggenapi 30 persen perempuan, dan akhirnya menang tanpa serangan fajar dengan suara 1.794 suara di dapil Politeknik, yakni Singkil Mapanget.
“Masuk politik hanya jangka waktu 5 bulan untuk sosialisasi dan puji Tuhan menang, dan saat ini saya dipercayakan menjadi ketua PSI Kota Manado. Jika adik-adik mau belajar politik, bisa kakak-kakak ajarkan,” tuturnya.
Perkataan adalah doa, Jurani mencoba mengingatkan perkataan dari salah satu dosennya Efendy Rasjid yang ketika itu mengeluh terlambat datang ke kampus diakibatkan jalan yang rusak.
“Mendengar keluhan dosen saya itu. Saya bilang celetus saja mener. Tunggu saja saya menjadi anggota DPRD Manado akan diusahakan jalan ini untuk diperbaiki. Puji Tuhan ketika menjadi anggota Banggar 2019, saat masuk fraksi Golkar saya menyuarakan terkait dengan jalan Politeknik selama 10 tahun tidak pernah diperbaiki, kemudian saat ini walikotanya Vecky Lumentut,” ucapnya.
Kemudian, peralihan jabatan ke bapak Walikota Manado Andrei Angouw. Saat di kegiatan kerukunan umat Toraja, Jurani menyampaikan bahwa dirinya lulusan Polimdo dan selama 10 tahun jalan Politeknik tidak pernah dibuat.
“Semua jalan yang berlubang saya foto, kemudian saya beritakan. Jika satu kursi tidak bisa memperjuangkan, maka saya menggunakan rakyat melalui media sosial. Mungkin anggota Dewan bisa kalah dalam korum, tetapi bisa menang jika netizen berjuang bersama-sama. Sehingga saya memandang media sosial memperjuangkan bersama jurnalis, akhirnya bapak Andrei Angouw menyampaikan anggaran 12,7 miliar disiapkan untuk jalan Politeknik dan saya percaya di komisi III bersama ketua Bapak Roni Makawata. Kami berjuang untuk jalan Politeknik dan puji Tuhan perkataan adalah doa, sampai jalan Politeknik berhasil diperbaiki,” imbuhnya.
Mungkin Politik itu dianggap biasa, namun sebenarnya luar biasa jika digunakan dengan baik dengan orang yang tepat. “Apa kunci sukses sehingga saya menjadi pimpinan di Bank Sulut, kemudian pimpinan di Asuransi sampe detik ini, pengusaha kuliner dan percetakan. Banyak usaha yang saya bangun sejak kuliah. Kuncinya adalah takut akan Tuhan, dan itu sudah digambarkan oleh Tuhan dalam alkitab. Kedua adalah cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. Karena apa, jika kita terlalu tulus akan menjadi bawahan terus-menerus, dan jika kita terlalu cerdik akan tinggi tapi akan cepat jatuh. Sehingga yang dikatakan cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati itu gambaran seseorang mempunyai emosional yang baik, karena orang IPK tinggi belum tentu menjadi pemimpin. Jika orang memiliki IPK rendah namun ia cerdik, maka akan menjadi pemimpin dikemudian hari,” cetusnya.
Begitupun Yopi selaku Alumni dan mantan ketua BEM 2 Periode Polimdo. Bukan itu saja, Yopi juga seorang pengusaha pertambangan, kemudian juga sebagai ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulut.
“Bagi adik-adik mahasiswa perjuangan saya juga dimulai dari O. Kesuksesan seseorang itu bukan dilihat dari latar belakang, kesuksesan itu ketika setiap orang memiliki kemauan,” tegas calon anggota DPRD Sulut dari Nusa Utara.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post