Manado, Barta1.com – Persoalan Gunung Soputan menjadi pembahasan menarik pada agenda Ngobrol Pinter (NGOPI) yang digelar The Society of Indonesian Enviromental Journalists (SIEJ) Simpul Sulawesi Utara (Sulut) bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lestari Bumi Hijau (LBH), di Sekretariat Bersama SIEJ Simpul Sulut, Jumat (20/10/2023).
Ketua LSM LBH, Brivy C Lotulung, mengatakan selama ini kelompoknya terlalu frontal menolak kegiatan panas bumi yang masuk ke Tumaratas dengan alasan daerah pengeboran PIT 3 itu terlalu dekat dengan sumber mata air. “Dari data yang dimiliki sungai-sungai kecil Soputan itu menyumbang air ke Tondano. Informasi ini sangat penting. Ketika dicek, ternyata benar. Berkaca dari hal itu, kami menolak adanya aktivitas panas bumi yang masuk beroperasi di Gunung Soputan,” ungkap Brivy yang didampingi oleh beberapa pengurus LSM LBH.
Saat terjadi penolakan. Dirinya dihubungi, oleh beberapa pihak dari sekretariat di lantai 5 Provinsi Sulut dan bertanya kenapa ini. Brivy menjawab, menolak adanya perusakan yang akan melakukan perusakan di Gunung Soputan. “Melakukan penolakan terkait persolan ini, saya sudah tahu konsekuensinya seperti apa kedepannya. Sekalipun, legalitas LSM kami disposisi langsung oleh Wakil Gubernur Sulut, Steven OE Kandouw,” jelasnya sembari mengatakan tidak mungkin kelompoknya akan membiarkan orang lain merusak Gunung Soputan.
Selanjutnya, ada proyek masuk dari China melalui Tumaratas, yakni pengelolaan getah pinus di Gunung Soputan. “Para pihak dari China ini pernah mengundang saya. Mereka berpikir saya akan satu suara dengan mereka, dengan alibi cuan. Akan tetapi, pada pertemuan itu saya menolak lagi dan akhirnya mereka kembali dengan tangan kosong,” ujarnya.
Penyerapan getah pinus pernah terjadi di tahun 2018. Dengan kejadian itu, masyarakat Tumaratas kaget pinus di basecamp Gunung Soputan kulitnya hampir jebol karena diambil getahnya. “Pinus ini ketika habis kulitnya pasti akan mati,” tuturnya. “Perusahaan China yang masuk ke Gunung Soputan ini hanya ingin meraup keuntungan. Kita bisa melihat yang terjadi, di Sulawesi Tenggara. Mereka (Perusahaan China), pernah berkegiatan di sana membuat hutan pinus kering dan mati. Dan sekarang, sedang melakukan proyek getah di hutan pinus Gorontalo,” terangnya.
Brivy menambahkan, ketika masuk ke Sulut kelompoknya akan terus menolak perusahaan China ini. Mengingat ada banyak, petani di bawah kaki Gunung Soputan bergantung hidupnya dengan sumber air dari hutan Pinus. “Kota Tomohon sekarang membeli air karena kekurangan. Satu tong itu, dikenai harga Rp. 200 ribu. Kita yang berlimpah sumber air, untuk mengairi pertanian dan semua kebutuhan masyarakat. Apakah kedepannya, kita mau membeli air. Jika tidak mau, berarti kita harus menolak bentuk kerusakan terhadap hutan pinus di Gunung Soputan,” tegasnya.
Kemudian, berkegiatan dengan kegiatan yang dilakukan di alam dan membaca beberapa literatur bahwa pinus ini memiliki sungai kecil di akarnya. Salah satu penyuplai air terbesar ke danau Tondano adalah pinus, bagaimana jadinya ketika pinus ini tidak ada. Maka dari itu, mohon doanya agar LSM LBH terus melakukan kegiatan yang terus menjaga dan melestarikan hutan pinus di Gunung Soputan.
“Usia LSM LBH baru 3 tahun di bulan Agustus kemarin. Namun Sudan mendapatkan hadiah dari pemerintah. “Kemarin saya diwawancarai oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (LBH) Provinsi Sulut. Tidak diketahui, apa maksudnya ini,” singkatnya merasa bingung. “Setelah diwawancarai kami mendapatkan hadiah sebagai komisi penilai amdal dengan SK dari kementrian Lingkungan hidup. Dan, SK langsung dari Gubernur Sulut, Olly Dondokambey,” jelasnya.
Pertanyaannya, kata Brivy, kenapa LSM LBH diberikan komisi penilaian amdal sedangkan selama ini melakukan penolakan terhadap proyek-proyek swasta maupun negara. “Katanya, kami mengantikan posisi WALHI. Mudah-mudahan, dengan masuknya kami dalam komisi amdal ini bisa memacu kekritisan. Saya sudah menyampaikan ke teman-teman, jangan sampai pemerintah menggunakan jalur seperti ini untuk membujuk kita,” ucapnya.
Sementara itu, Finda Muthar, selaku koordinator SIEJ Simpul Sulut menjelaskan program NGOPI ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap bulannya. “Di bulan ini kami bisa menjadwalkan agenda bersama teman-teman LSM LBH. Apalagi kami sedang membutuhkan, narasumber yang benar-benar sevisi dengan kami. Apa yang menjadi tupoksi kerja teman-teman, lakukan. Pastinya juga, kami akan melakukan kerja-kerja kami sebagai Jurnalis. Intinya, saling mendukung satu dengan yang lainnya,” jelas Pemred BeritaManado.com ini.
Sambung Finda, NGOPI ini sudah dilakukan untuk kesekian kalinya. Pernah dengan Asosiasi Nelayan Tradisional, BKSDA Provinsi Sulut, DLH Provinsi Sulut, dan Anoa Breeding Center. “SIEJ ini sudah tersebar dibeberapa daerah di Indonesia salah satunya Regional Sulut, dan kita itu konsen dengan isu lingkungan,” imbuhnya.
Berkaitan dengan pengetahuan yang didapatkan, selalu koordinator SIEJ Simpul Sulut, mengucapakan banyak terimakasih kepada LSM LBH yang sudah membagikan pengalamanya yang luar biasa. “Semoga di kegiatan-kegiatan selanjutnya kita bertemu lagi,” singkat Finda.
Cerita LBH Terbentuk
Brivy menceritakan awal terbentuknya LSM LBH didasari dari rasa kecintaan terhadap lingkungan. “Sebenarnya hanya iseng-iseng sebagai penikmat alam, bukan pecinta yeah. Setiap ada tempat baru disitulah kami pergi. Kemudian, terjadi pembicaraan di rumah kopi dan mendapatkan kesimpulan bahwa selama ini yang dilakukan bukan pecinta, melainkan perusak. Ternyata, manusialah sumber kerusakan peradaban ini,” sahutnya.
Berangkat dari kesimpulan tersebut. Terjadi kesepakatan bersama untuk membentuk sebuah LSM. Apalagi, sangat jarang LSM di Sulut mendapatkan izin di bidang lingkungan. “LSM kami fokus ke persoalan lingkungan. Sebelum bergerak di bidang ini, selalu meminta wejangan dari sesepuh. Meminta arahan kemana kami bisa beraktivitas, supaya berfokus kesebuah komunitas yang bukan sekedar komunitas, melainkan sebagai wadah untuk teman-teman sharing persoalan kerusakan lingkungan dan mencari solusinya,” tambahnya.
LSM LBH penasehatnya adalah Dennie Mamonto sarjana ilmu kelautan. Ia juga aktif, di Yayasan Internasional dan founder Yayasan Bumi Tanggu. “Sebelum membentuk LSM LBH ini, saya sering berkonsultasi dengan penasehat Dennie Mamonto dan beberapa orang lainnya,” singkatnya.
Lanjut Brivy, LSM Lestari Bumi Hijau ingin menjadi pembanding antara pemerintah dan masyarakat, termasuk adanya proyek-proyek baik swasta maupun negara. LSM yang sudah berdiri sejak 3 tahun itu memiliki beberapa program yang sudah dilakukan, yakni penanaman pohon, pembuatan bak air, dan melakukan penolakan perusakan yang terjadi di hutan pinus Gunung Soputan.
Bukan itu saja, ada juga pengajaran konservasi sejak dini yang dilakukan di area Minahasa Selatan. Sedangkan, di Kota Manado fokusnya berkaitan dengan pengolahan sampah.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post