Manado, Barta1.com – Beberapa satwa liar di Indonesia terancam punah, termasuk anoa. Ancaman itu sangat jelas di IUCN Red List Of Threatened Animal dan masuk dalam Appendix I Cites. Hal itu disampaikan langsung dokter Anoa Breeding Centre (ABC) Manado, drh Afifa Hasnah, pada kegiatan Ngobrol Pinter (NGOPI) yang diinisiasi The Society of Indonesia Enviromental Journalist (SIEJ) Simpul Sulut, Kamis (21/9/2023).
Teridentifikasi jumlahnya Anoa di Indonesia sebanyak 2500 ekor, dan kebanyakan keberadaanya di daratan Sulawesi. Afifa menjelaskan, kepunahan habitat anoa diakibatkan oleh perburuan, kemudian rusaknya habitat akibat pertambangan, sehingga membuat satwa liar ini terhimpit dan mudah untuk diburu. Semua akibat ulah manusia.
“Di Sulawesi Utara dahulunya ada anoa. Kemudian terjadi kepunahan lokal dibeberapa daerah, seperti cagar alam Tangkoko,” ujar Afifa sembari menyebut anoa masih bisa ditemukan di Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
Terkait data yang ditemukan di lapangan, setiap tahunnya ada 283 anoa diburu secara ilegal. Diburu untuk mendapatkan tanduknya, sebagai simpanan untuk trofi. Di samping itu, biasanya dagingnya dikonsumsi. “Bahkan BKSDA Sulut pun mendapatkan laporan masyarakat terkait daging anoa yang diperjualbelikan di pasar,” tambahnya.
Jenis dan Ciri-Ciri Anoa
Menurut dokter Afifa, anoa terdiri dari dua spesies, yaitu anoa pengunungan (Bubalus Quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus Depressicornis). Keduanya hidup di habitat yang berbeda, anoa dataran rendah hidupnya sampai ketepian pantai. Sedangkan anoa pengunungan, hidup diketinggian lebih dari 2300.
Terkait ciri-cirinya, anoa secara umum bagian lehernya ditemukan corak berwarna putih, seperti bulan sabit. Depressicornis nama latinnya berunjuk pada tanduknya. Depressi itu tertekan, sedangkan Cornis itu tanduk. Bagian pangkal tanduknya itu seakan tertekan. Itulah yang membedakan anoa dataran rendah dan gunung.
“Kemudian lebih kokoh ukurannya. Sedangkan rambutnya cenderung kasar, kemudian lurus dan tipis. Lebih jelasnya lagi ada motif di bagian kakinya, seperti menggunakan kaos kaki,” imbuhnya.
Berkaitan dengan anoa gunung dewasa, bobot badannya hanya mencapai 50 sampai 70 kilo gram, kemudian di bagian lehernya tidak ada motif, tanduknya lebih kecil, tidak tertekan tanduknya, dan hanya silinder saja. Rambutnya seperti wol, dan kakinya jarang ditemukan motif.
Beragam Jenis Makanan Anoa
Anoa dikenal sebagai satwa herbivora. di Alam makanan-nya sangat bervariasi, baik itu rumput Australi, ubi, jagung, wortel, kacang panjang, pepaya dan pisang. Buah yang paling disukai anoa adalah pisang. “Berdasarkan penelitian, makanan Anoah di Alam lebih dari 100 jenis.”
Cara Perkawinan dan Kelahiran Anoa
Secara genetika anoa memiliki perbedaan jumlah kromosom. Meskipun sekilas sangat mirip, secara genetik sangat berbeda dan tidak bisa dilakukan perkawinan silang, antara anoa dataran rendah dan pegunungan.
Termasuk di ABC, kata Afifa, memiliki betina dewasa yang tidak pernah dikawinkan, karena pasangan jantannya tidak ada. “Kami tidak berani mengawinkan anoa berbeda jenis, ketika itu dipaksakan akan menimbulkan spesies yang baru. Spesies yang baru ini tidak bisa menghasilkan keturunan lagi, dikarenakan genetiknya sudah tercampur,” ucapnya.
“Saat menikah anoa memiliki keunikan pada perilakunya. Meraka ini satwa yang soliter atau hidup menyendiri, ketika di Alam mereka berkelompok berarti ingin kawin. Di ABC ini, kami tempatkan anoa ini secara individu dan dipertemukan ketika betinanya ingin kawin,” jelasnya.
Sekalipun sudah berpasangan, mereka berlarian bahkan berkelahi, ketika betina kalah baru terjadi perkawinan. “Jantan harus menunjukkan dominasinya. Perilaku ini diduga memicu mereka untuk keluar keringat, hormon, dan dari situlah betina dapat menyeleksi jantan yang paling unggul untuk menghasilkan keturunan yang unggul juga,” imbuhnya.
“Masa mengandung anoa mencapai 9 sampai 10 bulan. Ketika anaknya lahir, induknya akan menyapih anaknya kurang lebih selama 6 bulan. Di Alam pernah ditemukan menyapih itu bersamaan dengan jantannya, tetapi kami tidak mengambil resiko di ABC ini. Jadi kami tidak menyatukan anakan dengan bapaknya, melainkan dengan ibunya saja,” cetusnya.
Melatih anakan anoa untuk bertahan hidup, mencari jenis makanan, dan mengalih lubang adalah induknya.
Ancaman PMK dan Zoonotik Pada Anoa
Penyakit pada anoa yang saat ini sudah mewabah sampai Sulawesi Utara adalah penyakit mulut dan kuku atau PMK (Penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular). Sejauh ini kata Afifa, anoa di ABC terisolir dan tidak terjadi kontak dengan sapi liar.
“PMK sangat berbahaya dan tingkat kematiannya tinggi. Penyakit ini sering dialami oleh sapi, kerbau bahkan anoa, tetapi tidak berjangkit pada manusia. Kemudian berkaitan dengan penyakit Zoonotik pada Anoa adalah endoparasit atau cacing,” tandasnya.
Staf ABC Manado lainnya, Anita Mayasari, menyebut setiap harinya anoa dilakukan pemeriksaan dan tidak menemukan penyakit yang berbahaya. Hanya saja, ada ektoparasit atau lalat yang sering hinggap ditubuh anoa, namun bisa ditangani secara intensif oleh dokter.
Proses Anoa Kembali ke Habitatnya
Proses pengembalian anoa ke habitatnya membutuhkan proses panjang. Tidak mungkin dari kandang langsung dikeluarkan ke hutan, satu bahkan dua hari sudah mati akibat Manusia. Mengingat sudah terbiasa, dengan manusia yang membuat anoa itu sulit untuk mandiri atau survive.
“Namun ada satu anoa yang sudah dilakukan transisi lokasi di Taman Rawa Aopa Watumohai, namun hingga satu tahun lebih belum dilepaskan ke hutan. Anoa tersebut dibiarkan terlebih dahulu di Alam yang memilki luas 20 hektar, sampai dirinya keluar sendiri ke hutan yang dimaksud,” cetus Afifa.
Diakhir statemennya, Afifa meminta semua pihak, termasuk masyarakat untuk berperan penting dalam menjaga dan melindungi satwa yang dilindungi, yakni anoa. Diketahui beberapa anoa di ABC beserta namanya, diantaranya Rambo, Denok, Manis, Rocky, Rita, Stella, Maesa, Anara, Raden, Bahen dan Laksmi.
Berangkat dari tema upaya konservasi Anoa. Hewan endemik Sulawesi. Mendorong beberapa anggota SIEJ Simpul Sulut melihat, sekaligus mempelajari persoalan Anoa.
Koordinator SIEJ Simpul Sulut, Finda Muthar, mengatakan NGOPI merupakan program bulanan untuk memberikan pemahaman bagi para jurnalis tentang pentingnya pelestarian lingkungan.
Dia berharap, pemahaman yang komprehensif akan isu lingkungan dan konservasi mampu mendorong karya Jurnalis yang bisa mengedukasi masyarakat, termasuk melindungi satwa langka, seperti anoa yang kerap diburu oleh manusia.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post