MANADO, BARTA1.COM – Kepala Sekolah SMA 8 Manado, Dra. Mediatrix Ngantung, M.Pd, dengan tegas mengungkapkan rasa kekecewaannya terkait pemberitaan dua media daring yang menyorot dugaan penyalahgunaan kuasa dan dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS). Kepada sejumlah media ia mengungkapkan bahwa oknum jurnalis terindikasi meminta uang dan mengancam untuk mempublikasikan tuduhan-tuduhan tanpa dasar.
Ngantung menyebutkan bahwa bukti-bukti telah dia peroleh yang menunjukkan adanya upaya pemerasan. Salah satu bukti yang diajukan adalah tangkapan layar percakapan di aplikasi WhatsApp, di mana oknum jurnalis itu diduga meminta sejumlah uang sebesar 5 juta rupiah dengan ancaman akan mempublikasikan dugaan-dugaan negatif.
Dalam tangkapan layar tersebut, terdapat pesan yang merinci permintaan uang tersebut. “Ada screenshot. Di situ ada chat yang yang bilang ‘kalu dia boleh bantu 5, selesai. Kita cuma tunggu kepastian hari ini sampe siang neh… kalu nda, minta maaf jo biar ibu Kep nga pe sudara torang so mo baku ambor jo’. Napa dia baba WA pa kita mar kita so nimau respon.” kata dia, menerangkan isi pesan WhatsApp itu, pada Senin (14/8/2023)
Ngantung juga menceritakan kunjungan sejumlah orang yang mengaku wartawan dan dari LSM pada tanggal 7 Agustus lalu. Dari percakapan mereka, terungkap bahwa mereka juga terlibat dalam permintaan uang yang mencurigakan.
Dalam merespons pemberitaan pemberitaan kontroversial yang sempat berkembang ini, pihak sekolah merilis pernyataan resmi yang menekankan bahwa pemberitaan tersebut telah merugikan baik individu-individu terkait maupun institusi sekolah. Mereka menganggap bahwa pemberitaan tidak memperhatikan prinsip asas praduga tak bersalah. Terlepas dari dugaan yang disampaikan, berita dari salah satu media daring terlihat memojokkan dan menghakimi, bahkan jika kontennya masih bersifat dugaan.
Kepala Sekolah Mediatrix Ngantung dengan tegas membantah semua tuduhan dan menyediakan bukti-bukti yang menggambarkan kebenaran di balik dugaan-dugaan yang pernah diberitakan oleh media. Dia menyatakan bahwa semua dugaan tersebut tidak berdasar dan tampaknya dimaksudkan untuk merusak reputasi sekolah yang telah mencatatkan prestasi luar biasa di tingkat lokal, provinsi, dan nasional.
“Secara pribadi, saya merasa kecewa karena semua berita ini tidak ada yang benar. Nyanda ada poin yang memang benar sekali. Mungkin kita ada kekeliruan misalnya nyanda memberikan air minum ke guru-guru di saat mesin rusak, saya bisa maklumi karena kondisi dana juga tidak mendukung. Ini berita hoax, fitnah, dan ini pembunuhan karakter pelecehan nama baik karena karena membawa-bawa nama suami dan anak saya, guru-guru dan semua yang tercakup di situ. Orang-orang yang sebenarnya sudah memberi diri di sekolah malah dituduh melakukan hal yang tidak benar,” Ungkap Kepala Sekolah yang dikenal jujur itu.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post