Manado, Barta1.com – Perjuangan yang tak kenal pantang menyerah. Begitu kira-kira yang dilakukan Sutardy Mayore, difabel asal Kepulauan Talaud, Sulut. Dirinya berjuang hidup sambil bekerja untuk biaya kuliah. Lulus dengan predikat cum laude di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. “Kemudian saya diterima bekerja di Wildlife Conservation Society (WCS),” ungkap Mayore.
Dengan kondisi fisiknya difabel, Sutardi Mayore menikmati tugas-tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. “Di WCS saya menjadi enumerator perikanan dengan tugas mengambil data. Data yang diambil berupa hasil tangkapan dari nelayan dengan mengidentifikasi jenis ikan, panjang ikan, daerah penangkapan, alat tangkap dan lain-lain,” jelasnya.
Bersyukur dengan perkejaan ini, kata dia, kebutuhan sehari-hari bisa mencukupi. “Bahkan saya bisa menabung untuk mempersiapkan biaya nikah saya,” terangnya.
Lebih berbahagia lagi, ketika dirinya mencintai gadis pujaannya yang menerima apa adanya tanpa melihat fisik dan materi. “Bangga dan bersyukur bisa dicintai oleh seorang perempuan dan merasakan hidup berpasangan seperti orang non disabilitas pada umumnya,” tuturnya.
“Seperti seorang musafir yang berjalan di padang pasir dan menemukan pohon rindang untuk berteduh. Saya sudah merasakan kesejukan, ketenangan serta bisa merebahkan tubuh dengan nikmat,” ucapnya ketika mencintai istrinya.
Setelah menikah, Mayore lulus Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan tugas kerja di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kwandang, Gorontalo. Salah satu UPT, dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dibawa Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap.
“Pada pekerjaan kedua ini, saya memiliki jabatan sebagai ahli pertama pengelola produksi perikanan tangkap. Dan bertugas sebagai enumerator pengambil data produksi ikan di PPN Kwandang, dan juga sebagai operator pusat informasi pelabuhan perikanan. Serta menjadi, salah satu admin dalam mengelola media sosial humas PNN Kwandang,” cetusnya.
Terkait kebutuhan dan jabatan yang didapatkan hingga saat ini, Mayore menyampaikan jangan mendustai setiap berkat yang telah diberikan Tuhan kepada setiap manusia. “Dengan kondisi fisik saya yang seperti ini, pernah ditertawai. Namun, bagi saya tertawaan atau ejekan itu sebagai batu loncatan perjuangan hidup. Biarlah yang menertawakan itu merasa malu, dengan hasil perjuangan yang kami nikmati saat ini,” imbuhnya.
“Untuk itu, bagi anak muda jangan berfoya-foya, agar masa tuanya bisa kaya raya. Meminjam lirik Grup Band KOBE: jangan kau kira masa muda hura-hura matinya bisa masuk surga. Sistim hidup itu adalah tanam tuai, apa yang anda tanam di masa muda, itu yang akan anda tuai di masa tua. Anda bukan Cipung atau Rafathar yang terlahir sebagai anak dari Sultan Andara,” pungkasnya.
Peliput: Meike Pontolondo


Discussion about this post