Manado, Barta1.com – “Saat memancing di tengah laut pancingan saya bergerak. Secara manusiawi, saya berpikir itu adalah ikan, ketika diangkat ternyata itu adalah sampah plastik yang tersangkut di pancingan saya, yang keberadaannya dari dalam laut,” ungkap salah satu nelayan di Kota Mando, Matheos Kakauhe ketika ditemui di Malalayang, Rabu (30/11/2022).
Di samping rumahnya, Kakauhe duduk sambil menyebut semakin banyaknya industri, maka semakin banyak pula produk-produk yang masuk di laut. “Para pengusaha tidak pernah berpikir bahwa produk yang mereka buat itu, akan membahayakan banyak manusia ketika masuk di laut,” ujarnya.
Ada berbagai sampah yang diangkut dari laut. Dalam seminggu bisa mengumpulkan seratus kilo sampah dari sungai dan laut. “Satu kilo sampah botol bening dihargai Rp 2 ribu, kemudian untuk sampah campuran dihargai Rp 1 ribu oleh pembeli dari CV Daur Sinar Gemilang,” terangnya.
Lelaki kelahiran Sangihe, 21 Maret 1956 ini menceritakan, dirinya pernah menjadi pengelola sampah dari laut sejak tahun 2002. “Saya pernah memegang koperasi untuk menangani sampah. Saat itu, saya membeli sampah dari teman-teman nelayan. Kemudian, saya jual lagi ke pembeli sebesar 6 ribu untuk botol bening dan 2500 untuk sampah campuran,” katanya.
Namun, koperasinya hanya bertahan 2 tahun karena pembeli menipu mereka. Beberapa kali sampah hanya diangkut dan dijanjikan untuk dibayar, tetapi sampai dua kali diangkut sampah tidak pernah dibayar.
Mengingat, pengeluaran lebih banyak dari pemasukan apalagi masih membayar gaji karyawan. Setelah beberapa tahun, daerah Malalayang khusus Lorong Los menjadi bagian dari program Gerakan ‘Bulan Cinta Laut’ (BCL) yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) RI. “Program itu terkait sosialisasi, kemudian dilanjutkan dengan aksi pengumpulan sampah dan langsung dibayar oleh pihak kementrian. Tetapi, itu hanya berjalan sebulan saja di Oktober 2022 ini,” cetusnya.
Dari 80-an warga yang terlibat dalam kegiatan BCL itu, hanya 5 nelayan yang melanjutkan kegiatan pencarian sampah di laut, termasuk dirinya.
Intinya, pekerjaan seorang nelayan hal yang utama. Namun, tidak lepas dari peran untuk menjaga laut dari sampah. “Ketika ada sampah di laut, bertepatan kami sedang mencari ikan. Pastinya, akan kami bawah ke darat melalui perahu. Pemerintah harusnya melakukan rapat dengan melibatkan berbagai stakeholder, seperti pihak industri dan kami selaku masyarakat,” harapnya.
Liu Kit Qiu Ku, karyawan CV Daur Sinar Gemilang menyebut, dirinya bisa mengumpulkan sampah bergolongan PET dan MIX mencapai 150 kilo dalam sehari. “Saya setiap harinya mengangkat sampah di bawah Jembatan Soekarno, Jembatan Kuning, Jembatan Megawati, Jembatan Mahakam, dan beberapa jalur sungai besar di Kota Manado,” jelasnya.
Sudah bekerja selama 3 tahun. Dan sampah menjadi berkat baginya. “Dari hasil sampah, setiap bulannya saya mendapatkan uang sebesar UMP. Tetapi, jika sampah ini tidak diperhatikan, maka akan menjadi bencana buat kita semua,” singkatnya.
Staf Administrasi CV Daur Sinar Gemilang, Fitria Lihawa mengakui sampah di Kota Manado bukan berkurang, malah makin bertambah. “Per-harinya 8 pegawai kami mampu menampung 1.200 kilo sampah golongan PET dan MIX yang sudah dipilah, bahkan lebih dari itu,” tukasnya.
CV Daur Sinar Gemilang mampu menampung berbagai sampah dari beberapa tempat, agar tidak masuk ke laut. Sampah sebulan bisa mencapai 15 ton untuk golongan MIX, dan 14 ton untuk golongan PET.
“Keseluruhan sampah MIX dan PET jika digabungkan selama sebulan sebesar 29 ton dan itu sudah dipilah. Sedangkan, sisa sampah yang tidak bisa diolah dan langsung diarahkan ke tempat pembuangan akhir (TPA) sebulannya 150 Kg. Untuk sampah yang sudah dipilah kami kirim ke Indocement dan beberapa perusahaan di Jakarta melalui kapal laut,” ujarnya.
Mereka melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kota Manado untuk menangani sampah di muara sungai guna meminimalisir sampah yang masuk ke laut. “Setiap harinya sampah yang kami angkat dari satu muara sungai sebesar 20 kilo. Jika itu dikali 5 sungai di Kota Manado berarti menjadi 100 kilo sampah. Jika itu tidak diperhatikan maka Kota Manado akan menjadi lautan sampah,” serunya.
Perilaku orang Manado belum sadar akan sampah. Contohnya, ada beberapa tempat sampah di Kawasan Megamas Manado dengan berbagai keterangan seperti organik dan non organic namun kedapatan yang membuang sampah organik di tempat sampah non organik.
“Laut kita sudah mengerikan akibat sampah, sudah tidak baik untuk kesehatan. Sampah yang menjadi mikro plastik akan dikonsumsi oleh ikan, dan ikan itu akan dikonsumsi oleh manusia. Maka itu, akan menjadi penyakit. Saya mengingat kata-kata Mis Anna peneliti dari Italia, ia mengatakan bahwa dirinya takut makan ikan di Sulut karena banyak sampah di laut,” tambah Lihawa yang saat itu didampingi Suparli Sambung selaku pengawas CV Daur Sinar Gemilang.
Kota Manado tahun 2019 menjadi Kota terkotor se-Indonesia yang dinilai KLHK RI. Melihat itu, berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Kota Manado. Dimana pemerintah sudah melakukan kerjasama dengan berbagai stakeholder termasuk perusahaan CV Daud Sinar Gemilang ini, untuk bersama-sama mengurangi sampah masuk ke laut.
Kabid PSLB3 DLH Kota Mando, Lieke Kembuan menuturkan bahwa pencegahan sampah masuk ke laut sudah dilakukan. Dengan memasang kubus apung dan jaring dalam air, merupakan bagian dari meminimalisir sampah masuk ke laut melalui muara sungai. “Kami sudah memasang Kubus dan jaring dibeberapa sungai seperti Bailang, Mahawu, Megawati, Mahakam, Sario dan Bahu,” paparnya.
Lalu petugas kebersihan mengangkat sampah dari muara sungai itu per harinya 12 hingga 15 karung berisikan botol plastik. “1 karung itu terhitung 3 kilo diluar dari sampah kayu dan residu,” jawab Kembuan.
Kedepannya, kata Kembuan, Pemerintah Kota Manado akan bekerjasama dengan 3RproMar dark GIZ. “Semoga proyek ini bisa membuahkan hasil dengan mengubah mindset masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi di laut. Kita harus melakukan penanganan sampah di laut mengacu dengan aturan Presiden nomor 83/2018,” pungkasnya.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post