• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Kamis, Agustus 6, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Para Dramawan GMIM Generasi Ketiga Yang Mewarnai FSPG 2022

by Ady Putong
21 Oktober 2022
in Seni
0
Aldes Sambalao

Aldes Sambalao

0
SHARES
213
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Memeriahkan Festival Teater Pemuda GMIM 2022 yang berlangsung pada 21-23 Oktober di Jemaat GMIM Victory Kairagi Weru, Manado, berikut ini kami sajikan sekilas profil para dramawan generasi ketiga yang ikut mewarnai festival tersebut sebagai mentor, dirangkum Tim Barta1.com.

Aldes Sambalao
Ketika tampil pada tahun 2016 di panggung sastra nasional yang diselenggarakan Dapur Sastra Jakarta, di Taman Ismail Marzuki, Aldes Sambalao disebut sebagai salah satu pembaca puisi terbaik Indonesia. Remmy Novaris DM, ketua komunitas Dapur Sastra Jakarta, sekaligus salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia mengapresiasi aksi pembacaan puisi Aldes Sambalao di hajatan sastra mereka sebagai sebuah pertunjukan baca puisi yang sulit dicari tandingannya. Sebagai seorang spektator seni, Remmy menilai penampilan Aldes melampaui apa yang didefinisikan sebagai baca puisi selama ini. Bagi dia, teknik pembacaan puisi Aldes tak berhenti dalam fungsi sebagai perantara antara pencipta puisi dan penonton. “Ia tak sekadar menyajikan kembali hakikat puisi sebagaimana maksud penciptanya. Aldes melampaui itu, bahkan menjadikan puisi dari teks menjadi sesuatu yang seutuhnya hidup, bergerak, bernafas, berbicara dengan cara yang paling estetik dan memesona,” kata dia.

Di Manado, Amato Assagaf, seorang penyair, dramawan dan pemikir filsafat menjuluki Aldes Sambalao sebagai raksasa panggung puisi Sulawesi Utara. “Aldes menjadikan puisi yang sederhana menjadi luar biasa dan menjadikan puisi yang bagus menjadi pertunjukan yang mewah,” kata Amato.

Aldes Sambalao sendiri memandang pembacaan puisi adalah medium pertunjukan yang setara dengan teater dan pertunjukan seni lainnya. Bagi dia, pembacaan puisi membutuhkan persiapan, sebagaimana aktor mempersiapkan dirinya untuk sebuah pertunjukan teater. Kekhasan baca puisi aktor bertubuh tambun ini membuat ia sering terundang dalam berbagai ajang baca puisi di berbagai kota di Indonesia.

Aldes Sambalao juga dikenal sebagai seorang dramawan penting di Sulawesi Utara. Ia mengenal teater sejak usia SD di tahun 1990 saat bergabung dengan Sanggar Kreatif dan ikut main dalam sejumlah pementasan sebagai aktor cilik. Di usia remaja, ia sudah terlibat dalam pementasan-pementasan terkemuka Sanggar Kreatif di antara dalam lakon “Judas Iskariot” dan “Raksasa Pemangsa alias Katulah” yang disutradarai Kamajaya Alkatuuk. Ia kemudian mengembangkan bakat penyutradaraan untuk kepentingan festival lewat grup-grup teater gereja dan teater pelajar yang menjadi binaan Sanggar Kreatif.

Berkali-kali menerima penghargaan sebagai sutradara dalam sejumlah festival teater di Sulawesi Utara. Dengan pengalaman yang cukup matang di dunia teater, ia kemudian dipercayakan sebagai Ketua Sanggar Kreatif hingga saat ini. Aldes Sambalao, lahir di Manado, 12 Juli 1983, selain menggawangi Sanggar Kreatif Manado, ia membina Teater Benih SMP Garuda, Manado. Di tangannya teater benih beberapa kali menjadi grup terbaik teater pelajar Sulawesi Utara. Ia juga membina Teater GMIM Bethel Winangun dan Teater Sion Malalayang, dan Teater Bethesda Sario. Karya-karya penyutradaraannya antara lain: “Puisi Pengharapan”, “Hadineas Sang Prajurit”, “Kata Mati” dan beberapa karya dramawan dunia terutama karya-karya Anton Pavlovich Chekhov.

Tahun 2017, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pekan Teater Nasional di Jogyakarta dengan mengundang 10 grup teater terkemuka dari berbagai daerah di Indonesia. Sanggar Kreatif Manado terpilih mengikuti hajatan tersebut. Aldes Sambalao berkolaborasi dengan Vick Chenore Baule menyiapkan lakon “Museum” karya Iverdixon Tinungki ke ajang bergengsi itu.

Melewati proses latihan sekitar 6 bulan yang langsung dimentori dramawan terkemuka Indonesia Nano Rinatiarno dan Nanang Arizona, “Meseum” akhirnya menjadi sebuah pertunjukan yang mendapatkan apresiasi dan pujian dalam hajatan nasional itu. Buku Catatan Proses Pekan Teater Nasional 2017 memberikan ulasan yang mendalam mengapresiasi “Museum” garapan kolaboratif dua dramawan Sanggar Kreatif ini.

Aldes Sambalao dan Vick Cenore Baule adalah dua penjaga detak nadi Sanggar Kreatif saat ini. Kolaborasi mereka berdua juga mengantar Sanggar Kreatif menjuarai Festival Teater Remaja Indonesia, di Grand Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 2016 dalam lakon “Kata Mati” karya Iverdixon Tinungki, dan sekaligus meraih 5 penghargaan terbaik masing-masing sutradara terbaik Vick Chenore, penata musik terbaik Zadrik Dauhan, aktor terbaik Sandro Samabalao, penata artistik terbaik dan grup penampil terbaik.

Deisy Wewengkang
Lebih dari 30 tahun berkiprah di dunia teater telah mengantar Deisy Wewengkang sebagai salah seorang aktor, sutradara dan pengarang terkemuka Sulawesi Utara saat ini. Lahir di Kapataran, salah satu desa yang indah dan subur dibentang Minahasa pada 2 Desember 1971 dari pasangan orang tua berdarah Minahasa. Menyelesaikan pendidikan tinggi strata satu (S-1) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Manado tahun 1995. Pada tahun 2010 ia menyelesaikan S-2 Bahasa dan Sastra Indonesia di universitas yang sama.

Sejak tahun 1993 ia telah akrab dengan dunia teater. Di masa itu, ia ikut main dalam beberapa pementasan antara lain, pertunjukan “Sendratasik Sejarah Minahasa” karya John Rondonuwu. Kemudian dalam lakon “Togob karya dan sutradara Jony Sangeroki. Berperan dalam lakon “Maryona” dan “Suara Itu Datang Lagi” karya Eprafras Raranta yang disutradarai Fence Mait. Ikut main dalam lakon “Di Taman Arimatea” disutradarai Weny Pantow, lalu dalam lakon “Perkawinan” karya dramawan Rusia Nikolai Gogol yang disutradarai Emil G Hamp.

Ia juga terlibat sebagai aktor dalam drama kolosal “Raksasa Pemangsa alias Katulah” Karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Kamajaya AlKatuuk. Ikut dalam produksi kolosal “Merah Putih Via Dolorosa” karya dan Sutradara Alex Van Derkley.
Pada tahun 1996 Deisy Wewengkang dinobatkan sebagai aktris terbaik dalam Festival Teater Natal di Sonder. Ia juga menulis drama. Beberapa karya dramanya yang terkenal di antaranya: “Penyesalan”, “Vinka”, dan “Pulang”.

Sebagai penulis scenario film, sebuah scenarionya film anak dengan judul “Leos” karyanya, terpilh sebagai Scenario terbaik dalam festival Film Anak Indonesia TVRI dan meraih piala Gatra Kencana. Tak saja di panggung Teater, aktor yang akrab di sapa Deisy ini juga ikut main dalam sejumlah drama televisi dan film produksi TVRI. Saat ini ia menjabat Koordinator Kesastraan di Balai Bahasa Sulut. Sejak tahun 2000 ia menggagas dan terus mengawal pelaksanaan Festival Teater Sekolah Balai Bahasa Sulut dan Bengkel Sastra. Buku-buku karyanya yang telah diterbitkan di antaranya: “Linamboan” penerbit Pusat Bahasa tahun 2006. “Keke Panagian” penerbit Pusat Bahasa tahun 2011. “Asiknya Belajar Menulis Puisi” penerbit Rekacipta Jogyakarta 2010.

Ia salah seorang juri festival teater dan sastra di Sulawesi Utara. Pembicara di sejumlah forum lokal dan nasional. Membimbing anak SD, SMP, SMA dalam penulisan karya sastra puisi dan cerpen di berbagai daerah di provinsi Sulawesi Utara. Membina teater gereja Sion Teling dan Anugerah. Karya-karya drama yang disutradarainya berkali-kali memenangkan festival teater di Sulut. Aktif melakukan penelitian Sejarah Kesastraan di Sulawesi Utara, juga beberapa penelitian cerita rakyat di daerah Sulawesi Utara. Menikah dengan Berry Liogu, SH dan dikarunia dua orang putra: Finnicia Liogu dan Fidilio Liogu.

Robby Ronal Liando
Menyutradarai drama kolosal “Anak-anak Jerusalem” karya Iverdixon Tinungki adalah salah satu karya penting dramawan Robby Ronal Liando dalam jagat teater modern di Manado, Sulawesi Utara. Obi –sapaan akrabnya—lahir di Manado, 11 Okt 1982. Menikah dengan Pdt Afrike Maharibe, MTh dan berdomisili di Wori, Minahasa Utara. Selain bergiat di dunia teater, ia seorang jurnalis yang berkarier di Manado.

Pelatih dan sutradara Teater Amanat, sejak tahun 2003 hingga 2009. Ia juga memberikan pelatihan pada sejumlah kelompok teater gereja, lembaga dan instansi sejak thn 2009 sampai saat ini. Alumni pendidikan jangka pendek fakultas seni pertunjukan, manajemen produksi seni teater di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dalam beasiswa ford foundation 2005. Beberapa kali menjadi sutradara terbaik dalam festival Teater Pemuda dan Remja GMIM. Ia juga seorang penata artistik terbaik. Tim pelatih teater remaja sinode GMIM. Pelatih drama musikal STIE Eben Haezar Manado. Pelatih musikalisasi puisi SMP dan SMA Kr. Eben Haezar.

Penyusun teknis (pola baku) cabang lomba teater Pemuda (FSPG) dan Remaja (PSDKR) Sinode GMIM. Juri teater remaja dan pemuda GMIM. Konsultan cabang lomba teater remaja dan pemuda GMIM. Berkiprah di teater sejak tahun 1996 dalam bimbingan Iverdixon Tinungki dan Deysi Wewengkang. Mengikuti festival teater SMU tingkat provinsi dalam lakon “Air Mata Matahari” karya Iverdixon Tinungki, meraih juara 1. Karya-karya yang pernah disutradarainya di antaranya: lakon “Yudas Iskariot” karya Robby Liando. Lakon “Orang Majus” karya Rendy S. Lakon “Hilang” karya Robby Liando. Lakon “Tertundanya Sebuah Kematian” karya Epafras Raranta. Lakon “Yohanes Pembaptis” karya Epafras Raranta. Lakon “Orang-orang Terusir” karya Iverdixon Tinungki. Lakon “Anak-anak Jerusalem” karya Iverdixon Tiunungki. (*)

Vick Chenore Baule
Vick Chenore Baule saat ini tercatat sebagai salah satu aktor dan sutradara teater terkemuka Sulawesi Utara (Sulut). Telah menyutradarai puluhan pertunjukan baik yang dipentaskan di Sulut dan beberapa kota di Indonesia.

Tahun 2017, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pekan Teater Nasional di Jogyakarta dengan mengundang 10 grup teater terkemuka dari berbagai daerah di Indonesia. Sanggar Kreatif Manado terpilih mengikuti hajatan nasional tersebut. Vick Chenore Baule berkolaborasi dengan dramawan Aldes Sambalao menyiapkan lakon “Museum” karya Iverdixon Tinungki ke ajang bergengsi itu bersama Sanggar Kreatif. Melewati proses latihan sekitar 6 bulan yang langsung dimentori dramawan terkemuka Indonesia Nano Rinatiarno dan Nanang Arizona, “Meseum” akhirnya menjadi sebuah pertunjukan yang mendapatkan apresiasi dan pujian dalam hajatan nasional itu.

Buku Catatan Proses Pekan Teater Nasional 2017 memberikan ulasan yang mendalam mengapresiasi “Museum” garapan kolaboratif dua dramawan Sanggar Kreatif ini. Aldes Sambalao dan Vick Cenore Baule adalah dua penjaga detak nadi Sanggar Kreatif saat ini. Di tangan keduanya, Sanggar Kreatif telah menjadi salah satu maknet pembinaan teater di Sulut. Kolaborasi mereka berdua juga mengantar Sanggar Kreatif menjuarai Festival Teater Remaja Indonesia, di Grand Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 2016 dalam lakon “Kata Mati” karya Iverdixon Tinungki, dan sekaligus meraih 5 penghargaan terbaik masing-masing sutradara terbaik Vick Chenore, penata musik terbaik Zadrik Dauhan, aktor terbaik Sandro Samabalao, penata artistik terbaik dan grup penampil terbaik.

Vick Chenore Baule, lahir di Siau, 2 April 1980. memulai kiprahnya di dunia teater sejak semasa kuliah di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi bersama grup teater Kontra dan Kronis. Dikenal sebagai aktor yang sangat kuat untuk peran-peran menantang. Penyandang Sarjana Sastra ini kemudian membina grup Teater Karang Mantra dan Sido yang sangat berjaya di panggung festival pada era 2000-an awal.

Selain menyutradarai grup-grup sekolahan, ia membina sejumlah grup di lingkungan gereja di antaranya, Teater Akar Pasir dan Manado Teaterholic. Karya-karya penyutradaraannya merajai panggung festival teater di Sulut. Puluhan predikat sutradara terbaik disandangnya. Ia juga menulis sejumlah lakon yang sangat populer di pentaskan grup-grup teater di Manado, Minahasa, Bitung dan Sangihe Talaud, di antaranya: “Surat Luka Ibu Pertiwi” di pentaskan di Taman Budaya Lampung pada Peksiminas 2004. Lakonnya yang berjudul “Babel” ikut dalam festival teater pelajar Semarang. “Lorca” ikut dalam festival teater pelajar Bandung. “Surat Bosias” pentas di Taman Budaya Sulut 2005.

Karya-karya dramanya yang paling populer di antaranya, “Setetes Airmata Iskarina dalam Doa-doa maria”, “Rakelos”, “ Museum Patung”, “Genta”, “ Akar Cahaya”, “Sembilan Saputangan Maria Yang Menyeka Airmata Tuhan”, “Revolusi Lonceng”.

Sebagai aktor, ia pernah menggegerkan panggung teater Sulut lewat lakon “Surat Bosias”. Bermain sebagai tokoh anak bayi yang lahir dalam sebuah ritus kelamin bumi, Vick Chenore tampil total dalam keadaan telanjang bulat. Pertunjukan teater SiDo yang mengusung naskah “Surat Bosias” yang juga disutradarainya itu mengadopsi bentuk teater mistisisme yang langsung dikolaborasi dengan bentuk tradisi asli Sangihe seperti Salo dan Sasambo, berhasil memenangkan 3 nominasi yakni Sutradara Terbaik, Aktris Terbaik dan Grup terbaik. (*)

Penulis: Tim Barta1.

Barta1.Com
Tags: dramawanfestival teatergmim
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Rendy Reza Datangmanis

Ini Dia Profil Para Dramawan dari Generasi Keempat yang Berprestasi di Iven GMIM

Discussion about this post

Berita Terkini

  • AKBP Arie Sulistyo Ajak Awak Media Bersinergi Jaga Kamtibmas 5 Agustus 2026
  • Menembus Arus Selat Dudepo, Sentuhan Kabel Laut Pertama Sulawesi Tuntaskan 100 Persen Listrik Desa di Gorontalo 5 Agustus 2026
  • Reses di Tengah Duka, Hi. Amir Liputo Serap Aspirasi dan Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran Pakowa–Aspol 5 Agustus 2026
  • Upaya Satgas Penanggulangan Kemarau Sitaro Suplai Air Bersih hingga Kampung-kampung 5 Agustus 2026
  • Serap Aspirasi Masyarakat Boltim, Seska Ervina Budiman Siap Perjuangkan Berbagai Program Prioritas 4 Agustus 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In