• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, April 27, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Dramawan Generasi Kedua Dalam Perkembangan Teater Gerejawi di GMIM

by Ady Putong
21 Oktober 2022
in Seni
0
John Piet Sondakh. (foto: dokumentasi pribadi)

John Piet Sondakh. (foto: dokumentasi pribadi)

0
SHARES
161
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Festival Seni Pemuda GMIM (FSPG) yang berlangsung pada 21-23 Oktober 2022 disemaraki tangkai lomba teater yang pelaksanaannya di Jemaat GMIM Victory Kairagi Weru, Manado. Memeriahkan festival tersebut, berikut ini kami sajikan sekilas profil para dramawan generasi kedua dalam sejarah perkembangan teater di lingkup GMIM, dirangkum Tim Barta1.com.

Frankie Willem Supit
Frankie Willem Supit, dapat dikategorikan sebagai aktor terkemuka dalam sejarah teater modern di Sulawesi Utara dan di lingkup GMIM. Sarjana Sosiologi lepasan Stisipol Merdeka Manado yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini telah terlibat dalam ratusan pertunjukan di Manado, Jakarta dan berbagai kota di Indonesia. Kendati lebih menonjol di panggung keaktoran, ia juga dikenal sebagai penulis lakon dan sutradara teater yang melahirkan sejumlah pertunjukan penting di Sulut.

Dramawan kelahiran Manado, 21 April 1957 ini memulai kariernya di dunia panggung dari era 1970-an bersama Teater Lentera di bawah bimbingan Baginda M Tahar. Semasa di Teater Lentera, Angki –sapaan akrabnya—telah ikut bermain dalam sejumlah lakon karya-karya dramawan dunia, di antaranya karya-karya Anton Chekhov dan karya-karya cemerlang Baginda M Tahar semisal ‘Sayang Kembali di Ambang Fajar’.

Keaktoran Frankie lebih mengental saat bergabung dalam sejumlah pertunjukan Balai Teater Eric MF Dajoh yang diikwalinya pada 1986 dengan memerankan tokoh Tonaas Kopero dalam lakon “Lelak” karya Eric MF Dajoh pada Pekan Teater Nasional di TIM Jakarta, 9 Oktober 1986. Pada 2007 dan 2008, ia memerankan tokoh Don Juan dalam lakon karya Molliere yang disutradarai dan diadaptasi Eric MF Dajoh menjadi “Don Juan, Laki-laki dari Utara, Laki-laku Bataru”, di pentas di Gedung Kesenian Pingkan Matindas Manado (2007), dan Gedung Kesenian Jakarta (2008).

Karya-karya penyutradaannya ikut meramaikan berbagai festival teater di Sulawesi Utara. Ia ikut bermain dalam sejumlah pertunjukan baik yang disutradarai Baginda M Tahar, Husen Mulahele, Eric MF Dajoh serta sejumlah sutradara nasional dan daerah. Pada 1994, ia berperan dalam lakon kolosal yang disutradarai Kamajaya Alkatuuk “Raksasa Pemangsa alias Katulah” karya Iverdixon Tinungki yang berlangsung selama sepekan ( 4-5-6-7-8-9-10 Agustus 1994) di Restaurant Nyiur Melambai Manado dan Taman Budaya Sulut.

Iverdixon Tinungki
Lahir di Manado, 10 Januari 1963. Lulus SMA 1982 dan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Merdeka Manado. Bekerja sebagai Jurnalis sejak 1988. Pada 1979 bergabung di Sanggar Alit Muara Manado. Pada 1986 diundang mengikuti pendidikan Teater Rakyat di Bengkel Teater Rendra, Depok atas program kerjasama Yayasan Komunikasi Masa Persatuan Gereja Indonesia. Pendiri Sanggar Kreatif Manado (1990).

Menulis puisi, drama, cerpen, novel, scenario film televisi dan menyutradarai teater. “Senandung Kasih Fitri” adalah sebuah drama telivisi serial (11 seri) yang diproduksi dan ditayangkan TVRI Nasional yang diangkat dari scenario yang ditulisnya. Ia juga menjadi mentor penulisan scenario film anak “Tulisan dari Pulisan” yang mendapat penghargaan piala Gatra Kencana Indonesia. Menulis Skenario Film Televisi “Anak Kebun Sayur’’. Menjadi mentor penulisan Scenario Film “Semateir” yang mendapat penghargaan piala Gatra Kencana Indonesia sebagai film anak terbaik Indonesia.

Sejumlah karya dramanya dipentaskan di tingkat nasional. Tahun 2016 dramanya “Kata Mati” memenangkan Festival Teater Remaja Indonesia, di Grand Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta. Karya dramanya “Museum” dipentaskan di Jogyakarta Tahun 2017. Ia pembicara pada sejumlah forum seni dan sastra nasional dan daerah. Beberapa kali diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan puisi di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Membaca puisi di Gedung Kesenian Jakarta. Penerima Anugerah Puisi tahun 2013 lewat Buku Kumpulan Puisi “KLIKITONG” sebagai Buku Pilihan pada Sayembara Buku Puisi Indonesia. Penerima Anugerah Puisi tahun 2014 lewat Buku Kumpulan Puisi “MAKATARA” sebagai Buku Pilihan pada Sayembara Buku Puisi Indonesia. Puisi dan esainya pernah dimuat diantaranya: di majalah sastra Horison, Harian Sinar Harapan, Harian Indopos dan berbagai media yang terbit di Indonesia.

Karya-karya yang telah diterbitkan: Orang Gila Dari Edgar, Kumpulan Puisi, Teras Busaya 2019. Malam Terakhir Pilatus, Kumpulan Drama, PT Selo Ageng Utara 2017. Manado Mooi, Kumpulan Puisi Bahasa Manado, PT Selo Aheng Utara 2017. Jalur Rempah, Kumpulan Puisi, Teras Budaya 2016. Longuseiku, Kumpulan Puisi, Teras Budaya 2016. Dari Ramensa ke Manongga, Kumpulan Cerita Rakyat Talaud, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Talaud 2016. Kopero, Kumpulan Puisi, Teras Budaya 2015. Makatara, Kumpulan Puisi, Teras Budaya 2014. Moraya, Sepilihan Puisi Berlatar Minahasa, Taman Budaya Sulut 2014. Kepas, sebuah novel, Teras Budaya 2013. Klikitong, Kumpulan Puisi, Teras Budaya 2013. Aku Laut Aku Ombak, Kumpulan puisi, Kutub Jokyakarta 2009. Di Tangan Angin, Kumpulan Puisi, SKM 2001. Surat-Surat Sunyi Rerumputan, Kumpulan Puisi, Departemen IPAIT Sinode GMIM 1977. Sakral, Kumpulan Puisi, Alit Muara 1987.

Sejumlah puisinya juga terangkum dalam Antologi: Mimbar Penyair Abad 21, Balai Pustaka 1996. Dua Penyair Sulut, Bengkel Seni Mandiri 1990. Sasambo, Forum Komunikasi Budaya Satal 1989. Aceh Berduka, Balai Bahasa Medan 2004. Pinangan, Teras Budaya 2012. Metamorfosis, Teras Budaya Jakarta, 2014. Bersepeda ke Bulan, Indopos 2014. Metamorfosis, Teras Budaya 2015. NUN, Yayasan Haripuisi Indonesia 2015. Antologi Puisi 100 Penyair Indonesia – Malaysia 2015. Palagan Sastra, Teras Budaya Jakarta, serta Antologi Drama “Empat Nuansa”, Taman Budaya Sulut 1996. Doroa Sasasa Sinasa, Antologi Puisi Bahasa Sangihe, PT Barta Sulut Mandiri, 2021.

Karya-karya nonfiksi diantaranya: Poros Baru Porodisa, Yayasan PBP, 2022. Nusa Utara Dari Masa Purba Hingga Era Kerajaan, PT Barta Sulut Mandiri, 2020. Mengapa Harus Memilih, KPU Sulut, 2020. Sang Petarung Dari Perbatasan, Authorezed Biography, 2019. Delik Nedosa, Sebuah Kajian Hukum Adat Sangihe, Kantor Kejaksaan Tinggi Sulut, 2002. Nazaret, Sejarah Gereja, 2012. Gunung Hermon, Sejarah Gereja, 2013. Ia juga menjadi editor Antologi Puisi Guru, Balai Bahasa Provinsi Sulut, 2005. Puisi Siswa, Antologi Puisi Siswa, Balai Bahasa Provinsi Sulut.

Jolen Liow
Petengahan 1980-an, saat kehidupan teater di Sulawesi Utara (Sulut) sedang berdenyut keras, Jolen Liow adalah sebuah nama dramawan dari Minahasa yang ikut diperbincangkan. Terakhir, ia lebih dikenal sebagai perupa. Dengan Teater Obor SMA Nasional Kawangkoan yang dibinanya sejak 1980, ia merajai panggung Festival Teater Remaja (VTR) yang diselenggarakan Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) dan Persatuan Artis Teater Sulawesi Utara (PATSU).

Ia bersama beberapa peteater seangkatannya dari Minahasa bertahun-tahun berhasil mempertahankan Kawangkoan sebagai salah satu episentrum teater Sulut. Pada VTR ke III Teater Obor binaannya berhasil menggulung grup-grup teater mapan di Manado dan Tondano. Teater Obor berhasil meraih Juara Umum. Eksistensi Teater Obor yang intens mengadakan pergelaran seni teater waktu itu telah mengilhami munculnya sejumlah grup teater lainnya di Minahasa.

Ketika khazanah perteateran Sulut mulai meredup di penghujung 1990-an, Jolen kemudian beralih menggeluti seni rupa. Ia pernah menjabat pengurus pada Dewan Kesenian Sulut. Peteater ini lahir di Kawangkoan, 1 Juni 1958. Menyelesaikan pendidikan di SMA Nasional Kawangkoan. Ayahnya, Djohon Liow dan ibu Lenny Kalalo. Menikah dengan Henny Tenda dikarunia 2 orang anak: Lidya Karema Liow dan Toar Liow. Karya-karyanya di bidang seni rupa di antaranya: patung Toar dan Lumimuut di Tondano, patung Kawasaran di Tomohon, Tugu Kacang di Kawangkoan, patung Ragei di Kawangkoan, Monumen Frans Mendur & Alex Mendur di Kawangkoan yang diresmikan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Johny Sangeroki
Johny Sangeroki, pentolan Teater Minim yang mengikwali kiprahnya di teater sejak tahun 1980. Pada pertengahan 1993, sebagai anggota Komisi Musik dan Seni Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), dramawan Johny Sangeroki dan Iverdixon Tinungki mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan Teater yang dipusatkan di Bengkel Teater Rendra Depok, Jawa Barat. Pendidikan dan pelatihan teater yang diselenggarakan oleh Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma) Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) untuk seluruh perutusan gereja di Indonesia dimaksudkan untuk mendukung program strategis PGI menjadikan teater sebagai media penyampaian Firman.

Di waktu kemudian Johny lebih banyak berkiprah di dunia teater pelajar dan gerejani. Di antaranya membina Teater Nadi 909 SMAN 4 Manado. Ia pegiat teater yang sepanjang hidupnya melahirkan banyak generasi baru pencinta sastra dan teater di Sulut. Dengan begitu intens ia menggawangi beberapa grup teater pelajar dari Sulut untuk ikut festival di berbagai kota di Indonesia, terutama sanggar seni SMAN 4 Manado yang tercatat punya reputasi nasional. Di organisasi Persatuan Artis Teater Sulawesi Utara (PATSU), Johny Sangeroki beberapa periode menjabat sebagai Wakil Ketua.

Ia juga membina grup-grup teater gereja di antaranya Teater GMIM Bethesda, Selanjutnya, teater GMIM Petra Mahakeret dan teater GMIM Zaitun Mahakeret. Menjadi tenaga pelatih pada program Bengkel Sastra Balai Bahasa Provinsi Sulut. Aktif menjadi juri festival teater pelajar dan umum. Kariernya di dunia teater dalam 30 tahun terakhir ditandai dengan keterlibatannya sebagai aktor dalam sejumlah pementasan lakon-lakon penting yang digarap Eric MF Dajoh, Richard Rhemrev. Aktif sebagai bintang sinetron untuk televisi produksi TVRI sulut.

John Piet Sondakh
Sekembalinya dari pendidikan teater di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) Dramawan yang akrab dengan sapaan Hanny ini mengukuhkan kehadirannya di panggung teater Sulut dengan menggarap Antigone, sebuah tragedi yang ditulis Sophokles, pengarang Yunani yang paling terkenal di dunia, sebelum tahun 442 SM. Sukses dengan Antigone yang dipentaskan di Gedung Kesenian Pingkan Matindas Manado tahun 1983, dengan melibatkan Teater SMPP Negeri 29 Manado, di tahun yang sama kembali dipentaskan di Bukit Inspirasi Tomohon. Tahun 1985, dramawan, aktor dan pembaca puisi ini dipercayakan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sebagai Sutradara Umum pada ajang pembukaan Pesparawi Nasional di Stadion Klabat Manado yang melibatkan 3 ribu orang lebih pemain dan pendukung konfigurasi.

Lahir di Langoan, Minahasa pada 6 Maret 1957. Riwayat pendidikan, SD GMIM 8 Tikala Manado. SMP Kristen Tikala Manado. SMPP NEG 29 Manado. LPKJ ( Lembaga pendidikan Kesenian Jakarta ) Tahun 1977 sd 1981. Semenjak masa kuliah ia telah menjadi Koordinator acara Mimbar Kristen Protestan sebuah materi tayangan TVRI PUSAT Jakarta yang bekerjasama dengan Yayasan Komunikasi Massa Dewan Gereja Indonesia (YAKOMA DGI).

Kembali ke Manado tahun 1981, ia mendirikan Teater SEPAKAT dan mengajar Seni Teater di beberapa sekolah di Manado, di antaranya, SMA NEG 2 Manado, SMA NEG 1 Manado, SMKN 1 Manado dan SMPP NEG 29 Manado dari tahun 1982 sampai dengan 1986. Pada 1986 sampai dengan 1993 menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditugaskan di Bidang Kesenian Kanwil DEBDIKBUD Propinsi Sulut. Ia kemudian berhenti dari PNS lalu terjun ke dunia entertainment sambil terus berkiprah di dunia panggung baik sebagai aktor drama dan film televisi, juri festival sastra dan drama.

Julius Raymond Rorimpandey
Ia seorang aktor dengan kemampuan akting komikal yang memikat. Selain di panggung teater, ia juga eksis di sinetron dan film. Di Manado ia akrab disapa dengan nama panggilan Inyo. Lahir di Manado, 5 Juli 1962. Pendidikan: SD 1974, SMP 1977, SMA 1981. Pernah kuliah di UKIT Fakultas Teologia. Pernah Kuliah di UKRIDA Jakarta Fakultas Psikologi dan Ekonomi.

Jalan kesenian pilihannya bermula sejak belia, lewat sebuah pentas tonel di Gereja GMIM Galea Teling. Lalu pada setiap perayaan gereja lagi-lagi terlibat pentas tonel hingga lulus SMP Negeri 2 Manado. Tahun 1975 masuk SMA PSKD (Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta). Sejak masuk SMA PSKD ia terlibat kegiatan eskul drama/ teater sekolah dan sempat pentas 6 kali. Ketika itu juga sempat terlibat sebagai aktor dalam film yang disutradarai Frank Rorimpandey.

Bersama Richard Rhemrev, ia intens bergiat di panggung pementasan, dan berlakon dalam drama-drama TVRI Manado. Menjadi aktor tetap dalam mata acara TVRI Manado “Ruang Kamtibmas” bekerjasama dengan Humas Polda Sulut. Dengan merebaknya stasiun televisi di Indonesia, membuat dia kerap main dalam berbagai sinetron. Bersama sutradara film Jeffry Luntungan, ia terlibat produksi serial “Mikro Om Alo” sebagai pemeran utama. Dengan dramawan Frangky Kalumata, ia ikut berteater di Taman Budaya Sulut. Mengikuti pentas temu Taman Budaya di Samarinda, Kalimantan Timur. Lalu di Pontianak, Bandung dan Jakarta.

Ia juga sempat bergiat bersama dramawan Erick MF Dajoh di Jakarta pada 1994. Ikut beberapa kali dalam hajatan Balai Teater yang digawangi Dajoh di Manado dan Jakarta. Ia kemudian kembali ke Manado pada tahun 1995 dan menjalani karier sebagai jurnalis hingga saat ini di sebuah media lokal.

Leonardo Axsel Galatang
Leonardo Axsel Galatang, lahir di Bitung, 27 Maret 1963. Pendidikan terakhir Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Merdeka Manado. Bekerja sebagai wartawan di Harian Manado Post hingga pensiun. Ratusan puisi dan seratusan naskah drama telah ditulisnya.

Tahun 1983 Axsel mendirikan Teater Repsas. Namun grup teater yang didirikannya ini hanya berumur setahun. Setelah menggelar dua kali pementasan musikalisasi puisi, Axsel ditangkap aparat Orde Baru dengan dalih pementasannya tak berizin dan puisinya dianggap ‘menghasut’ dan ‘merongrong’ penguasa. Lepas dari tahanan aparat, Axsel mengganti nama sanggar teaternya menjadi Sanggar Tangkasi sampai sekarang.

Bersama Tangkasi Axsel produktif menggelar pembacaan Puisi dan pementasan Teater. Tahun 1986 Axsel lagi-lagi ditangkap karena menggelar pementasan tanpa izin di Balai Pertemuan Umum Bitung. Kali ini ia bukan sekadar diinterogasi, tetapi ‘’dibina’’ hingga babak belur. Ayahnya dan ibunya dijemput paksa dan diinterogasi selama dua hari. Ratusan puisi dan teks drama karyanya disita dan dibakar. Akibat ‘’pembinaan’’ ala aparat tersebut, Axsel mengalami cacat permanen; betis kanannya harus disambung dengan platina dan dia menjadi gagap karena sarafnya terganggu. Sejak 2001, Tangkasi telah melebarkan sayapnya dengan mendirikan Sanggar binaan di seluruh SMP dan SMA/SMK di kota Bitung.

Tiap tahun, sanggar binaan itu ‘diadu’ lewat panggung Festival Kesenian Tangkasi. Sanggar Tangkasi kini memiliki ribuan anggota. Axsel sendiri dibaptis anak- anak binaanya jadi Presiden Tangkasi.

Karya-karyanya yang telah diterbitkan: Riak Utara, Antologi Puisi 1987 diterbitkan Pusat Pengabdian Pada Masyarakat IKIP Negeri Manado. Enam Penyair Sasambo, Antologi Puisi 1991 diterbitkan Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud. Nyanyian Dari Tingkungan, Kumpulan Drama 2007 diterbitkanSanggar Tangkasi Bitung. Dendang Bocah Gelombang, Kumpulan Drama 2013 diterbitkan Yayasan Istitut Seni Budaya Sulawesi Utara. Selendang Sutra Jingga, Kumpulan Drama 2017 diterbitkanYayasan Serat Manado dan Balai pelestarian Nilai Budaya Manado.

Ventje Mait
Ia telah menghabiskan lebih dari 37 tahun sebagai penggiat dan pengerak perteateran di daerah ini. Sebagai actor, tata artistic, sutradara, boleh dikata telah dilewatinya lewat lakon-lakon berkelas semisal ‘Kapai-Kapai’ karya Arifin C. Noer. Bahkan naskah-naskah dramawan asing seperti Anton Pavlovich Chekhov dari Rusia, atau karya-karya Moliere dramawan Prancis yang bernama lengkap Jean Baptiste Poquelin.

Untuk lakon asing, ia terakhir ikut main dalam Don Juan karya Moliere yang dipentaskan di Pingkan Matindas Manado, dan di Gedung Kesenian Jakarta disutradarai Eric MF. Dajoh. Dramawan berdarah Minahasa ini termasuk seniman tulen yang tak pernah mengenal kata surut dari panggung. Kendati telah berusia 61 tahun, ia masih saja eksis. Pada 2018 lalu, ia ikut main dalam lakon ‘Sayang Kembali di Ambang Fajar’ karya Baginda M Tahar dalam pentas sastra di Balai bahasa Sulut. “Kesenian telah menjadi jalan hidup saya. Kendati telah merasa tua, namun seni selalu memberi tenaga dan daya hidup untuk saya,” ujarnya.

Sebagai actor, di Sulut sangat sulit dicari karakter peran lelaki tua yang bisa melampaui aksi panggung Ventje Mait. Selain dramawan Richard Remrev yang juga piawai memainkan peran lelaki tua, kerakter itu telah berkali-kali membawa Ventje Mait sebagai actor terbaik dalam sejumlah festival teater di Sulut sejak remaja. Ia sangat dikenal di kalangan penggiat teater dan sastra pemuda dan remaja GMIM. Selain pernah menjabat anggota komisi kesenian di Sinode gereja terbesar ke II di Indonesia itu, ia merupakan juri tetap festival teater dan sastra gerejani di Sulut.

Dramawan ini lahir pada 26 Mei 1958 di Balikpapan. Lulus SMA Pancasila pada 1979. Menikah dengan Elsye Toloh, S.Sos dikaruia 3 orang anak; Bevyer Mait, SE, MSi, kini ASN di Dinas Pariwisata Kota Tomohon. Ostani Mait, SH, kini honorer di BARISTAN Manado. Justisia Mait, saat ini berstatus mahasiswa Unima, semester akhir. Sebagai pekerja seni senior, Ventje hingga kini masih aktif menyutradarai teater dan menjadi Juri Festival Teater, dan Sastra. Ia juga tercatat sebagai pelatih Teater dalam program Bengkel Sastra Balai Bahasa Provinsi Sulut.

Kiprahnya di dunia teater dan sastra berawal pada tahun 1982 bersama Teater Smansa, lalu tergabung dalam Teater Minim yang diasuh dramawan Wemmpy Lontoh. Ia telah meraih sejumlah penghargaan baik di bidang tata artistic, actor dan sutradara terbaik sejumlah festival, dan aktif dalam pentas di berbagai kota di Indonesia. Kini masih terus membina sejumlah grup teater gerejani di Manado dan Minahasa. (*)

Penulis: Tim Barta1

Barta1.Com
Tags: dramawanfspg 2022gmimGMIM Victory Kairagi Weruteater
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Aldes Sambalao

Para Dramawan GMIM Generasi Ketiga Yang Mewarnai FSPG 2022

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Ringkus Gembong Sabu Karombasan, Jaringan Dikendalikan dari Lapas Tuminting 27 April 2026
  • Akses Jalan Likupang Dikeluhkan Warga, DPRD Sulut Panggil PT MSM dan BPJN RDP 27 April 2026
  • Bupati Hadiri HUT ke-64 Jemaat GMIST Samaria Bulude, Letakkan Batu Dasar Ruang Serbaguna 27 April 2026
  • GERAK Ungkap Cacat dalam Juknis Penyaluran Bantuan Bencana Gunung Ruang 25 April 2026
  • Terumbu Karang: Penjaga Kehidupan Laut dan Kepentingan Dunia 25 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In