“Beberapa perjalanan membawa kita
jauh dari rumah.
Beberapa petualangan menuntun kita
menuju takdir kita.”
— CS Lewis—
Dengan warisan uang senilai 100 pounds dari orang tuanya yang petani, apa yang dapat dilakukan Clive Staples Lewis . Bahkan kawannya berkomentar; “Hmm, memang sepertinya jumlah itu tak akan mampu membawa saya ke mana-mana ya.”
Tapi bagi Lewis, kelakar temannya Paxford, tak membuat ia sakit hati, karena ia memang tak pernah banyak memikirkan tentang uang. Pikirannya selalu untuk hal-hal yang lebih tinggi yaitu berbagi kebaikan dengan sesama.
Di kalangan penulis Kristen, C.S. Lewis (1898-1963) barangkali bisa dibilang sebagai penulis paling terkenal di zaman modern ini. Ia setara dengan dengan J.R.R. Tolkien. karyanya paling banyak dibaca dan paling sering disebut di dunia literatur Kristen modern. Sepanjang tahun 1931-1962 ia telah menuliskan 34 buku, belum termasuk yang diterbitkan setelah kematiannya.
Baca Juga: Biografi Adrey Laikun ST Sang Legislator Nasdem (1) : Anak Pulau, Anak Pesisir
Salah satu karyanya yang telah difilmkan yaitu “Chronicles of Narnia; the Lion, the Witch and the Wardrobe”. Dengan sukses besar yang diraihnya, apa yang dilakukan anak kelahiran Belfast, Irlandia ini di kemudian waktu? Ia justru menyumbangkan 90 persen dari seluruh pendapatannya ke badan amal “The Agape Fund”.
Kisah kehidupan penulis, teolog (kristen) awam dan pakar sastra Britania Raya inilah salah satu pelajaran penting yang ditimba Adrey Laikun dalam mempelajari kehidupan.
“Ada ungkapan, hidup itu seperti sungai dan setiap orang pun punya kelokannya. Nyaris seluruh rahasia orang sukses dimulai dari beragam kegagalan tapi tak ada kata berhenti untuk memulainya kembali,” ujar Adrey Laikun, dalam suatu percakan dengan Tim penulis di OMMO Cafe pada awal Juni 2022 saat mengisahkan kelokan hidupnya.
Sebagai anak dari seorang guru sederhana yang hidup dan mengabdi di pulau, Adrey Laikun punya cita-cita mengabdi untuk bangsa dan negara sebagaimana ayahnya. Cita-citanya tak terlampau tinggi sesungguhnya. Selepas SMA ia ingin masuk tentara atau polisi. Namun cita-cita itu kandas.Tak kunjung sampai, tak tergapai, karena ia ternyata gagal dalam tes masuk polisi. Menyerah? Tidak!
Ia pun memilih ke perguruan tinggi mengambil jurusan teknik di Politeknik Manado. Dan, sejak saat itu kehidupannya mengalir sebagaimana ungkapan CS Lewis: “Beberapa petualangan menuntun kita menuju takdir kita.”
Pertengahan tahun 2002, selepas kuliah di Politeknik, Adrey tak langsung kuliah S1. Ia melamar kerja terlebih dahulu sebagai teknisi di pabrik Coca Cola di Bitung. Ia bekerja selama setahun di pabrik itu. Selama bekerja sebagai teknisi pabrik Coca Cola, Adrey juga mulai mencoba usaha suplier ayam daging.
Melihat peluang yang lebih besar di usaha ayam daging, Adrey memutuskan berhenti kerja di pabrik Coca Cola untuk fokus di usahanya tersebut. Awal usaha suplier ayam daging dimulainya dari membeli ayam milik orang lain kemudian dijual ke supermarket dan hotel di seputaran Manado sampai akhirnya mampu membangun kandang ayam sendiri. Ayam ternaknya lumayan banyak dan untung dari penjualan kian banyak pula.
Selama menjalankan bisnis ayam ini, Adrey dibantu oleh istrinya Meylani dan Yafet (sekarang asisten pribadinya selaku Wakil Ketua DPRD). Mereka bertiga bergantian membersihkan ayam sebelum dikirim ke supermarket-supermarket dan hotel.
Usaha suplier ayam daging yang dia geluti selama kurang lebih 7 tahun (2003-2009) hingga mencapai titik penjualan kurang lebih 12.000 ekor ayam perbulan.
Baca Juga: Biografi Adrey Laikun ST Sang Legislator Nasdem (2): Cinta Dalam Sekotak Abon
Sembari menjadi suplier ayam daging, Adrey juga merintis penjualan telur ayam. Menariknya Adrey juga menjual telur ayam berkeliling di warung-warung menggunakan motor yang jok belakangnya dipasangkan semacam bak.
“Dalam sehari saya bisa menjual sekitar 200 baki telur ayam. Namun bisnis ayam daging dan telur ayam ini terhenti setelah rekan bisnis saya meninggal dan lahan yang dipakai untuk kandang ayam sudah menjadi pemukiman penduduk,” kisah Adrey, dan di lain sisi, istrinya sudah mulai menjalankan tugas pelayanan di gereja.
Pada tahun 2009, Adrey mulai fokus menjadi kontraktor. Kontrak pertamanya sebesar Rp7,5 juta untuk membuat gerobak, kemudian mulai meningkat ke tong sampah sampai ke kontruksi bangunan dengan anggaran miliaran.
Kurang lebih 10 tahun Adrey mengalami sukses di usaha kontraktor dengan relasi dan jaringan kerja yang luas. Di masa sebagai kontraktor ini pula Adrey Laikun melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Sariputra Indonesia (UNSRIT) Tomohon hingga tamat dengan gelar Sarjana Teknik (ST), kemudian melanjutkan pendidikan pasca-sarjana jurusan teknik di Universitas Sam Ratulangi Manado.
Pada tahun 2018, dengan segala pengalaman yang cukup di dunia usaha, ia melangkah ke panggung politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Manado lewat Partai NasDem. Pada Pemilu 2019, Adrey Laikun, ST terpilih sebagai anggota DPRD Kota Manado dan terpilih sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Manado.
Baca Juga: Biografi Adrey Laikun ST Sang Legislator Nasdem (3): Berguru di Mata Yang Sederhana
Mendengar tuturan perjalanan karier Adrey Laikun, kita jadi ingat ungkapan Hendry Ford, di mana seluruh rahasia hidup yang sukses adalah mencari tahu apa takdir yang harus dilakukan dan kemudian melakukannya. (*)
Penulis: Iverdixon Tinungki, Ryan Mamangkey dan TIM


Discussion about this post