Frankie Willem Supit, dapat dikategorikan sebagai aktor terkemuka dalam sejarah teater modern di Sulawesi Utara.
Sosok yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini telah terlibat dalam ratusan pertunjukan di Manado, Jakarta dan berbagai kota di Indonesia. Kendati lebih menonjol di panggung keaktoran, ia juga dikenal sebagai penulis lakon dan sutradara teater yang melahirkan sejumlah pertunjukan penting di Sulut.
Dramawan kelahiran Manado, 21 April 1957 ini memulai kariernya di dunia panggung dari era 1970-an bersama Teater Lentera di bawah bimbingan Baginda M Tahar.
Semasa di Teater Lentera, Angki –sapaan akrabnya—telah ikut bermain dalam sejumlah lakon karya-karya dramawan dunia, di antaranya karya-karya Anton Chekhov dan karya-karya cemerlang Baginda M Tahar semisal ‘Sayang Kembali di Ambang Fajar’.
Keaktoran Frankie lebih mengental saat bergabung dalam sejumlah pertunjukan Balai Teater Eric MF Dajoh yang dikwalinya pada 1986 dengan memerankan tokoh Tonaas Kopero dalam lakon “Lelak” karya Eric MF Dajoh pada Pekan Teater Nasional di TIM Jakarta, 9 Oktober 1986.
Pada 2007 dan 2008, ia memerankan tokoh Don Juan dalam lakon karya Molliere yang disutradarai dan diadaptasi Eric MF Dajoh menjadi “Don Juan, Laki-laki dari Utara, Laki-laku Bataru”, di pentas di Gedung Kesenian Pingkan Matindas Manado (2007), dan Gedung Kesenian Jakarta (2008).
Sebagaimana generasi seangkatannya, karya-karya penyutradaannya ikut meramaikan berbagai festival teater di Sulawesi Utara. Ia ikut bermain dalam sejumlah pertunjukan baik yang disutradarai Baginda M Tahar, Husen Mulahele, Eric MF Dajoh serta sejumlah sutradara nasional dan daerah.
Pada 1994, ia berperan dalam lakon kolosal yang disutradarai Kamajaya Alkatuuk “Raksasa Pemangsa alias Katulah” karya Iverdixon Tinungki yang berlangsung selama sepekan ( 4-5-6-7-8-9-10 Agustus 1994) di Restaurant Nyiur Melambai Manado dan Taman Budaya Sulut.
Selang 50 tahun pengabdiannya di dunia teater Sulut, ia telah menghabiskan banyak hari dalam berbagai peristiwa kesenian, baik sebagai aktor, sutradara, penulis lakon, juri festival teater, pembina bengkel sastra Balai Bahasa Sulut, serta pembicara pada forum-forum diskusi kesenian.
Ia membintangi sejumlah sinetron televisi dan film layar lebar yang dikerjakan rumah-rumah produksi lokal dan nasional, serta sebagai organisator yang sangat berpengaruh bagi perkembangan teater Modern di Manado dan sekitarnya.
Ia beberapa periode menjadi pengurus Dewan Kesenian Sulawesi Utara dan Persatuan Artis Teater Sulawesi Utara, dan hingga ia tutup usia pada Rabu, 25 Mei 2022 tercatat masih menjabar sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Sulawesi Utara, dan PARFI Sulawesi Utara.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post