• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Kamis, April 30, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Nasional

Pameran Seni ‘Bakar Manyala’ Silaturahmi Perupa Sulut dan Gorontalo

by Rendy Saselah
12 November 2021
in Nasional, Seni
0
Para Perupa dalam giat pameran seni “Bakar Manyala” di Riden Baruadi Gallery, di jalan Raja Eyato, Kelurahan Limba-B, Kota Selatan, Kota Gorontalo. (Istimewa)

Para Perupa dalam giat pameran seni “Bakar Manyala” di Riden Baruadi Gallery, di jalan Raja Eyato, Kelurahan Limba-B, Kota Selatan, Kota Gorontalo. (Istimewa)

0
SHARES
169
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Gorontalo, Barta1.com – Secara historis Gorontalo dan Sulawesi Utara memang sudah terkoneksi. Baik secara teritori maupun manusianya. Para perupa Sulawesi Utara (Sulut) dan perupa Gorontalo menginisiasi pameran seni rupa bertajuk ‘Bakar Manyala’.
Pameran seni rupa ini dapat ditemui di Riden Baruadi Gallery, di jalan Raja Eyato, Kelurahan Limba-B, Kota Selatan, Kota Gorontalo. Pameran ini terbuka untuk masyarakat umum mulai sejak, Selasa 9 hingga 20 November 2021.

Sejumlah perupa, pegiat budaya, anak muda yang tergabung dalam beragam komunitas, juga mahasiswa antusias dengan adanya pameran ini. Adalah Dicky Senda, seorang penulis dan pegiat budaya yang juga founder Lakoat.Kujawas asal Mollo Nusa Tenggara Timur, yang membuka kegiatan ini.

Pada awalnya, Dicky sapaan akrabnya, merasa kurang layak untuk membuka acara tersebut, namun ia menyadari satu hal tentang mengapa ia ditunjuk membuka giat tersebut. Menurutnya, Bakar Manyala merupakan frasa yang tak asing di telinga orang-orang dari Indonesia Timur. Hal itu yang membuat dia merasa terterima dengan baik di daerah bumi Hulontalo. Ia percaya bahwa, kehadiran para perupa, kaum muda, dan semua yang terlibat pada giat ini memiliki rasa keterhubungan, rasa persaudaraan, serta solidaritas.

“Kita semua sebenarnya saling beririsan, misalnya, saya hadir di sini bertemu dengan teman-teman di Huntu Art Distrik, kemudian saya berkenalan dengan perupa Gorontalo dan Sulawesi Utara serta ketemu dengan orang-orang muda kreatif yang bergiat di sini, itu semua karena semesta mendukung,” ucap Dicky.

Dicky merasa sangat senang akan giat ini, dan ia berterimakasih kepada kawan-kawan perupa di Gorontalo yang telah membuat ruang titik temu, di mana, generasi tua dan muda lintas suku dan agama bisa duduk bersama.

Menilik tentang Bakar Manyala, Djufryhard, Direktur Riden Baruadi Gallery menyatakan, Pemilihan tema Bakar Manyala dalam gelaran pameran kali ini didasari atas realitas dan koneksi budaya Gorontalo dan Sulawesi Utara yang sangat familiar dengan istilah teraebut. Bakar Manyala selama ini identik dengan minuman lokal yang dibuat secara tradisional berbahan dasar nira aren.

“Bakar Manyala menunjukan bahwa minuman tersebut berkadar alkohol tinggi dan ketika dibakar mengeluarkan api biru tak ubahnya dengan spiritus,” Ujarnya.

“Bakar Manyala dalam ruang seni & rupa menegasikan tentang semangat dan komitmen bersama untuk memperkenalkan serta menyebarkan pesan-pesan persaudaraan dan perdamaian melalui ragam karya & teknik senirupa,” Lanjut Djufryhard.

Pada pembukaan pameran seni ini, Suleman Dangkua, perupa Gorontalo yang karya lukisannya ikut dipamerkan dalam sambutannya menyampiakan bahwa gagasan awal pameran ini diinisiasi oleh perupa Iwan Yusuf waktu berkunjung ke Manado, Sulawesi Utara.

Ketika itu, Yusuf bertemu dengan Alfred Polontodo, perupa Manado. Dari pertemuan itu, timbul kesadaran akan keterpisahan antara perupa Gorontalo dan Sulawesi Utara, yang sebenarnya masih dalam satu rumpun di utara pulau sulawesi.

“Kita sebenarnya sangat dekat tapi juga terasa sangat berjarak, hal inilah menjadi cikal bakal kita untuk bersama melakukan pameran, melukis bersama, guna menyatukan” ucap Suleman

Melalui pameran yang digagas untuk menyambung silaturahim antara perupa Gorontalo dan Sulawesi Utara ini, sebanyak 24 lukisan dari beragam aliran dihadirkan dalam pameran tersebut. 12 perupa Gorontalo dan 11 perupa Sulut menjadi tamu Riden Baruadi Gallery dalam gelaran pameran yang dilaksanakan selama 2 pekan tersebut.

Bakar Manyala ini diangkat guna membangkitkan kembali semangat kebersamaan. Pameran Bakar Manyala ini menjadi letupan-letupan dari masing-masing perupa untuk mengekspresikan karyanya. Spirit ini, kata Suleman, yang akan menyambungkan persaudaraan para perupa di pulau Sulawesi. Karena, menurutnya perlu terus didorong lahirnya kerjasama kreatif antara perupa Gorontalo deng a perupa dari luar Gorontalo.

Kehadiran pameran ini, disambut antusias dan mendapat beragam apresiasi dari masyarakat Gorontalo. Walaupun secara umum apresiasi atas karya seni rupa di Gorontalo masih jauh dari harapan, namun Suleman berharap, dengan adanya giat-giat seperti ini lambat laun masyarakat Gorontalo akan semakin mencintai dan menghargai karya seni rupa.

“Apalagi acara ini tidak hanya ada pameran lukisan, tapi juga ada pidato kebudayaan, ada juga melukis bersama. Dari ini kami ingin memenunjukkan sekaligus mengajak masyarakat untuk hadir dan berinteraksi dalam kegiatan berkesenian seperti ini,” Ujarnya.

Harapannya pameran tersebut dapat dilakukan secara periodik dengan perupa Sulawesi Utara dan akan jadi semangat cincin api yang jalurnya dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan kembali ke Utara. Akan menghubungkan semangat bersama para perupa se Sulawesi.

“Seperti filosofi gambar Bakar Manyala dengan korek Zippo yang bila ditiup angin tak padam,” tuturnya.

Kemudian, dari Alfred Polontodo, seorang perupa asal Sulawesi Utara menyampiakan, pameran ini bertujuan menjadi embrio kerjasama para perupa Sulut dan Gorontalo. “Temanya itu Bakar Manyala yang mungkin identik dengan minuman beralkohol Tapi kami ingin menampilkan sisi positif dari istilah tersebut bahwa setiap kita ketemu, akan saling memberi semangat memberi percikan ide kemudian menyalakan api kreativitas,” jelasnya

Alfred menyatakan, para perupa baik dari Sulut maupun Gorontalo ingin membangun pesan kepada masyarakat melalui media seni karya mereka masing-masing. Memantik ‘Bakar Manyala’, memberi pesan positif kepada masyarakat untuk bisa lebih kuat dalam menghadapi kondisi Pandemi Covid-19 saat ini.

Para perupa memberi tawaran oase bagi masyarakat yang pada umumnya selalu disuguhi informasi melalui media-media, dimana kemudian mereka menawarkan oase yang lain, bahwa, masyarakat boleh berinteraksi dengan karya para perupa sehingga mendapatkan kesejukan dan ketenangan melalui karya seni rupa.
Ia berharap kegiatan seperti ini akan berlanjut. Pada rencananya di kedepannya mereka akan menggelar giat Bakar Manyala 2 di Manado, Sulawesi Utara.

“Dua tahun berikut kami perupa Sulut dan Gorontalo akan mengajak perupa Sulawesi Tengah untuk terlibat dan bersama-sama menyalakan serta menyebarkan api semangat di daratan Sulawesi,” ungkapnya.

Kepada para perupa Gorontalo, Alfred merasa sangat kagum dan terpesona dengan semangat kebersamaan dan kemandirian tanpa pamrih. Apalagi dengan adanya Riden Baruadi Gallery sebagai wadah bersama yang sangat representatif bagi pegiat seni dan rupa untuk menampilkan karyanya.

Hal itu menurutnya, merupakan sebuah lompatan besar yang tidak dimiliki oleh perupa di Sulut. Ia juga mengapresiasi kawan-kawan perupa Gorontalo yang sangat giat dengan ide-ide kreatif untuk menciptakan event berkualitas, semua memberi diri, saling mengisi, bersumbangsih dengan bidang, kapasitas dan kemampuan masing-masing.

“Kawan-kawan perupa Gorontalo bisa menyatukan para pegiat lintas komunitas bisa bersatu di dalam event pameran ini. Bagi kami itu inspirasi yang bisa kami ambil dan harus bisa kami terapkan di Sulut,” Ungkap Pontolondo.

Peliput : Rendy Saselah

Barta1.Com
Tags: Alfred Pontolondogorontalopameran seniriden baruadi gallerySulut
ADVERTISEMENT
Rendy Saselah

Rendy Saselah

Next Post
Wakil Bupati jadi irup di Upacara Bendera peringatan Hari Pahlawan.(Foto:ist)

Hari Pahlawan di Sitaro Diperingati dengan Upacara Bendera

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Ajang Talenta SMP 2026, Ruang Pembinaan Prestasi dan Karakter Siswa Sangihe 30 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Akui Kekosongan Obat, Sebut Dampak Transisi Pengadaan 29 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Gandeng Dekopinda untuk Menata Usaha di Lingkungan Rumah Sakit 29 April 2026
  • Menyiapkan Generasi Vokasi di Era Digital: Kuliah Umum Polimdo Angkat Isu Digital Marketing dan Keuangan Praktis 29 April 2026
  • RDP DPRD Sulut: Pokir Lenyap, Bantuan Rumah Ibadah Tak Ada di Tomohon 29 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In