Sebelum menggali akar yang lebih dalam, saya ingin mengikwali catatan ini dengan dua pertunjukan di tahun 2007 yaitu “Perkawinan” karya Nicolaj Gogol dan “Impresi Sebuah Lubang Kunci” karya Iverdixon Tinungki”.
Jumat, 13 April 2007, studio RRI Tahuna, hari itu benar-benar dipadati pengunjung. Yang hadir pun sangat variatif dari Wakil Bupati Sangihe, sejumlah pejabat Badan dan Dinas, kepala-kepala sekolah, guru-guru, siswa dan masyarakat umum. Mereka semua datang menyaksikan pementasan perdana kelompok Teater Lava. Sebuah grup yang kelahirannya masih seumur jagung. Ini pemandangan yang sangat menarik dalam kurun lebih dari 10 tahun belakangan, setelah kegiatan-kegiatan teater dan kesasteraan nyaris tidak terdengar letupannya di kabupaten itu.
Diskursus politik dan pemerintahan lebih dominan mengambil ruang-ruang perbincangan publik di sana. Ini sebabnya, kerinduan terhadap kegiatan kesenian yang lebih berfungsi sebagai guru dan penilai zaman ternyata telah memiliki wilayah dahaga tersendiri. Dan kalaupun mereka hadir pada saat itu, tentu ingin minum sepuasnya dari oase yang meresepsi dua lakon yang disuguhkan.
Bagi saya yang ikut nonton, peristiwa ini adalah sebuah fenomena penting dalam geliat perteateran di kawasan yang harusnya menjadi ladang seni budaya itu. Sebab untuk pertama kali, sebuah pementasan teater modern kembali bisa disaksikan dalam dekade terakhir, setelah ditinggalkan dramawan Glorius Bawengan yang kiprahnya akan saya sentil kemudian.
Lebih menarik lagi ketika mencermati keberanian grup Bensas Lava memanggungkan drama komedi karya dramawan dunia Nicolaj Gogol yang sudah pasti menuntut kemampuan acting para aktornya. Saat yang sama mereka juga mementaskan “Impresi Sebuah Lubang Kunci” sebuah drama simbolik yang sangat menguras energy pemain.
Kembali sebuah kejutan membuat saya terperangah sejak awal hingga akhir pementasan dua lakon yang mereka panggungkan. Bayangan suram tentang wajah suatu kawasan yang perteaterannya telah mengalami matisuri dalam kurun yang panjang menjadi cair seketika. Keterkejutan itu ternyata bukan saja milik saya, tapi semua penonton yang hadir memberikan aplaus apresiatif yang luar biasa atas pementasan tersebut. Sederhananya, dua nomor pementasan yang mereka sajikan menyedot daya pikat, karena keberhasilan mereka membangun situasi dan simbol-simbol teaterikal dan dramatis yang kuat.
Dalam “Perkawinan” misalnya, hampir semua pemain berhasil masuk dalam karakter tokoh yang diinginkan lakon tersebut. Para pemain tampak begitu lepas bebas memerankan tokoh-tokohnya. Kekuatan pemeranan ditunjang tataan artistik serta musik yang apik. Tak pelak, lakon yang bercerita tentang realitas sosial dari kehidupan keseharian seorang manusia yang penuh kekonyolan, berhasil disuguhkan seperti apa adanya lewat lakon “Perkawinan”. Kemampuan mereka dalam mengadaptasi naskah dengan pengunaan idiom-idiom lokal (Sangihe) membuat pementasan pada nomor ini sangat mendarat.
Pada lakon “Impresi Sebuah Lubang Kunci”, tercatat kemampuan mereka membangun simbol-simbol yang diingin dalam teks terbilang sangat berhasil memberi getaran estetik. Elaborasi dunia cinta yang penuh intrik disuguhkan secara hitam putih. Kebeliaan para pemeran kembali menjadi kekuatan tersendiri dalam pementasan ini, karena memang cinta adalah dunia mereka. Untuknya, dibutuhkan suatu kemampuan dasar yang cukup dan cakap bagi aktor dan artis ketika memainkan jenis teater ini. Kekuatan referensi masalah yang menjadi konsep dasar pementasan menjadi bahan baku utama. Demikian pula dengan kemampuan acting para pemainnya.
Lawat dua lakon tersebut, Teater Bensas Lava, setidaknya telah mampu menarik perhatian peta perteateran Sulut ke arah Utara. Saya melihat bakat-bakat seni yang sangat kuat yang begitu lama tersembunyi dan terpasung oleh kondisi sosial politik kawasan itu, mulai muncul kembali dalam nafas barunya di kawasan tapal batas NKRI ini.
Jauh sebelum kelahiran teater sekolahan seperti Bensas Lava, komunitas gerejani di sana telah hidup dalam tradisi pertunjukan Tonil. Basis-basis teater lebih berkembang di lingkungan gereja sejak masa zending Eropa. Orang-orang Sangihe Talaud dari kurun waktu sebelumnya telah akrab dengan pertunjukan tonil Natal dan Paskah. Carita-cerita Alkitabiah selalu dipentaskan dalam bentuk tonil yang sederhana pada saat perayaan hari-hari besar Kristiani itu.
Pertunjukan teater yang melibatkan teknik penggarapan modern boleh dikata baru mulai di era 1980-an, ketika Departemen Penerangan Sangihe Talaud memulai tradisi Festival Teater Rakyat. Sejak itu, grup-grup terkemuka dari Sangihe Talaud mulai menjajal panggung-panggung pertunjukan di Manado. Nama-nama peteater dari negeri perbatasan ini seperti Jetty Pulu, Simson “Pokale” Sikape mulai dikenal dan terus mewarnai sungai sejarah pertunjukan di sana. Bahkan dikemudian waktu Jetty Pulu sempat menjabat Ketua Persatuan Artis Teater Sulawesi Utara (PATSU), dan Simson Sikape menjadi komedian kondang dengan nama “Pokale”.
Ketika festival teater rakyat mulai lesu, pada pertengahan 1990-an, dramawan Glorius Bawengan yang baru kembali dari studi teologi di Jawa untuk melaksanakan tugas sebagai Pendeta GMIST di Kota Tahuna, ia mulai membangun kultur teater modern di sana. Glorius sendiri adalah actor dan sutradara yang telah malang melintang di panggung teater Jogya dan Jakarta. Di masa Glorius, teater Pemuda GMIST terbilang eksis lewat pertunjukan-pertunjukan spektakuler mereka baik di Sangihe Talaud, bahkan mengisi panggung-panggung pertunjukan di Manado hingga awal tahun 2000-an.
Penulis sendiri sempat memberikan pelatihan di sejumlah pulau sebelum kedatangan Glorius Bawengan. Selain di Tahuna, bersama pemuda Imanuel, saya juga memberikan pelatihan nyaris setahun di pulau Para yang menghasilkan pertunjukan keliling di pulau-pulau kecil sekitarnya seperti pulau Salingkere, Sangihe Selatan. Masih di kurun waktu yang tidak jauh ketika itu, penulis juga memberikan pelatihan di Beo, pulau Karakelang Talaud dan menghasilkan pertunjukan yang dipentaskan di gereja GMIST Beo.
Sejak Glorius Bawengan pindah tugas pelayanan sebagai pendeta GMIST di Wilayah Indonesia Barat yang berpusat di Jakarta, panggung teater di Sangihe Talaud kembali stagnan. Keadaan ini baru membaik saat kedatangan dramawan Fajar Emilianus Gultom pada permulaan tahun 2010. Kehadiran sarjana teater ini di Kota Tahuna langsung memberikan roh baru pada khazanah teater di negeri peninggalan kerajaaan itu. Mendekati sepuluh tahun kiprah Fajar di sana, pertumbuhan aktivitas berteater dan berdirinya sejumlah grup baru nampak semarak. Sejumlah nama-nama sutradara dan pegiat teater seperti di Tahuna antaranya, Eston Macpal, Yusak Salamate, Christian Boham, Gerald Kobis, Hendricko Sidangoli, di Siau, Zadrik Dauhan, Buyung Mangangue mulai tampil ke permukaan. Ajang festival tahunan juga mulai marak berlangsung baik di Tahuna, dan Siau.
Fajar sendiri bisa dikata sebagai motor penggerak baru perteateran Sangihe Talaud yang saat ini telah berhasil menghadirkan sejumlah pertunjukan grup-grup dari daerah itu di panggung-pangung teater Sulut dan nasional.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post