Dalam Kabbalah, lengkap dengan keyakinan akan kebenaran kuno dan kekal itu, Tradisi ini dipelihara lewat penolakan para kabbalis akan proses kreatif dan klaim orisinalitas. Bagi mereka, tak ada yang baru dari ajaran Kabbalah sebagaimana juga tak ada yang bisa disebut sebagai karya orisinal. Semua yang kita ketahui mengenai Kabbalah, bagi mereka, datang dari suatu masa yang jauh lebih ke belakang dalam waktu dan tertuang ke dalam kesadaran para saga mistik Yahudi lewat pengalaman langsung penyingkapan dalam tuntunan ajaran itu sendiri.
Tapi itu tidak membuat Kabbalah lepas dari elaborasi filosofis yang bertumpu pada imajinasi kreatif para individu yang terantuk dalam pesonanya. Dari Pico della Mirandola di abad 15 hingga Karl Gustav Jung di pertengahan abad 20, kita menyaksikan munculnya berbagai spekulasi filosofis yang diilhami oleh ajaran Kabbalah. Dan seperti menjadi matahari bagi dunia di luar goa Plato, Kabbalah menerangi spekulasi-spekulasi itu hingga cukup untuk menyilaukan mata yang tak siap untuk melihat Kebenaran.
Ada setidaknya dua ajaran utama Kabbalah yang akan membuat kita seolah berada di mulut goa Plato dalam kegamangan pilihan untuk melangkah keluar menemui dunia di bawah siraman cahaya matahari pengetahuan atau kembali mengurung diri dalam dunia bayang-bayang yang diciptakan oleh api ketidaktahuan. Tapi keduanya tak bisa saya tuliskan di sini lebih dari kilas gagasan.
Pertama, Realitas dari yang “nyata” dan “benar” sebagai Realitas yang justru tak mungkin ternyatakan bagi kebenarannya. Saya selalu tertarik untuk melihat hubungan yang paling mungkin dari konsep Ungrund Jacob Boehme dengan konsepsi Zat Mutlak Ibn Arabi. Kabbalah, setidaknya dalam tafsir Hermetiknya, memberikan jalan perbandingan yang cukup menarik.
Penciptaan tak bisa dibayangkan sebagai proses sederhana Tuhan menciptakan seru sekalian alam dalam cara yang sama dengan bibi saya membuat onde-onde. Setidaknya sejak Pythagoras, kita mengenal spekulasi mengenai emanasi kualitas abstrak dalam tingkat-tingkat menurun menjadi elemen-elemen material. Jalur yang ditempuh adalah spekulasi imajinal yang diungkapkan dalam sekian bahasa berbeda bagi setiap teosof yang menarasikannya kembali.
Dari Monad Pythagoreanisme lewat to Hen Neoplatonisme hingga Zat Mutlak Arabi dan Ungrund Boehme, kita menemukan berganti-ganti struktur naratif teogoni/kosmogoni yang menjelaskan penciptaan sebagai proses emanasi yang bermula dari Realitas tak ternyatakan menjadi materialitas yang bisa dinyatakan. Kabbalah tak menambah sesuatu untuk itu kecuali memberi kita penjelasan akan kemungkinan bagi ketidakmungkinan pemahaman kita atas seluruh muasal itu.
Seluruh gerak emanatif itu sendiri, dalam Kabbalah, bermula dari tiga status Realitas Absolut. Status pertama adalah “ketiadaan” atau dalam bahasa Kabbalah disebut Ein. Dipahami secara Platonis, “ketiadaan” adalah basis ketidaktahuan, what is not bagi ketidakmungkinan kita mengenali dan mengalami kemutlakan. Akhir dari pencapaian gnosis. Jawaban atas pertanyaan kenapa puncak pencapaian sang philo-sophos dari goa Plato hanyalah “menatap” matahari Forma.
Ein adalah apa yang membuat Boehme bicara tentang Tuhan yang hanya mungkin lewat pengetahuan kita akan Dia dalam daging dan darah Yesus, selebihnya adalah kegelapan sempurna. Ein adalah juga peringatan Arabi yang rendah hati akan kemustahilan unio mystica dengan Zat Mutlak.
Seorang Buddhis yang baik serta penghayat Kejawen yang serius tidak akan terlalu sulit memahami Hyang-Tiada. Sang Buddha menyebutnya Sunyata, gagasan akan Realitas pada dirinya sendiri yang memaksa sementara pihak untuk menjelaskan Buddhisme sebagai agama non-teistis. Sesuatu yang jelas tidak mencemaskan bagi Gautama yang justru mengajarkan realitas ketiadaan inti diri; Anatta sebagai dimensi mikrokosmos kebenaran Sunyata.
Ajaran esoteris Jawa Sastrajendra menyebutnya Suwung, segala yang kita ketahui di luar bahasa di dalam Roso; tempat bertahta Ingsun sebagai refleksi Hyang-Tiada. Dan, seperti yang selalu saya ingatkan di berbagai kesempatan lainnya, kita tak perlu menambah muatan ontologis bagi pemahaman kita akan Suwung dengan tafsir Kejawen-Islam yang memahaminya sebagai “kosong yang sejatinya ada.” Berbeda dengan Kejawen-Islam, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tradisi esoteris, mistik Jawa tidak terobsesi dengan ontologisasi pengalaman gnostis.
Status kedua adalah Ein Sof, yang-tak-terbatas atau ketakterhinggaan, yang muncul dari “konsentrasi” Ein. Boehme menyebut konsentrasi ini sebagai efek “kehendak” dari cermin yang mengungkapkan ketidaktahuan akan Tuhan. Sebuah keadaan yang ditandai kegelapan mutlak. Bentuk imajinatif bagi keharusan akan kelahiran Yesus sebagai Kristus, Tuhan dalam terang atau Cinta yang terketahui.
Limitasi bahasa untuk menyebut “konsentrasi” dan/atau “kehendak” sesungguhnya memperingatkan kita akan kemungkinan kontradiktif dalam setiap upaya mewacanakan Kebenaran Absolut. Tapi itu bukan berarti kita sepenuhnya terhalang dari penyingkapannya dalam bahasa. Bagaimanapun juga, formasi kesadaran manusia masih bisa melacak kebenaran-kebenaran yang saling berkontradiksi di dalam bahasa.
Bahkan justru dalam kontradiksi-kontradiksi itulah kita bisa terus melacak remah-remah kebenaran yang teriluminasi dari Kebenaran Absolut. Ini seperti kembali pada konsepsi partake (ambil bagian) dalam gagasan Plato mengenai sifat realitas inderawi yang semata “mengambil bagian” dalam Forma. Istilah seperti “konsentrasi” dan/atau “kehendak” itu adalah upaya bahasa untuk mengambil bagian dalam Kebenaran Absolut penciptaan. Dan dengan cara itu pula kita bisa memahami “larangan” Talmud untuk membicarakannya.
“Konsentrasi” Ein membayangkan permanensi absolut yang “dalam kerinduannya akan dirinya” melahirkan status lain yang adalah dirinya dari balik cermin, Ein Sof. Tapi status kedua ini tidak lagi ditandai oleh permanensi absolut melainkan sesuatu yang bergetar dalam adanya. Sebentuk “gerak” primordial yang kemudian melahirkan status ketiga, Ein Sof Aur atau cahaya ketakterhinggaan.
Dari situ, terjadilah emanasi yang mewujud dalam struktur Sefirot sebagai Pohon Kehidupan terbalik. Dari akar di tingkat paling atas hingga ke pucuk di tingkat paling bawah. Dan inilah ajaran utama Kabbalah yang kedua dengan kapasitas untuk membuat kita berhenti di mulut goa Plato. (bersambung)
Manado, 2 November 2020
Rabbi Behmen

Discussion about this post