Banyak orang mengira, Guyonan sekadar cara membuat orang tertawa. Padahal sejatinya merupakan cara mengajak orang berpikir. Ini sisi lebih dari politisi Sehan Landjar, SH, termasuk Reagan, Obama, bahkan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Antara Reagan, Obama dan Sehan Landjar sudah pasti ada banyak perbedaan. Dua nama sebelumnya adalah Presiden AS yang dikenal sebagai negara adidaya.
Sementara yang terakhir Bupati Bolaang Mangondow Timur (Boltim) yang kini maju sebagai kandidat Wakil Gubernur Sulut mendapingi Christiany Eugenia Paruntu (CEP). Namun yang sama dari ketiganya adalah politisi yang suka guyon.
Di era Perang Dingin, Presiden Ronald Reagan sering menyerang Uni Soviet dengan guyonan soal kehidupan sedih warga negara komunis itu: “Seorang pejabat partai komunis bertanya kepada seorang petani di sebuah desa soal hasil panen kentang. Petani itu menjawab, panen begitu melimpah, kalau ditumpuk bisa menjangkau kaki Tuhan. Pejabat partai itu kaget dan berkata, ini kan Soviet, kita tidak percaya Tuhan. Petani itu lalu menjawab, memang benar. Karena itulah tidak ada kentang satupun di musim panen ini,” guyon Reagan disambut tawa hadirin.
Barack Obama juga disebut politisi yang suka melucu. Pada 2010, ketika para lawan politiknya menuduhnya bukan warga AS tulen. Dalam sebuah Correspondent Dinner Obama dengan santai menjawab tuduhan itu: “Sabar, saya masih mencari akta kelahiran saya. Sebab ada beberapa hal yang lebih sulit dijaga dibandingkan cinta, yaitu akta kelahiran,” kata Obama disambut tawa para wartawan Gedung Putih.
Di Boltim, Sehan Landjar juga terkenal suka bercanda. Bicara soal kesehatan ia berkata: “Jika ingin sehat, belajarlah pada orang gila. Sebab, ada ilmu yang bisa diadopsi dari orang gila yaitu jangan ambil sisi gilanya. Tapi belajarlah bahwa orang gila tidak pernah stress, orang gila tidak pernah berkeluh kesah. orang gila tidak pernah bohong.”
Suatu waktu Sehan menemui warga di desa-desa untuk memberi pemahaman tentang bagaimana mencegah Covid-19. “Wahai warga Boltim, tidak usah keluar rumah karena ada Korona, di rumah aja karena di rumah ada kolombeng,” ujarnya. Masyarakat pun tertawa.
Dikesempatan lain Sehan berkata: “Korona tidak punya kaki, manusia yang punya kaki, yaitu kaki gatal kesana-kemari sehingga terjangkit Korona,” warga pun terpingkal-pingkal.
Masih soal Korona, Sehan dikesempatan lain lagi dengan menggunakan pelantang ia mengimbau warganya: “Silahkan pilih, tinggal di rumah atau tinggal di rumah sakit atau masuk peti mati dan tinggal kenangan.”
Peristiwa yang cukup lucu lainnya dari Sehan yaitu dalam konperensi pers, Minggu, 6 September 2020, seusai pendaftaran dirinya dan CEP selaku Calon Gubernur dan Wakil Gubernur di KPU Sulut. Ketika wartawan bertanya peta kekuatan pasangannya dalam Pilgub yang akan berlangsung pada 9 Desember 2020 nanti, Sehan menjawab: “Semua kekuatan ada pada masyarakat, dan CEP-SSL hanyalah pengemis.” Sontak wartawan pun dibuat terpingkal.
Menjawab pertanyaan tentang peluang kemenangan, Sehan dengan jurus guyon-nya yang cerdik langsung melibas sesumbar klaim-klaim kekuatan dari lawan politiknya dengan berkata: “Saya menyampaikan ke ibu CEP kita tidak perlu melewati suara lawan dengan seribu maupun lebih, beda satu suara saja sudah cukup.” Wkwkwkwkwk…
Editor : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post