Bitung, Barta1.com – Sebuah kapal bernama KM Gloria 28 yang membawa 91 satwa liar asal Filipina dan merapat di Pelabuhan Bitung, pada Kamis (30/7/2020) lalu.
Informasi yang diperoleh satwa tersebut diberangkatkan dari Pelabuhan Davao Filipina 27 Juli 2020 pada pukul 19.00 waktu Davao. Dan tiba di Bitung, pukul 18.00 WITA.
Dari kapal itu ternyata Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI telah menerima repatriasi 91 satwa endemik. Mulai dari reptil, mamalia, dan burung yang diseludupkan ke Filipina.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani bersama Wali Kota Maximiliaan Lomban dan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut, Noel Layuk Allo menerima kembali pemulangan 91 satwa tersebut.
Ridho mengatakan inisiasi repatriasi dilakukan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Direktorat Jenderal (Ditjen) Konservasi Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), KLHK Indra Samiawan yang juga Managehem Authority (MA) CITES Indonesia.
“Jadi berawal dari informasi MA CITES Filipina tentang adanya satwa yang disita pada 8 April 2020 dan perlu konfirmasi asal satwa tersebut. Hasil identifikasi dan asal-usul satwa berasal dari Indonesia, khususnya wilayah Timur antara lain walabi, kasuari dan julang Papua,” katanya dalam rilis resminya.
Penyerahan satwa endemik tersebut dilakukan di Pelabuhan Bitung. Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki Bitung menjadi pusat repatriasi 91 satwa liar.
Duta Yaki Indonesia, Khoni Lomban Rawung mengatakan kegiatan repatriasi perlu proses yang panjang dan tidak mudah. Bahkan kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak tahun kemarin.
“Bagaimana kerja keras KLHK, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) dan upaya gigih pantang menyerah Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) serta jajarannya yang pantas diapresiasi,” kata Khouni.
Istri Wali Kota Bitung ini mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk terus menjaga dan melestarikan satwa liar, apalagi satwa banyak sudah langka.
“Indonesia itu sendiri kaya akan keanekaragaman hayati berskala dunia. Ini perlu dijaga dan dilestarikan. Kita semua baik pemerintah, masyarakat maupun pengiat lingkungan harus berperan dan ambil bagian untuk mencegah adanya penyeludupan,” ujarnya.
Khoni mengajak serta mencegah adanya perdagangan ilegal demi harga diri bangsa dan masa depan Bangsa Indonesia, demi kelangsungan alam ini.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post