• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Juni 24, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Olahraga

Kisah Hans Nuruwe Beslar, Seteru dan Kawan Roger Milla

by Agustinus Hari
20 Juli 2020
in Olahraga
0
Kisah Hans Nuruwe Beslar, Seteru dan Kawan Roger Milla

Putra Samarinda era Ligina II, berdiri: Abdul Rahim, Ali Musa, Hans Beslar (7), Almerio Isaac, Roger Milla, Yusuf Mardani. Bawah: Indra Kurniawan, Darmansyah, Tony Mulyadi, Mahouve Marcell, Ibrahim Lestaluhu. (foto: dok hans beslar)

0
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

GOCEKAN Roger Milla di depan gawang akan sangat sulit dihentikan bek-bek lawan. Sekelas kiper flamboyan Kolombia, Rene Huguita dibuat tak berdaya. Rene pernah merasakan ganasnya tembakan Milla pada babak 16 besar Piala Dunia 1990 di Italia.

Bahkan, dua gol berhasil disarangkannya. Setelah itu Milla berlari ke pojok lapangan dan menari Makossa. Di usia 38 tahun striker gaek Kamerun itu masih tampil memesona.

Tapi aksi Milla sempat tak berdaya ditahan marking ketatnya Hans Nuruwe Beslar. “Saya sering menjaga Roger Milla ketika berhadapan satu lawan satu. Milla main dengan Pelita Jaya, saya lini belakang Perkesa Mataram. Kami keras dalam lapangan,” cerita Hans pada Barta1.com, Sabtu (18/7/2020).

Menarik setelah itu. Keduanya justru bertemu dalam satu tim: Putra Samarinda. “Kami tampil di Ligina. Saya di lini belakang (doubel stopper), Milla sebagai ujung tombak,” katanya.

Hari-hari bersama, justru Hans banyak belajar dari attitude Roger Milla. “Jujur saya salut dengan dia. Sudah tua tapi penampilan masih menawan. Milla pun berbagi pengalaman. Pertama, disiplin dan menghargai profesionalistas sebagai pemain bola. Kemudian, itu tadi attitude di dalam dan luar lapangan,” ujarnya.

Dia mengaku berkawan akrab dengan bintang Kamerun itu. “Milla sering cerita dan tertawa kalau kami bertemu di lapangan ketika membela klub masing-masing. Setelah main di Putra Samarinda, kami langsung jadi sahabat karib,” ungkap Hans.

Karena Milla, dirinya bermain bola hingga usia 44 tahun. “Pernah ditawari manajemen Putra Samarinda agar saya berhenti bermain dan dipersiapkan sebagai asisten pelatih. Maka, saya menolak dan keluar dari Putra Samarinda yang sudah saya bela selama 16 tahun. Fantastisnya, saya masih bisa bermain lagi dibeberapa klub ternama. Banyak teman-teman memanggil saya Ua atau pemain tua,” ujarnya sembari tertawa lepas.

Dari Unoson Adu Nasib ke Jakarta

Ketika tahun 1987, Hans memulai karir bermain di Unoson bersama Jan Kaunang, Alfa Walean dan lain-lain. Sebelumnya, memperkuat Apollo Tomohon. “Saya dan Jan bahkan telah bekerja di Apotik UNO,” bebernya.

Sayang, ketika Unoson ikut kejuaraan nasional di Jakarta, dirinya tak lolos masuk tim. Malamnya, Hans nongkrong dengan tiga temannya. Lalu mereka punya keinginan untuk menerobos ibukota Jakarta. Tanpa pikir panjang, besok hari mereka langsung mewujudkan. Diantara mereka ada yang menjual mobil dan motor sebagai bekal menuju Jakarta.

Hans hanya disuru beli tiket kapal laut saja, selebihnya teman-temannya yang berduit itu yang menanggung. Setiba di Jakarta, setiap hari hanya hura-hura dan keluyuran. Tiba-tiba Hans berpikir kalau begini terus tidak akan ‘hidup’. “Dibenak saya ke Jakarta hanya dua: jadi pemain bola atau preman,” ujarnya.

Di Jakarta setiap pagi, dia berolahraga dan latihan bola sendiri, sambil mencari klub sepakbola. Dia pun dapat info ada klub Bina Taruna yang disokong Bea Cukai yang punya asrama. Keinginan ingin waktu itu cari klub yang punya asrama.

“Saya akhirnya datang dan lihat latihan Bina Taruna. Hari pertama hanya main-main di pinggir lapangan, karena malu. Saat mereka mau game, salah satu tim kekurangan pemain. Maka mereka panggil saya bergabung. Agak canggung juga, karena kualitas mereka bagus-bagus. Saya tak pusing bermain saja. Kebetulan hari itu pelatih Bina Taruna tidak datang. Besok harinya, ketemu dengan pelatih tersebut. Ternyata orang Manado, bernama Arie Rotinsulu. Dia lama bermain di Manado kemudian ke Jakarta. Dia tanya kamu dari mana? Saya bilang Manado. Saya bermain di Unoson. Nah, pelatih itu sampaikan Unoson sedang ikut kejuaraan nasional, saya katakan betul,” kata Hans.

Beberapa pekan kemudian Bina Taruna akan laga persahabatan lawan STIE Perbanas yang banyak dihuni pemain nasional seperti Azhari Rangkuti, Patar Tambunan dan lain-lain. “Sejak semalam saya mulai berpikir ini kesempatan emas akan jadi pemain. Apalagi bertemu dengan bintang-bintang timnas, semuanya seperti mimpi,” imbuh Hans yang sudah berkepala plontos.

Pelatih Arie Rotinsulu pesan agar datang sebelum persahabatan dimulai. “Saya muncul di asrama satu jam sebelum menuju lokasi pertandingan. Pelatih bilang, Hans kamu nanti main babak kedua dan tunjukan permainan terbaik kamu. Dan kesempatan itu saya tidak sia-siakan. Modal main kala itu, hanya keras dan rajin kejar bola saja. Rupanya setelah laga persahabatan, pelatih Bina Taruna langsung kepincut dan memanggil saya latihan dan masuk asrama,” ujarnya.

Di benak saja Hans, cita-cita awal sudah tercapai yakni latihan di klub yang memiliki asrama. Selama enam bulan latihan tiga kali sehari. Pagi, siang dan malam. “Kadang teman-teman di asrama sering bercanda. Hans timnas sudah penuh, tidak butuh pemain lagi,” ucapnya, tertawa.

Satu ketika, sedang digelar Liga Antar Bank (Pro Bank). Hans diajak teman satu klub bermain dengan tim Bank Indonesia. Pucuk di cinta, usai kompetisi itu rupanya Bank Indonesia menawarkan sebagai pegawai kontrak dan bertahap ada diseleksi jadi pegawai tetap.

Setelahnya, Bank Indonesia tiba-tiba akan jadi lawan persahabatan dengan timnas Indonesia yang dilatih Iswadi Idris. Dipikirannya, langkah menjadi pemain profesional sudah di depan mata. Hari itu dia benar-benar bermain bagus sehingga Iswadi Idris yang kebetulan juga pelatih Perkesa Mataram Yogyakarta mengajak main bersama Perkesa.

“Saya antara senang dan bingung. Senang karena akan mulai bergabung dengan Perkesa Mataram. Sedihnya, pimpinan Bank Indonesia tak mengijinkan saya main di Perkesa karena masa depan sebagai karyawan Bank Indonesia sudah di depan mata. Tapi saya sudah bertekad jadi pemain bola dan memilih gabung Perkesa,” ujarnya.

Di Perkesa pernah bergabung pemain Sulut, Hamid Buang, dan Inyong Lolombulan. Praktis sejak 1988 karir di pentas sepakbola Indonesia dimulai dari Perkesa.

Lalu Hans gabung dengan Putra Samarinda selama 16 tahun. Sempat pindah ke Perseden Denpasar, Persegi Gianyar, lalu kembali ke Persisam Samarinda, Persma Manado dan terakhir PSIR Rembang.

“Di PSIR Rembang saya mengajak banyak pemain Manado diantaranya Stenly Mamuaya, kiper yang mulai menanjak Gerri Mandagi, Yongki Rantung dan lain-lain. Dari 11 pemain inti PSIR, 7 diantaranya asal Sulut. Dan tiba-tiba terjadi insiden perkelahian ketika bermain lawan Persibom Bolmong di Gelora Ambang. Karir saya terhenti di situ dan tidak bermain bola lagi,” ungkapnya.

Bermain dengan PSIR menginjak usia 44 tahun. “Banyak yang heran dengan penampilan saya yang sudah kepala empat tapi tetap konsisten. Itulah saya, karena banyak belajar dari Roger Milla,” katanya.

Penulis : Agustinus Hari

Barta1.Com
Tags: Hans Nuruwe Beslarperkesa mataramPS UnosonPutra Samarinda
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Menikmati Jane di Jalan Hati

Menikmati Jane di Jalan Hati

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Mengapa Sulawesi Utara Harus Berani Bersuara Stop Perkawinan Anak? 24 Juni 2026
  • Bakar Semangat Pemuda Sinode GMPU, Tatuhas: Jadikan Medsos Sebagai Saluran Berkat 24 Juni 2026
  • Plt Bupati Sitaro Heronimus Makainas Temui Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri 24 Juni 2026
  • Tiba di Lokasi Perkemahan, Rombongan Pemuda GMPU Sangihe Siap Ikuti Youth Camp di Rainis 24 Juni 2026
  • Pejuang Lahan dari Aliansi Pajakat Dipenjara dan Ajukan Praperadilan 23 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In