Manado, Barta1.com – Usia 21 tahun terbilang sangat muda ketika seseorang sudah menyelesaikan studi strata 2 (S2). Samuel Leivy Opa telah membuktikan dengan meraih gelar Sarjana Kelautan (SKel) dan Magister Sains (MSi).
Samuel adalah anak tunggal dari pasangan Ir Esry Tommy Opa MSi dan Pdt Djeny Ratuliu MTh MPdK. “Saya masuk kuliah saat umur 15 tahun di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Manado Program Studi (Prodi) Ilmu Kelautan lewat jalur SBMPTN tahun 2014,” katanya, Rabu (08/10/2020).
Kemudian, lulus tahun 2018 dengan meraih gelar SKel. Lalu melanjutkan S2 di Prodi Magister Ilmu Perairan Unsrat tahun itu juga dan lulus tahun 2020 dengan gelar MSi. S1 dan S2 diraih dengan cum laude.
Ia menceritakan, sesungguhnya Ilmu Kelautan bukanlah pilihan pertamanya saat masuk kuliah S1. Justru, pilihan pertamanya yaitu Fakultas Kedokteran Unsrat, akan tetapi tak lulus lewat Jalur SNMPTN dan SBMPTN. Tidak mencoba Tes T2, Samuel memantapkan hati kuliah di pilihan keduanya yaitu Ilmu Kelautan.
“Belajar Ilmu Kelautan, saya mulai menyadari potensi kelautan Indonesia yang sangatlah besar sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi. Oleh karena itu, saya ingin terus memperdalam ilmu terlebih dalam bidang kelautan,” kata Samuel.
Ketika masuk S2 di program internasional yang terbilang sangat baru dan ia salah satu mahasiswa angkatan pertama dalam program tersebut. Nama programnya adalah Indo-Pacific Coral Reefs Biodiversity & Conservation. Dimana program ini merupakan kolaborasi antara Unsrat Manado dan ZMFK Bonn dan ZMT Brenen asal Jerman.
“Lewat program ini, saya boleh berangkat ke Jerman, tepatnya ke Kota Bonn pada Oktober hingga Desember 2018 mengikuti pertukaran pelajar di Bonn University. Kemudian pada Mei-Juni 2019 saya kembali ke Jerman untuk magang disalah satu laboratorium di LMU Munchen,” ujarnya.
Kenapa selesai S2 dengan usia yang terbilang muda? Ia menjawab, itu karena pesan dari opanya bahwa harta seseorang bisa orang curi akan tetapi ilmu tidak, itulah pesan yang memotivasinya untuk terus mengejar pengetahuan atau ilmu.
Di usia yang terbilang muda, Samuel harus beradaptasi dengan teman-temannya yang terbilang jauh lebih tua darinya. Akan tetapi dunia pendidikan bukan melihat pada usia melainkan pada pembawaan diri yang baik, cerdas, mampu bekerja sama, hingga melakukan hal-hal yang berdampak positif.
“Dengan pengetahuan yang saya dapatkan. Tujuannya, agar hidup saya bisa berdampak bagi orang lain, dan semoga dari apa yang akan saya capai suatu hari nanti bisa mewujudkan hal tersebut,” ucap dia sembari menyebutkan itu juga pesan dari kedua orang tuanya.
Banyak perubahan yang diperoleh ketika berada dalam dunia pendidikan. “Saya merasa senang dengan berbagai kesempatan yang didapatkan selama menjalani pendidikan, mendapatkan banyak teman dan banyak ilmu. Selama kuliah saya juga aktif di organisasi kemahasiswaan dan juga kepanitiaan. Masa kuliah menjadikan saya sebagai orang yang lebih bertanggung jawab dan mampu menjadi pemimpin. Buktinya, tahun 2018 pertama kali berorganisasi di luar kampus terpilih sebagai Ketua Regional Seasoldier Sulut,” katanya.
Begitu pun, ketika mengikuti program internasional menuju S2. Selain ilmu yang didapatkan, Samuel diuji akan mental dan cara untuk pengambilan keputusan yang tepat. “Semua hal berkaitan dengan pendidikan sangat-sangat bermanfaat bagi saya pribadi kiranya bisa dipergunakan bagi banyak orang,” imbuhnya.
Biaya kuliah selama S1 sepenuhnya dari orang tua. Namun saat S2 keciprat bantuan dari DAAD lewat program IPCRBC untuk pertukaran pelajar dan magang. “Apa yang bisa kita lakukan untuk masa depan lakukan lah, karena orang lain tidak akan melakukannya untukmu selain orang tua,” pesannya.
Apakah 2021 melanjutkan studi S3? “Iya, saya akan menambah sekolah ke jenjang S3. Dengan berharap masuk S3 bisa memberikan harapan yang terbaik bagi orang tua dengan hasil-hasil yang memuaskan,” ujar Samuel.
Peliput : Meikel Pontolondo



Discussion about this post