Pertengahan 1980-an, saat kehidupan teater di Sulawesi Utara (Sulut) sedang berdenyut keras, Jolen Liow adalah sebuah nama dramawan dari Minahasa yang ikut diperbincangkan. Terakhir, ia lebih dikenal sebagai perupa.
Jolen, demikian ia akrab disapa, dikenal sebagai seniman berpenampilan esentrik berambut panjang di masanya. Dengan Teater Obor SMA Nasional Kawangkoan yang dibinanya sejak 1980, ia merajai panggung Festival Teater Remaja (VTR) yang diselenggarakan Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) dan Persatuan Artis Teater Sulawesi Utara (PATSU).
Ia bersama beberapa peteater seangkatannya dari Minahasa bertahun-tahun berhasil mempertahankan Kawangkoan sebagai salah satu episentrum teater Sulut. Pada VTR ke III Teater Obor binaannya berhasil menggulung grup-grup teater mapan di Manado dan Tondano. Teater Obor berhasil meraih Juara Umum.
Ini sebabnya, menulis sejarah teater di Sulawesi Utara tak mungkin meluputkan Kawangkoan sebagai salah satu area pertumbuhan seni teater di era awal seni teater modern di Sulawesi Utara.
Eksistensi Teater Obor yang intens mengadakan pergelaran seni teater waktu itu telah mengilhami munculnya sejumlah grup teater lainnya di Minahasa. Dan Jolen boleh dikata salah satu magnitude yang mendenyutkan itu.
Ketika khazanah perteateran Sulut mulai meredup di penghujung 1990-an, Jolen kemudian beralih menggeluti seni rupa. Ia pernah menjabat pengurus pada Dewan Kesenian Sulut.
Peteater ini lahir di Kawangkoan, 1 Juni 1958. Menyelesaikan pendidikan di SMA Nasional Kawangkoan. Ayahnya, Djohon Liow dan ibu Lenny Kalalo. Menikah dengan Henny Tenda dikarunia 2 orang anak: Lidya Karema Liow dan Toar Liow.
Karya-karyanya di bidang seni rupa di antaranya: patung Toar dan Lumimuut di Tondano, patung Kawasaran di Tomohon, Tugu Kacang di Kawangkoan, patung Ragei di Kawangkoan, Monumen Frans Mendur & Alex Mendur di Kawangkoan yang diresmikan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Di hari tuanya, ketika rambut semua telah memutih, di rumahnya di kawasan Kawangkoan, Jolen masih terus berkarya meski dalam keadaan sakit-sakitan. “Sekarang saya lebih banyak membuat patung angel (malaikat) dan membina Grup Kabasaran,” ungkap dia. (*)
Penulis: Iverdixon Tinungki


Discussion about this post