Oleh: Iverdixon Tinungki
Dilarang datang mengintip latihan mereka, itulah sangsi buat kecerewetan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Tapi semalam –seperti perompak—saya menerobos pintu ruang teater Balai Bahasa Sulut. saya benar-benar ingin bertemu sahabat yang tengah kesepian Eric MF Dayoh.
Eirene Juliana Debora, sang sutradara lagi di sana bersama kru dan para pelakon Nyanyian Angsa, Chekhov, ketika saya muncul. Saya tidak datang sendiri. Ada Pimpinan Redaksi Barta1.com Agus Hari dan Redaktur Pelaksana Ady Putong.
Cinong ‘Papaakang’ Nalang dan Eki Pontolondo juga saya sertakan. Dua penyandang sabuk hitam karate ini harus ikut, sebab, jangan-jangan dampak dari tulisan-tulisan saya bisa memicu friksi di ruang teater Balai Bahasa yang selalu suram sejak dulu itu.
Tapi apa yang saya khawatirkan tidak terjadi. Eric MF Dayoh, sahabat yang kini memikul kodrat kesepian ini, justru menyambut saya dengan pelukan. Sutradara Eirene Juliana Debora bahkan buru-buru menyeduh kopi.
Dan astaga! Kopi buatan gadis yang selalu kupanggil dengan nama manisnya Pearly, benar-benar memikat lidah. Ia ternyata punya keahlian barista. Kopinya pas, setara senyuman peraciknya.
Namun bukan itu yang ingin kuceritakan! Ruang teater Balai Bahasa Sulut kali ini dilanda gairah kesenian. Sebuah proses latihan yang berkelas tengah berlangsung dan didukung sejumlah aktor dan aktris termasuk pekerja panggung yang juga sama-sama berkelas.
Saya melihat penyair sekaligus pemusik Jane Anastasia Lumi tengah berlatih dengan seorang gadis penyanyi soprano lagu-lagu mewah seperti The Swan dan Le Cygne.
Allan Zefo Umboh, nampak melakukan latihan gestikulasi sambil sesekali berlari-lari seperti demit penjaga gedung teater tua. Ia konon memerankan tokoh baru dalam lakon bakal ditajah ini, sebagaimana hasil adaptasi terhadap teks aslinya
Ada Iip Mario M, aktor yang agak kurus namun bertubuh cukup tinggi sedang memantapkan gerak-gerak erotica, sambil sesekali mencandai para perempuan dengan kesundalan yang pura-pura. Seakan-akan mencium, tapi tidak benar-benar mencium.
Mereka semua serius berlatih. Tak luput Eric MF Dajoh yang memerankan Vasili Svietlovidoff, manula tua, aktor bernasib malang yang selalu kesepian, pengidap Post Power Syndrom. Ia sesekali menegak Cassanova, bir murah produksi Manado, sebagai property latih, karena menghindar bir asli berharga tinggi.
Tapi saya tak tertarik membicarakan biaya produksi. Terutama, berkaitan dengan program Pentas Sastra Balai Bahasa Sulut yang memang dari dulu sangat terbatas. Namun setidaknya, Balai Bahasa telah melakukan apa yang paling bisa mereka lakukan untuk kesenian di kota dan provinsi ini. Dan juga barangkali sudah nasib proyek pembinaan kesenian di daerah kita yang harus diterima sebagaimana nasib miris Ikarus dan atau Sysyphon: Mati segan, hidup tak mau. Sudalah.
Tapi dahsyatnya, Eric Dayoh yang tak lama seusia tokoh Vasili Svietlovidoff yaitu 68 tahun, yang sering bersedih karena cinta bertepuk sebelah tangan itu, dengan susah payah mengingat dialognya. Ia kadang harus diteriaki Nyongka Rangga Bayu Restu, stage manager yang juga bertugas sebagai promoter, untuk mengingatkan sambung hafalannya.
Pearly, sutradara yang ternyata ikut main dalam lakon ini dengan serius melatih peralihan emosi dari sedih, takut ke gembira, sambil terus melafalkan potongan puisi –kebetulan karya saya— yang ikut masuk dalam proses adaptasi lakon Nyanyian Angsa Chekhov ini.
Dan saya harus angkat jempol buat komunitas teater Walekofiesa yang begitu tegar menyiapkan pertunjukan yang berkelas. Tabik harus disampaikan pula buat seniman begawan Eric MF Dayoh yang dalam sejarah berkeseniannya boleh dikata satu-satunya tokoh seni dari Sulut yang sejak akhir 1980-an hingga kini terus memberi diri membangun jaringan seniman Sulut dengan para penggiat kebudayaan dan seni di seluruh pelosok tanah air.
Usai latihan, kami berdiskusi sedikit membedah lakon Nyanyian Angsa Chekhov yang akan menjalani pentas perdana pada Sabtu, 31 Agustus 2019 Jam 18.30 Wita di Balai Bahasa Sulut lantai 3. Lakon ini direncanakan akan dipentaskan keliling ke beberapa kota pada Oktober 2019 nanti.
“Saya mengundang semua sahabat datang menonton. Lepas dari pementasan perdana lakon Nyanyian Angsa, saya rindu dengan semua sahabat saya dalam momen pertunjukan ini,” ujar Eric.
Pentas perdana kata Eric, gratis, tanpa dipungut biaya. Jadi siapun bisa datang menonton. (*)

Discussion about this post