Ada masa dulu di mana pentas teater dibuat eksklusif. Pada kala itu, pelakon berkarya dalam gedung megah ditonton para bangsawan. Tapi suatu malam di Karame, kondisi itu benar berubah. Pada hari itu, teater menunjukkan jatidirinya sebagai pentas seni milik rakyat jelata. Milik kita semua.
Lakon Orang-orang Terusir yang dipentaskan di Karame, Manado, Sabtu (08/06/2019) pukul 21.00 Wita bergulir di tengah ruas jalan Teuku Umar. Para pemainnya berasal dari Teater Permak, sebuah grup seni yang pusatnya di tengah-tengah warga Karame. Pentas Orang-orang Terusir, kemudian, niscaya mencipta semacam komunikasi batin antara kreator seni dan jelata penontonnya.
Stanley Entjerau selaku sutradara (art director) mengatakan pementasan teater dengan Lakon Orang-Orang Terusir, merupakan Karya Iverdixon Tinungki seorang penyair, sastrawan, dan budayawan.
Bukan kebetulan kata dia, jalan kisah lakon tersebut mewakili kebanyakan orang kecil yang hidupnya tertindas. Ini adalah fenomena penindasan sosial yang sudah umum terjadi sejak negara masih dijajah, di masa orde baru, hingga era milenium.
“Dalam pementasan ini menceritakan bukan sekadar persoalan tanah yang ingin dikuasai perusahaan tambang pasir besi. Ini persoalan hak-hak sebagai warga negara,” terang Stanley menyangkut naskah ciptaan Iverdixon.
“Negara yang harusnya melindungi kita, bukan membuat kita jadi orang-orang terusir dari tanah kita. Ini persoalan kemanusiaan. Nilai kemanusiaan yang ditindas oleh kekuasaan. Apakah pasir besi lebih berharga dibanding kehidupan orang-orang pulau,” ungkap Stenly.
Interaksi antara pelakon dan masyarakat ada dalam benak Frengly Sanger, salah satu warga yang hadir di Jalan Teuku Umar. Sebuah dialog kuat antara sosok Bumbeka dan Akala, terus terngiang di kepala Frengly.
“Tapi kuingatkan, orang yang mencelupkan roti sepinggan dengan Yesus, justru dia yang paling berbahaya…”
“Orang yang mencelupkan roti sepinggan dengan Yesus, tak selalu ia sosok Yudas…”
“Dialognya kuat dan sangat sinis,” ujar Frengly.
Pastinya, Glendy Paparang, Maria Birahim, Daniel Birahim, Daniel Sudarwanto, Cantika Ambar, Stiv Takasanakeng dan Gian Raff Anggoman —para pelakon— telah menunjukkan keberpihakkan seni pada kemaslahatan. Sebuah hiburan bagi jelata yang membutuhkan harapan. (*)
Penulis: Albert P. Nalang

Discussion about this post