• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Agustus 5, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Pagi Gerimis di Kayuuwi dan Jalan Puitika Benni E Matindas

by Agustinus Hari
19 Maret 2019
in Sastra
0
Pagi Gerimis di Kayuuwi dan Jalan Puitika Benni E Matindas

Benni E Matindas

134
SHARES
284
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

PAGI GERIMIS DI KAYUUWI

pagi gerimis
di Kayuuwi
setelah tahun-tahun mendung menutup fajar.
hujan pun turun karena
langit bukan lagi ruang harapan
sejuta tombak dan sosoroka ditikamkan
ke tubuh bumi
sejuta lidah api menyerbu dari langit
membakar tubuh To’ar
menghanguskan badan Lumimu’ut
batang tu’is dan tawa’ang menciut, kering,
dan mati.
di tanah gersang
bunga cengkih luruh, jatuh bersama cita.

hujan masih deras
si keke’ kecil berangkat ke sekolah
berpayung sehelai daun pisang penuh robek
berseragam dengan blus yang tak putih lagi
sudah lama kusam, peninggalan kakaknya
tas bergambar Donald Bebek berisi 3 buku tulis,
buku Bahasa Indonesia, Matematika Jilid 4,
sebatang pensil, sebutir stif, dan
sebongkah besar harapan
yang dihembuskan ibunya
tentang dokter wanita pertama di Indonesia yang orang Manado,
tentang sarjana ilmu pendidikan wanita pertama,
juga dokter hewan, juga profesor ilmu hukum,
juga jenderal wanita pertama,
juga rektor wanita pertama,
juga walikota wanita pertama, juga….
juga, engkau, Keke’-ku sayang.

oooh, Ina’ ni Keke’
mange wisa ko?!

Wenang, bahkan genang, ataupun kesadaran kita,
kini asing bagi kita sendiri.
tanah kita sudah habis terjual
cita-cita dan cinta kita sudah tergadai.
keke’ kecil tiba di sekolah
seragamnya kuyup, semua bukunya rusak
tapi tangan mungilnya meraih sesuatu dari sakunya
sebutir benih bunga matahari di genggamannya
ia tanamkan di halaman sekolah
ia tahu kakaknya, dan beberapa tantenya, menjadi
penari telanjang di kota-kota besar
tetapi sembilan kuntum bunga matahari mekar
di dalam sukmanya.

hujan lalu reda
seutas cahaya dari langit menembus rumpun bambu
mata bening keke’ berkedip manis
dan dengan itu fajar pun dia ikat
agar abadi

Penapak Jalan Puitika Untuk Bertemu Kebenaran

Jalan hidup penyair Benni E. Matindas (lahir 1955 di Manado)—yang disebutnya sendiri sebagai perjalanan puitika—bisa dibagi dalam beberapa ruas. Ruas pertama berawal pada 1975, ditandai ketika ia yang sudah secara serius menulis puisi dan melukis sejak remaja ini mulai mempublikasikan puisi, cerpen dan esainya di media massa yang terbit di Jakarta, Manado, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Ruas ini hanya sepuluh tahun lebih, dimana ia menelorkan buku-buku puisi Tahlillahirillahi (Manado: Moraya, 1978), Tadah-Lidah (Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985), Hari Penentuan (antologi puisi bersama M.S. Hutagalung dan Shaut Hutabarat, Jakarta: Pena, 1986), kumpulan esai Trifacet Kesenian Daerah, Kesenian di Daerah, dan Daerah Kesenian (Manado: Moraya, 1979); sejumlah naskah drama, seperti Pulang-Pulang (1976), Sang Masingko & Amanat Yang Pasti (1978), Rasul Ditangkap Karena Sifilis (1978), Bumi Kita Kusta (oratorium, 1977), Mazmur Tempurung (opera, 1979). Sambil mengasuh kaligus delapan sanggar seni di kampung-kampung. Juga mengikuti pameran lukisan. Walau lukisannya selalu paling cepat habis terjual, namun kemudian ia hanya aktif menulis esai dalam katalog pameran buat mengulas karya teman-teman perupa.

Ruas kedua dimulai 1986. Di sini ia menulis hampir seribu artikel dan puluhan buku dengan tema dan disiplin bidang sangat beragam. Meliputi filsafat, sosial budaya, teologi, sejarah, ekonomi pembangunan, politik, hukum, sampai perburuhan dan lainnya. Buku-bukunya yang terbit antara lain: Paradigma Baru Politik Ekonomi (Jakarta: Bina Insani, 1998), Negarakertagama-Kimia Kerukunan (Jakarta: Bina Insani, 2002), Negara Sebenarnya (Jakarta: Widyaparamitha, 2005). “Semuanya tetap sebagai manifestasi puitika,” begitu ia menyifati karya-karyanya di masa itu. Masa dimana ia pun sering diminta mengajar filsafat pada sejumlah kelas program pasca-sarjana di Jakarta dan Jawa Barat.

Mengatakan karya ilmiah sebagai pewujudan puitika itu bukan sekadar mencari-cari pengabsahan. Tapi memang sejalan dengan konsepsi estetikanya yang sudah sering ia ekspos, menganterokan yang indah di dalam yang benar di dalam yang baik, pluchrum di dalam verum di dalam bonum, al-jamil di dalam al-haqq di dalam al-khair — “secara lebih radikal dari panyatuan oleh Al-Farabi, Thomas Aquinas, Kant, Dewey, maupun Susanne Langer.”

Tahun 2006 ia masuk dalam ruas perjalanan ketiga, jalan berbalik. Dimulai ketika mengasuh Sanggar Pædia — lembaga kajian dan publikasi pengembangan sistem pendidikan. Di samping kegiatan sanggar, ia banyak menulis esai dan makalah tentang kebudayaan, filsafat, termasuk estetika, etika, juga kritik sastra. Menulis sejumlah buku, antaranya Meruntuhkan Benteng Filsafat Atheisme Modern (Yogyakarta: Andi, 2010) dan Etika Seharusnya (manuskrip 2015). Juga menulis puisi.

Tentang kalimat dalam puisinya yang umumnya tak diawali dengan huruf kapital tapi selalu pasti diakhiri dengan titik, ia menjelaskan: “Sangat banyak hal dalam kehidupan ini yang terjadi bukan oleh keputusan kita atau kehendak kita. Kita bukan penyebab. Tetapi kita manusia memiliki kesanggupan, karena punya ruh, untuk membuat pengakhiran, atau sekadar notasi bermakna di akhir dari semua yang terjadi.”

Penulis : Iverdxon Tinungki

Barta1.Com
Tags: benny e matindaskayuuwi
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Pekerja Bidang Kelistrikan di Nusa Utara Ancam Mogok 1 Minggu

Pekerja Bidang Kelistrikan di Nusa Utara Ancam Mogok 1 Minggu

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Serap Aspirasi Masyarakat Boltim, Seska Ervina Budiman Siap Perjuangkan Berbagai Program Prioritas 4 Agustus 2026
  • Sinergitas Polres Bitung dan Forkopimda Hadapi Dampak El Nino, Utamakan Keselamatan Masyarakat 4 Agustus 2026
  • Reses Irene Pinontoan Perkuat Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Demi Pembangunan Kota Manado 4 Agustus 2026
  • Reses di Kawahang, Vionita Kuera Serap Aspirasi Warga Siau Barat Utara untuk Percepatan Pembangunan 4 Agustus 2026
  • Dosen dan Mahasiswa Polimdo Hadirkan Pompa Irigasi Berbasis PLTS untuk Petani Bolaang Mongondow 4 Agustus 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In