TSAI LUN, seorang kasim pada abad pertama di pemerintahan Dinasti Han, tak pernah mengira kertas yang dibuatnya dari merendam kulit kayu pohon Murbei, rami, kain bekas dan jala ikan hingga menjadi bubur, akan bersumbangsih pada gejala pemusnahan hutan global.
Di masa-masa selanjutnya kertas giat diproduksi sambil manusia terus menerus menerabas hutan. Sejak diciptakan sang inventor, kertas selama berabad-abad telah menjadi kebutuhan pokok umat manusia.
Produksi kertas menjadi semakin maju saat lelaki Prancis Nicolas Louis Robert pada 1799 mempatenkan mesin Fourdrinier yang bisa memproses kertas menjadi lembaran-lembaran dalam satu wire-screen yang bergerak. Kertas yang dihasilkan dari pulp atau olahan serat kulit pohon semakin berkualitas lewat jasa Friedrich Gottlob Keller, kemudian Charles Watt dan Hugh Burgess hingga kimiawan Amerika bernama Benjamin Chew Tilghman yang dianugerahi British Patent untuk proses sulfit. Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit ini bagus dan siap diputihkan.
Kulit pohon adalah bahan terbaik dan sulit digantikan dengan sintetis lainnya. Artinya setelah kertas menjadi kebutuhan pokok, para produsennya harus terus-menerus menggerus hutan untuk mendapatkan bahan baku. Hutan di Indonesia tidak luput dari kegiatan ini. data Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebut dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar di antaranya sudah habis ditebang —meski tentunya tidak semua pohon yang jadi korban berujung pada selembar bahan putih untuk menulis.
Padahal kawasan hutan tropis menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Data FAO 2010 tentang hutan dunia, termasuk di dalamnya hutan Indonesia, secara total menyimpan 289 gigaton karbon dan memegang peranan penting menjaga kestabilan iklim dunia.
Situs WWF menyebut, keanekaragaman hayati yang terkandung di hutan Indonesia meliputi 12 persen species mamalia dunia, 7,3 persen species reptil dan amfibi, serta 17 persen species burung dari seluruh dunia. Diyakini masih banyak lagi spesies yang belum teridentifikasi dan masih menjadi misteri tersembunyi di dalamnya. Sebuah contoh nyata misalnya, data WWF menunjukkan antara tahun 1994-2007 saja ditemukan lebih dari 400 spesies baru dalam dunia sains di hutan Pulau Kalimantan.
Kerusakan hutan di Indonesia, baik akibat penebangan maupun terbakar, diungkap Forest Watch Indonesia (FWI) bahwa pada 2009-2013 setiap menit kecepatan hilangnya seluas tiga lapangan sepak bola! Hutan Tanah Air menurut mereka tersisa kini 82 juta hektar. Masing-masing 19,4 juta hektar di Papua, 26,6 juta hektar di Kalimantan, 11,4 juta hektar di Sumatera, 8,9 juta hektar di Sulawesi, 4,3 juta hektar di Maluku, serta 1,1 juta hektar di Bali dan Nusa Tenggara.
Pulp ikut mengakomodasi rambah hutan ilegal di Indonesia maupun belantara dunia lain. Kegiatan pencurian kayu di Tanah Air diperkirakan telah mengambil 51 juta m3 kayu bulat per tahun. Pada 2002, industri perkayuan untuk kayu lapis, kayu gergajian dan pulp sebesar 63 juta m3 per tahun. Di era itu saja 80 persen konsumsi kayu bulat atau gelondongan di Indonesia sejatinya berasal dari kayu curian.
Setiap tahun diperkirakan lebih dari 10 juta m3 kayu bulat ukuran besar diselundupkan ke luar negeri. Penggerusan hutan terus terjadi, padahal kayu dan pohon adalah sumber daya yang lama diperbaharui. Giat penebangan hutan faktanya memicu berbagai jenis bencana alam, termasuk bencana ekologis.
Teknologi Kertas dari Lembah Silikon
Inovasi teknologi mendorong upaya pemecahan berbagai masalah, termasuk bagaimana menyelamatkan hutan dari konsumsi kertas. Ide mengganti kertas konvensional dengan kertas elektronik atau e-paper sudah dimulai setelah Gyricon ditemukan. E-paper pertama itu muncul dari Palo Alto, Lembah Silikon, yang menjadi pusat kegiatan IT dunia di Amerika.
Nick Sheridon pada 1970 membuat Gyricon dari bahan plastik dua sisi berisi jutaan bola bikromal. Bola-bola itu memiliki gelembung minyak akan berputar bebas dan menghasilkan tampilan hitam-putih yang bisa terbaca pada teks atau gambar. Nah, data itu nantinya diunduh ke kertas elektronik melalui koneksi nirkabel pada PC dan laptop atau telepon pintar.
Secara umum electronic paper merupakan teknologi portabel yang tampilannya mirip kertas biasa tapi bisa diakses ribuan kali. E-paper lebih nyaman digunakan dibanding kertas konvensional karena gambarnya lebih stabil dan tidak perlu di-refresh secara konstan. Angle-nya pun semakin luas.
Beberapa tahun terakhir e-paper digunakan pada aplikasi buku dan koran elektronik atau e-book dan e-newspaper. Saudaranya, aplikasi Word, Excel dan pdf sebagaimana besutan Microsoft pada komputer yang sering digunakan saat ini, semakin melengkapi fasilitas dan penggunaan kertas elektronik pada kerja berbagai bidang khususnya dalam pembuatan dokumen.
Era internet bahkan telah mengubah banyak budaya, termasuk salah satunya surat-menyurat. Dulu saling mengirim kabar dilakukan di atas selembar kertas yang dikirim lewat jasa pos. Namun saat kita melakukannya dengan surat elektronik atau e-mail. Ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, selama lokasi itu masih bisa dijangkau data internet.
Atau pengguna smartphone misalnya, tidak perlu menunggu loper setiap pagi untuk membaca koran, cukup dengan membuka aplikasinya dalam genggaman. E-paper adalah teknologi ramah lingkungan yang mulai menggeser peran media cetak konvensional, membuat ibu-ibu tidak perlu kerepotan menyimpan tumpukkan koran yang memenuhi lemari rumah. Memori internal pada PC dan laptop sudah cukup untuk menaruh unduhan koran elektronik dalam 1 inventori.
Ini juga seharusnya terjadi di kantor-kantor pemerintah. Kertas elektronik yang menawarkan banyak kemudahan masih belum khatam digunakan. Mindset pegawai kantoran malah merujukkan kerja pada penggunaan kertas biasa. Padahal tidak sebanding lurus dengan koneksi internet yang sudah jamak digunakan dalam gedung kantor plat merah.
E-paper juga lebih menekankan pada efisiensi jarak dan waktu. Pengiriman dokumen tak perlu lagi menggunakan jasa kurir ke tempat jauh maupun office boy antar-ruangan. Semuanya terpusat pada perangkat PC atau laptop yang terhubung pada 1 koneksi jaringan, dokumen bisa lebih cepat tiba pada sasaran penerima. Keterbatasan sumber daya nampak masih menjadi penghalang saat ini, namun bila segera bisa dibenahi, kantor pemerintah atau korporasi bisa melakukan penghematan tenaga.

E-Paper Untuk Smart City
Sejumlah daerah di Indonesia kini memasuki era smart city. Konsep itu menawarkan banyak kemudahan untuk membantu masyarakat, terutama menggunakan kecanggihan teknologi. Namun apakah daerah berkonsep smart city ikut memaksimalkan penggunaan e-paper dalam perwujudan pemerintahan memihak alam? Untuk yang satu ini, Ljubljana ibukota negara Slovenia bisa dijadikan contoh.
Demi menegaskan dirinya sebagai bagian dari kota hijau di Eropa, Ljubljana menggunakan e-paper secara langsung dalam pelayanan publik. Papan informasi di halte bus memampang jadwal perjalanan dan rute terpampang dengan perangkat berbasis kertas elektronik. Papan panelnya terus menerus berganti menunjukkan jadwal terkini yang bisa memandu penumpang bus maupun wisatawan.
Di Manado Sulawesi Utara sejak awal tahun ini pemerintah kota sudah menunjukkan niat kuat dengan model smart city. Praktisi teknologi lokal Hanny Sumakul mengamati kotanya secara bertahap menerapkan paperless government office. Dia memberi petunjuk bagi pemerintah dan swasta beberapa kiat mengurangi penggunaan kertas konvensional untuk digantikan dengan file berbasis komputasi.
“Menggunakan software atau alat digital lainnya untuk dokumen internal, misalnya file sharing dokumen menggunakan Dropbox via internet atau server sendiri,” kata Hanny.
Konsumsi kertas masuk bisa diminimalkan, lanjut dia, bila berbagai pihak menyepakati persyaratan dokumentasi yang dikirim adalah dalam bentuk file.
“Ini malah bisa terkirim lewat email saja, lantas disimpan dalam server,” terang dia. Juga back office arsip bisa menggunakan file digital. Semua dokumen yang dihasilkan tidak perlu dicetak atau print ke kertas. Jadikan saja file dan dibagikan kepada pihak ketiga lewat email atau via internet.
Melawan penebangan hutan dengan e-paper patut dijadikan visi pemerintah daerah yang menjalankan program smart city. Konsumsi kertas yang terus meningkat satu kilogram per kapita per tahun atau sekitar 220 ribu ton, menjadikan Indonesia butuh 1 pabrik kertas baru setiap tahun untuk memenuhi lahapnya konsumsi kertas dalam negeri.
Apalagi menurut Rainforest Information Center, sebanyak 10-17 pohon harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran atau 8 lembar ukuran kertas A4. Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekira 7.000 eksemplar koran. Sedangkan kapasitas produksi kertas dalam negeri mencakup kertas koran 750 ribu ton, kertas sackracft 0,4 juta ton, kertas bungkus 92 ribu ton, kertas sigaret 64 ribu ton, kertas tisu 312 ribu ton dan kertas berharga 13,5 ribu ton.
Di masa lalu, teknologi kertas konvensional mulai beredar ke seluruh dunia pasca-kekalahan Dinasti Tang pada Perang Talas. Prajurit Cina yang jadi tawanan mengajarkan cara membuat kertas pada orang-orang Arab di zaman Abbasiyah. Kertas telah memilih jalannya dalam peperangan untuk menyebar dan menjadi milik masyarakat dunia. Di masa kini, upaya memerangi penggundulan hutan justru harus dilakukan dengan mereduksi penggunaan kertas dari konsumsi primer. (*)
Penulis: Ady Putong


Discussion about this post