Manado, Barta1.com – Empat mahasiswa Teknik Elektro Politeknik Negeri Manado (Polimdo), yakni Injilia Tezalonika Budiman, Desi Steni Namangge, Yansen Gerral Adriano Marthen Kures, dan Yosua Surya Karun, di bawah bimbingan dosen I Gede Para Atmaja, ST., MT., berhasil menciptakan mesin pembuat pakan ternak yang terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga surya.

Inovasi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan para peternak, khususnya yang berada di Kecamatan Kalawat, Desa Kawangkoan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Dosen pembimbing, I Gede Para Atmaja, kepada Barta1.com, Kamis (10/09/2026), mengatakan mesin tersebut merupakan hasil karya mahasiswa yang berangkat dari kebutuhan nyata mitra di lapangan. Menurutnya, alat tersebut memiliki manfaat yang cukup besar bagi para peternak.

“Manfaat dari alat ini dimulai dari sebuah musim yang tidak menentu. Jadi, para petani ini banyak beralih mata pencaharian ke mata pencaharian yang juga bisa menghasilkan, seperti beternak, seperti ayam maupun bebek,” ungkapnya.
Menurut Gede, usaha peternakan ini membutuhkan ketersediaan bahan baku pakan yang dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti batang pisang, pepaya, ikan, jagung, dan konga.
Bahan-bahan tersebut kemudian dicampurkan dan diolah menggunakan mesin hingga menghasilkan butiran-butiran pelet yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
“Nah, tergantung juga dari jenis ternak. Misalnya ternaknya seperti bebek, bahan bakunya juga berbeda. Kalaupun ayam, kebanyakan itu menggunakan bahan dasar milu, konga dengan daun pepaya. Daun pepaya bagian dari mencegah unggas untuk tidak mendapatkan sakit. Semua diolah menggunakan alat pakan karya mahasiswa Elektro Polimdo, semuanya bisa menjadi pelet,” ujarnya.
Mampu Produksi 40 Kilogram Pelet per Jam.
Gede menjelaskan, mesin tersebut saat ini masih berada dalam tahap uji coba. Kendati demikian, alat tersebut sudah mampu membantu mitra dalam memproduksi pakan ternak.
“Alat ini masih dalam proses uji coba karena masih kecil, tapi sudah menghasilkan pelet. Kira-kira per jam itu menghasilkan 40 kilogram. Jadi, peternak yang awalnya hanya memberikan milu, kini bisa memberikan hasil campuran bahan baku hingga menjadi pelet,” ucapnya.
Tidak hanya membantu proses produksi pakan, mesin tersebut juga dirancang dengan mempertimbangkan efisiensi penggunaan energi. Gede mengatakan, sumber energi yang digunakan tidak lagi bergantung pada listrik PLN karena memanfaatkan tenaga surya.
“Kedua, energi yang digunakan alat ini sudah tidak menggunakan PLN, sehingga efisiensi pengurangan anggaran dalam operasional untuk pembuatan pelet makin berkurang. Yang ketiga, ramah lingkungan,” katanya.
Bagian dari Penelitian dan Skripsi Mahasiswa.
Ketika ditanya mengenai mahasiswa yang membuat alat tersebut, khususnya dari DIV Program Studi Teknik Listrik, Gede menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan bagian dari penelitian pada semester akhir sekaligus penyusunan skripsi mahasiswa.
“Ini bagian bentuk penyusunan skripsi yang memiliki mitra. Tapi pembuatannya, mereka berkelompok yang mampu membangun suatu kontrol yang berbasis SCADA. Jadi, semua energi listrik yang digunakan, rupa tegangan, arus, parameter listrik terus terbaca lewat SCADA. Begitu sistemnya,” tambahnya.
Menurut Gede, mesin tersebut memiliki sistem yang dapat bekerja secara otomatis menggunakan SCADA. Namun, pengoperasiannya juga dapat dilakukan secara manual.
Perawatan Mesin Relatif Mudah.
Dari sisi perawatan, Gede menyebut mesin tersebut tidak membutuhkan penanganan yang rumit. Salah satu hal utama yang perlu diperhatikan adalah kebersihan panel surya.
“Merawatnya tidak sulit, hanya membersihkan panelnya. Alatnya sudah aman. Semua hanya pada panel tersebut, serta bisa mengontrol energi yang masuk. Kalau terlihat energi berkurang dalam baterai, berarti indikasinya adalah panel surya sudah kotor,” kata dia.
“Selain itu, perawatan mesin juga perlu dilakukan secara rutin. Perawatannya cukup mudah, hanya dengan membersihkan bagian-bagian mesin. Setelah dibersihkan, mesin sudah dapat kembali digunakan,” imbuhnya.
Ia menambahkan, ke depan pihaknya berencana mengembangkan mesin tersebut dalam skala yang lebih besar serta memproduksinya dalam jumlah yang lebih banyak. Namun, pengembangan tersebut tentunya membutuhkan dukungan anggaran yang cukup besar.
“Kami berpikiran ke depannya akan membuat lebih besar lagi. Hanya saja, ketika berinovasi tentu membutuhkan anggaran, apalagi investasi di dalam lingkungan yang lebih besar. Namun, dari sisi kontinuitas dan efisiensi penggunaan operasional, jika digunakan dalam jangka panjang, tentu akan lebih menguntungkan,” kata dia.
Gede menjelaskan, penelitian sekaligus pembuatan alat tersebut merupakan hasil observasi terhadap kebutuhan para petani dan pengusaha unggas di lapangan. Kebutuhan tersebut kemudian menjadi dasar bagi Politeknik Negeri Manado untuk menghadirkan solusi teknologi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
“Penelitian atau alat ini dibuat tentunya hasil dari observasi bahwa petani maupun pengusaha unggas, apa yang mereka butuhkan, itu yang Politeknik Negeri Manado berikan dalam bentuk sentuhan kebutuhan teknologi,” terangnya.
Untuk saat ini, mitra yang memanfaatkan mesin tersebut baru satu pihak. Namun, Gede berharap ke depan semakin banyak mitra yang dapat menggunakan teknologi pembuat pelet berbasis tenaga surya tersebut.
“Mitra kali ini hanya satu. Kami berharap ke depannya akan lebih banyak mitra kita yang menggunakan alat pembuat pelet menggunakan tenaga surya ini,” harapnya.
Sementara itu, Rinaldi Mapalle selaku pengusaha ternak sekaligus mitra pengguna mesin tersebut mengaku sangat terbantu dengan alat yang diberikan oleh Politeknik Negeri Manado.
“Alat ini sangat membantu produksi pelet untuk makanan ternak dan juga bisa menambah waktu kerja karyawan. Sebelumnya, setelah selesai memberikan makan, karyawan sudah tidak ada pekerjaan lagi. Setelah ada alat ini, mereka memiliki sedikit waktu tambahan untuk membuat pelet sebagai pakan untuk keesokan harinya dan seterusnya,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post